Mencari Śūrabhaya (In Search of Śūrabhaya).

Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Kota Surabaya tidak tercipta sebesar dan seluas sekarang yang ukurannya mencapai 335 km2. Sekarang Surabaya berbentuk pemerintahan Kota. Dulu Surabaya adalah sebuah deça di tepian sungai yang menurut prasasti Canggu (1358 M) bernama Naditira Pradeça.(desa di tepian sungai).

Jika dikatakan berada di tepian sungai, lantas dimanakah lokasinya seperti halnya Boekoel (Bungkul) dan Gesang (Pagesangan), yang telah diketahui keberadaannya berdasarkan informasi peta peta kolonial..

Jika, dulu deça Śūrabhaya di tepian sungai (Kalimas), sekarang Kalimas berada di dalam wilayah Surabaya. Ini sebuah komparasi menarik sebagai upaya penelusuran sejarah Surabaya.

Lambang Surabaya ikan Hiu dan Buaya. Foto: ist

Sesungguhnya sejarah perkembangan alam Surabaya ini bermula dari kawasan delta sungai purba dan daerah pesisir muara. Wilayah ini mengalami perubahan bentang alam yang signifikan dari endapan lumpur sungai, perluasan daratan pantai, hingga menjadi kawasan perkotaan modern.

Fakta dulu Vs Fakta sekarang adalah nyata. Dulu deça. Sekarang Kota. Dulu kecil, sekarang besar dan luas. Adakah yang menelusuri fakta ini? Ini sejarah Surabaya. Apakah orang Surabaya sudah lupa dengan sejarah nya? Inikah amnesia sejarah?

Sejarah Surabaya tidak saja mengenai sejarah kolonial. Tetapi juga terkait dengan sejarah Majapahit, sejarah Mataram, dan sejarah Kemerdekaan, termasuk sejarah geologi alamnya.

 

Geologi Alam dan Era Klasik

Endapan Aluvium: Wilayah Surabaya terbentuk di atas dataran aluvium dan delta Sungai Brantas serta Kalimas.

Perkampungan Kuno: Jejak hunian di tepi Kalimas sudah ada sejak abad ke-9, jauh sebelum era kerajaan besar.

Pelabuhan Majapahit: Nama Śūrabhaya tercatat dalam Prasasti Canggu (1358 M) sebagai pelabuhan penting di muara sungai bagi Kerajaan Majapahit.

Kadipaten Surabaya: Menjadi pusat politik dan perdagangan yang kuat di pesisir utara Jawa setelah runtuhnya Majapahit.

Pengepungan Mataram: Sultan Agung dari Kesultanan Mataram menyerang dan menaklukkan Surabaya pada abad ke-17 melalui strategi pembendungan aliran sungai.

Kota Pahlawan: Peristiwa perobekan bendera di Hotel Majapahit dan pertempuran 10 November 1945 menjadikan Surabaya simbol perlawanan nasional.

Mencari Jejaknya: Kini Surabaya mencari jejaknya, Śūrabhaya, sebagaimana Bukul (Bungkul) dan Gesang (Pagesangan). Apakah Śūrabhaya itu Kampung Surabayan (berdasarkan toponimi) ataukah ciri geologi di tepian sungai dan hipotesis GH von Faber di kawasan Pengampon.

Kota Surabaya memang menyimpan potensi yang bisa dikembangkan sebagai warisan geologi. Salah satunya semburan gunung lumpur atau mud volcano di Gunung anyar.

Semburan lumpur Gunung Anyar terletak 100 meter di pinggir barat Jalan Soekarno, Kelurahan Gunung anyar Kota Surabaya pada koordinat 7,34 bujur barat dan 112,78 lintang utara.

Mud volcano Gunung Anyar di Surabaya ini diketahui sudah ada sejak zaman kolonial Belanda pada tahun 1888 atau bahkan lebih awal, dan terbentuk secara alami akibat aktivitas patahan geologi.

Atas fakta itu semua dibutuhkan sumbangsih dari Anda bila ada petunjuk petunjuk yang bisa dijadikan awal dan dasar pelacakan. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *