Aksara Daerah seperti Aksara Jawa dan Kawi menyimpan Pesan Penting (rahasia).

Budaya, Aksara.

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Aksara Jawa dan Kawi bukan sekadar alat komunikasi masa lalu, melainkan warisan leluhur, yang diyakini menyimpan kekuatan spiritual, filosofi kehidupan, dan identitas budaya.

Tampilan aksara Jawa ini, /ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ/ sudah menunjukkan identitas bangsa Indonesia, seperti halnya Kanji /漢字/ untuk Jepang dan Hanzi /汉字/ untuk China.

Kedua aksara Nusantara ini (Jawa Kuna dan Jawa Baru) adalah sistem filosofis, yang merekam pandangan hidup, kosmologi, dan sejarah peradaban Hindu-Buddha di Nusantara.

Inskripsi di Candi Plaosan. Foto: ist

Filosofi Hidup Hanacaraka tersimpan di balik 20 aksara dasar Jawa (Carakan nglegena) yang menceritakan legenda kesetiaan dua utusan Aji Saka, sekaligus menjadi sandi moral (macapat) Ha Na Ca Ra Ka (Ada dua utusan yang setia), Da Ta Sa Wa La (Sama-sama bertengkar dan saling membunuh karena mempertahankan kebenaran versi masing-masing), Pa Da Ja Ya Nya (Sama-sama kuat dan menemui ajal) dan Ma Ga Ba Tha Nga (Dua mayat yang sama-sama menjadi saksi atas kekuatan sang pencipta).

Aksara dasar Jawa Nglegena. Foto: ist

Dalam sastra Jawa (seperti Suluk), baris aksara ini sering dikaitkan dengan rahasia kehidupan manusia, mulai dari penciptaan (dzat) hingga kembali kepada Sang Pencipta.

Aksara Kawi, yang digunakan sejak abad ke-8 hingga abad ke-16, adalah cikal bakal tidak hanya Aksara Jawa Modern, tetapi juga aksara tradisional Bali.

 

Belajar Adalah Kunci

Belajar munis aksara Jawa. Foto: dok

Mempelajarinya menjadi kunci untuk membaca prasasti dan Manuskrip yang merupakan peninggalan Kerajaan, khususnya Majapahit dan Medang.

Kedua aksara ini menjadi kunci untuk memahami kearifan masa lalu, yang diwariskan oleh peradaban Nusantara.

Jangan heran dan kecewa ketika masih banyak naskah naskah penting, yang masih tersimpan di mancanegara seperti The British Museum (UK) dan Leiden University (The Netherlands). Meskipun demikian, naskah-naskah ini tetap dipertahankan di sana karena berbagai alasan akademis, kelengkapan arsip, hingga kendala teknis dan logistik di pihak Indonesia.

Di negara negara itu ada epigrafer dan filolog, yang bisa membaca dan termasuk masih adanya dokumen dokumen penting yang mereka bisa membaca dan mengetahui isinya.

Keberadaan epigrafer dan filolog memang sangat vital. Mereka adalah garda terdepan dalam menjaga memori peradaban dengan membaca, menerjemahkan, dan menafsirkan dokumen atau prasasti kuno.

Sebetulnya Indonesia juga meiliki tenaga ahli serupa yang terwadahi dalam Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan; Laboratorium Filologi FIB UI dan Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI).

Membaca naskah kuno baik melalui manuskrip dan prasasti, sebetulnya tidak sekedar bisa membaca tetapi harus bisa menafsirkannya (ini memang wilayah ahli yang terverifikasi dalam penafsiran).

 

Berhak Ingin Tahu

Belajar aksara Jawa di Rumah Bahasa Surabaya .Foto: nng

Bukan hanya para ahli yang harus bisa baca, masyarakat umum juga punya hak untuk bisa membacanya karena aksara Jawa adalah kekayaan bangsa.

Perlu disadari bahwa Aksara Jawa adalah warisan budaya leluhur, yang berharga. Mempelajarinya kini jauh lebih mudah dan bisa diakses siapa saja, bukan hanya kalangan tertentu seperti para ahli dan akademisi. Tetapi pertanyaannya adalah maukah kita memajukannya, maukah pengambil kebijakan daerah memajukannya?

Pemajuan Aksara adalah tanggung jawab bersama, yang setidaknya meliputi unsur pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan media yang umum disebut unsur pentahelix. Apalagi aksara adalah identitas bangsa. Maukah pihak pihak itu mengakomodasinya sehingga menjadi langkah bersama dalam upaya pemajuan.

Pelestarian aksara Nusantara kini menjadi salah satu prioritas strategis pemerintah. Karenanya langkah konkret harus terus diakomodasi untuk menjadikannya sebagai memori visual dan identitas bangsa yang hidup di era modern.

 

Perda

Memang sejumlah pemerintah daerah telah mengadopsi dalam Perda (seperti Perda Bahasa, Sastra dan Aksara Daerah), yang mewajibkan penulisan aksara di fasilitas publik, dan menggiatkan muatan lokal, tapi masih ada daerah daerah yang belum mengadopsi dan bahkan terasa sulit masuk dalam Perda.

Padahal pemerintah Daerah itu berada di bumi Jawa dan mayoritas adalah etnis Jawa. Ini ironis.

Sebagai leluhur dari aksara Jawa modern maupun aksara Kawi yang keberadaannya banyak ditemukan pada prasasti dan naskah kuno era Majapahit, maka kemampuan membaca aksara ini diyakini bisa membuka tabir kebijaksanaan dan sejarah peradaban Nusantara.

Dalam budaya keraton Jawa, penulisan atau pembacaan aksara tertentu (seperti Aksara Murda atau sandhangan) sering dikaitkan dengan olah rasa, penyembuhan, dan perlindungan diri.

Banyak pegiat budaya saat ini terus berupaya melestarikannya agar nilai luhur tersebut tidak punah. Di area Surabaya misalnya, Anda bahkan bisa menemukan koleksi manuskrip kuno dan artefak yang memuat aksara ini. Contohnya di Museum Pendidikan Surabaya. Apakah sekedar pajangan?

 

Ironis

Manuskrip kuno dan artefak beraksara di Museum Pendidikan Surabaya sesungguhnya dan seharusnya tidak hanya sekedar pajangan pasif. Koleksi ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana edukasi hidup yang digunakan dalam kegiatan seperti lokakarya membaca aksara, kegiatan belajar membaca dan menulis aksara, studi sejarah, dan preservasi budaya agar warisan literasi Nusantara tetap dipelajari. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *