Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Kartu Aksara Jawa yang baru diluncurkan pada Kamis (23/7/26) di Taman Budaya Jawa Timur adalah upaya pemajuan aksara Jawa yang diharapkan bisa menjadi trigger pemasyarakatannya pengajaran Aksara Jawa di sekolah sekolah di Jawa Timur.
Pasalnya peluncuran itu diresmikan oleh Ketua Komisi E DPRD Jatim Sri Untari. Apalagi Sri Untari menyerahkan Kartu Aksara Jawa secara simbolis kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, yang selanjutnya diteruskan kepada SMA dan SMK se Jawa Timur.
Kartu sebagai media permainan ini harus ditindaklanjuti dengan cara pengajaran Aksara Jawa secara akademik dengan menggunakan Kartu Aksara Jawa ini. Pengajaran Aksara Jawa menjadi objek yang lebih penting dari permainan kartunya.
Setelah peluncuran hendaknya diikuti oleh petunjuk teknis pengajaran Aksara Jawa secara akademik dengan menggunakan sarana Kartu Aksara Jawa.
Dari pengamatan lapangan dari kartu itu ada pelajaran penulisan angka Angka ini menunjukkan jumlah gambar wajik (kotak), daun semanggi, daun waru dan hati.

Sebagai perbandingan dengan kartu Remi biasa, angka yang tertulis menunjukkan jumlah kotak, keriting, daun waru dan hati. Misalnya tertulis angka 7, berarti jumlah kotak atau daun semanggi adalah tujuh.
Bedanya angka dalam permainan Kartu Aksara Jawa ini bisa sampai angka 20 (sesuai jumlah aksara dasar (nglegena), yang berarti jumlah kotak atau daun semanggi berjumlah 20. Cuma angka angka itu ditulis dalam aksara Jawa. Jadi ada pembelajaran mengenal tentang angka angka dalam aksara Jawa.

Contoh bila angka 14, maka di.tulis ꧑꧔. Misal angka 7, maka ditulis ꧗ Jadi dalam kartu kartu itu ada penulisan angka: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19 dan 20.
꧋꧇꧑꧇꧈꧇꧒꧇꧈꧇꧓꧇꧈꧇꧔꧇꧈꧇꧕꧇꧈꧇꧖꧇꧈꧇꧗꧇꧈꧇꧘꧇꧈꧇꧙꧇꧈꧇꧑꧐꧇꧈꧇꧑꧑꧇꧈꧇꧑꧒꧇꧈꧇꧑꧓꧇꧈꧇꧑꧔꧇꧈꧇꧑꧕꧇꧈꧇꧑꧖꧇꧈꧇꧑꧗꧇꧈꧇꧑꧘꧇꧈꧇꧑꧙:꧈:ꦣꦤ꧀:꧈:꧒꧐꧇꧉
Selebihnya bahwa pada setiap kartu ada aksara ꦲ sampai ꦔ (20 Aksara), yang tertulis pada kelompok wajik (10), keriting (10), daun waru (10) dan hati (10). Total 80. Ditambah ada gambar punakawan Gareng, Petruk dan Bagong (4×3=12). Lantas ditambah gambar Semar hanya diambil berdasarkan warna merah dan hitam (2). Sehingga jumlah kartu ada 80+12+2= 94. Sementara kartu Remi biasa ada 52.
Angka 94 ini menggambarkan lobang pada organ manusia. Semuanya bermakna filosofis.
Sekarang yang perlu dipikirkan adalah bagaimana aplikasi pada pengajaran Aksara Jawa di Sekolah supaya anak didik bisa membaca dan menulis.
Membaca dan menulis adalah tujuan utama dalam pengajaran aksara Jawa untuk selanjutnya dapat melestarikan budaya, memahami naskah kuno, dan menguasai keterampilan berbahasa daerah.
Tujuan Pengajaran

Membaca: Peserta didik bisa mengubah lambang tulisan menjadi suara dan paham arti teks.
Menulis: Peserta didik bisa membuat bentuk huruf atau pasangan aksara dengan benar dan rapi.
Melestarikan Budaya: Menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.
Penggunaan Kartu Aksara Jawa hendaknya didampingi dengan tujuan tujuan akademik, seperti: agar siswa bisa Membaca, Menulis dan Melestarikan budaya.
Melalui Kartu Aksara Jawa ini minimal siswa diajak mengenali Aksara Tradisional dan Filosofi Jawa melalui metode bermain, Learning by doing/playing. (PAR/nng)
