Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia memang singkat (6-8 Juli) dan ditutup dengan kunjungan langsung ke Candi Prambanan, yang menjadi proyek restorasi warisan budaya bersama.
Hasil paling penting dari kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Candi Prambanan (didampingi Presiden Prabowo Subianto) ini adalah disepakatinya kerja sama bilateral untuk konservasi dan restorasi kompleks Candi Prambanan.
Adapun fokus utama dari kerja sama ini adalah memugar lebih dari 200 candi pendamping (candi perwara), yang berada di kompleks candi Prambanan dengan menggunakan pendekatan ilmiah seperti kecerdasan buatan (AI) dan penelitian arkeologi.
Perkuat Ikatan Sejarah & Spiritual
Langkah ini untuk memperkuat ikatan sejarah dan spiritual antara Indonesia dan India, yang telah terjalin selama lebih dari 1.200 tahun, serta diproyeksikan untuk menarik lebih banyak wisatawan India ke Indonesia.
Kemitraan warisan kolaboratif ini menjadi simbol persahabatan, yang kuat dan komitmen bersama dalam merawat warisan budaya dunia.
Aksara Jawa
Aksara Jawa, yang memiliki akar dari aksara Brahmi melalui turunan Aksara Pallawa, yang masuk ke Nusantara juga menjadi perhatian India. Sebelum menjadi aksara Jawa (baru/hanacaraka), sebelumnya berbentuk Aksara Jawa Kuno atau Kawi, yang merupakan bentuk adaptif dari aksara Pallawa.
Aksara Jawa baru (Hanacaraka/Carakan) adalah sistem penulisan di Nusantara, yang berevolusi dari Aksara Pallawa asal India Selatan, yang kemudian diadaptasi menjadi Aksara Kawi atau Aksara Jawa Kuna sekitar abad ke-8 hingga ke-16.
Candi Prambanan, yang menjadi kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi, dibangun pada pertengahan abad ke-9 (sekitar tahun 850 Masehi). Menurut Prasasti Siwagrha, pembangunan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia ini diprakarsai oleh Raja Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Kuno dan kemudian diperluas oleh Raja Balitung Maha Sambu.
Simbol Penyatuan Perbedaan (Toleransi)
Sementara Candi Plaosan juga dibangun pada abad ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Kompleks ini berkaitan erat dengan Candi Prambanan karena keduanya merupakan simbol penyatuan dua dinasti besar (Sanjaya dan Syailendra).
Plaosan dipersembahkan oleh Raja Rakai Pikatan dan permaisurinya, Sri Kahulunan (Pramodhawardhani), sebagai lambang toleransi dan cinta kasih karena menyatukan keyakinan Hindu dan Buddha.
Plaosan adalah lambang toleransi dan gotong royong yang keberadaannya dapat dilihat melalui Inskripsi, yang tertera pada candi candi Perwara dan karenanya disebut Prasasti Perwara.
Prasasti Perwara
Singkatnya, Prasasti Perwara adalah kumpulan inskripsi pendek pada candi-candi perwara yang menjadi bukti otentik tingginya semangat gotong royong dan toleransi pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Inskripsi ini umumnya diawali dengan kata anumoda (tanda terima kasih atau restu) yang diikuti dengan nama pejabat, tokoh masyarakat, hingga kelompok warga dari berbagai wilayah, yang menyumbangkan dana atau bergotong royong untuk mensponsori pembangunan candi.
Candi Plaosan merupakan bangunan bercorak Buddha, yang dibangun atas prakarsa Rakai Pikatan, raja beragama Hindu dari Dinasti Sanjaya. Hal ini adalah hadiah cinta untuk permaisurinya, Pramodhawardhani, yang beragama Buddha dari Dinasti Syailendra.
Pemajuan Kebudayaan
Kedatangan Perdana Menteri India dalam kolaborasi renovasi candi Prambanan adalah bentuk pemajuan hubungan bilateral yang telah terjalin lebih dari seribu tahun.
Melalui makna dari Inskripsi beraksara Jawa Kuno (Kawi), yang sekilas masih tampak pengaruh Pallawa ini, menjadi perhatian pihak India. Generasi terkin,i sebagai bentuk evolusi aksara Jawa Kuno (Kawi), adalah Aksara Jawa (baru/hanacaraka).
Semoga ada keberlanjutan dalam kolaborasi pemajuan aksara Jawa dan bahasa Sansekerta di Indonesia. (PAR/nng)
