Dimanakah Deça Śūrabhaya?

Sejarah

RAJAPATNI.com: ŚŪRABHAYA – Berbekal peta terbitan era Kolonial Belanda tahun 1923, diketahui bahwa nama nama deça sebagaimana tersebut dalam prasasti Canggu (1358), khususnya yang masuk wilayah administratif Kota Surabaya sekarang adalah deça Boekoel dan Gesang.

Nama nama deça Naditira Pradeça itu adalah Boekoel (Bungkul) dan Gesang (Pagesangan). Sementara yang disebut Śūrabhaya di Utara Boekoel, masih misteri. Karena tidak ditemui adanya toponimi Surabaya, kecuali di kampung Surabayan di wilayah Tegal Sari. Nama kampung ini ada atau tertulis setelah tahun 1950 setelah Walikota Surabaya Doel Arnowo merubah sebuah nama nama yang berbau Belanda ke nama nama lokal.

Tegal Sari adalah nama lama tapi bukan Surabaya, yang sekarang menjadi Kampung Surabayan di kawasan Tegal Sari. Apakah Surabayan ini adalah nama Śūrabhaya sebagai Naditira Pradeça sebagaimana disebut dalam prasasti Canggu?

Nama Boekoel tertulis yang sekarang menjadi Bungkul. Foto: ist

Sesama Naditira Pradeça, nama nama seperti Gesang dan Boekoel tercatat (tertulis) pada beberapa peta, misalnya peta tahun 1923. Sementara Surabaya tidak tertulis pada peta di kawasan Tegal Sari.

Nama kampung Surabayan di Tegal Sari tidak tertulis. Foto: ist

Justru nama Surabaya ditulis dalam buku “Er Werd Een Stad Geboren” (Sebuah Kota Telah Lahir) karya GH von Faber tahun 1953. Surabaya 1275 menurut von Faber itu berada di kawasan Pengampon, Semut, Pandean Lor, Kalianyar dan Bunguran.

Nama Surabaya tahun 1275 menurut GH von Faber. Foto: ist

Itulah misterinya tentang lokasi Śūrabhaya. Berbeda dari Boekoel (Bungkul) dan Gesang (Pagesangan), yang dengan tegas tertulis pada peta peta keluaran Belanda.

Apakah Anda punya petunjuk? (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *