Buku ŚŪRABHAYA untuk PM India Narendra Modi dan Dubes India Shri Sandeep Chakravorty.

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Melalui buku ŚŪRABHAYA, Berani Menghadapi Bahaya, komunitas budaya Puri Aksara Rajapatni akan perkenalkan Aksara Jawa ke India. Buku, yang bercerita tentang pemaknaan Śūrabhaya berdasarkan bahasa Sansekerta ini, akan diserahkan kepada Perdana Menteri India Narendra Modi melalui Duta Besar India untuk Indonesia Shri Sandeep Chakravorty pada Jumat (3/6/26).

Perdana Menteri India Narendra Modi. Foto: courtesy bbc

Tanggal 3 Juli 2026 adalah momen Press Briefing Rencana Kunjungan PM India Narendra Modi ke Indonesia, yang digelar secara hybrid. Di Jakarta akan berlangsung di Wayang Auditorium, Gama Tower Lt. 27, Jl. H.R. Rasuna Said Kav.C22 Kuningan Jakarta. Sementara di Surabaya akan bertempat di Babatan Pratama, Wiyung, Surabaya dengan cara Teleconference dan Konsul Kehormatan India, Manoj Bhat, yang mewakili untuk serah terima buku ŚŪRABHAYA.

Buku ini mengandung ikatan pemahaman budaya tentang makna kata ŚŪRABHAYA, yang ditulis dalam aksara Jawa Kunio dan bermakna berdasarkan bahasa Sansekerta. Sementara Bahasa Sansekerta sendiri bukanlah bahasa, yang asing bagi Indonesia.

Frasa “Tan Hana Dharma Mangrwa”, yang frasa lengkapnya berasal dari “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” adalah Bahasa Sansekerta yang menjadi semboyan bangsa Indonesia. Kalimat ini merupakan bagian dari bait yang lebih panjang dalam kitab Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14, di masa Kerajaan Majapahit.

Kitab Sutasoma. Foto: ist

Berangkat dari latar belakang sejarah inilah, ada upaya pemajuan yang dapat mempererat dan memperkuat hubungan bilateral Indonesia – India.

Dalam buku ini terdapat catatan pendek dalam aksara Jawa yang tertulis sbb;

 

ꦯꦹꦫꦨꦪ

 

ꦏꦼꦏꦂꦧꦼꦫꦺꦴꦠꦺꦴꦠ꧀ꦏꦮꦠ꧀ꦧꦼꦂꦠꦸꦭꦁꦧꦼꦱꦶ꧈

ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦸꦭꦁꦠꦶꦁꦒꦶꦩꦼꦁꦒꦥꦻꦭꦔꦶꦠ꧀꧈

꧋ꦧꦼꦫꦺꦴꦠꦏ꧀ꦩꦼꦱꦶꦤ꧀ꦧꦼꦂꦲꦶꦪꦱ꧀ꦏꦤ꧀ꦄꦂꦠꦶꦥ꦳ꦶꦕꦶꦪꦭ꧀ꦆꦤ꧀ꦠꦺꦭ꧀ꦭꦶꦒꦺꦤ꧀꧉

ꦆꦠꦸꦭꦃꦯꦹꦫꦨꦪꦣꦶꦌꦫꦩꦺꦴꦣꦺꦂꦤꦶꦱꦱꦶ꧉

 

꧋ꦣꦸꦭꦸ꧈ꦧꦼꦂꦩꦸꦭꦣꦫꦶꦣꦺꦱꦣꦶꦥꦶꦁꦒꦶꦫꦤ꧀ꦏꦭꦶ꧈

ꦣꦼꦔꦤ꧀ꦮꦂꦒꦚ꧈ꦪꦁꦧꦻꦏ꧀ꦲꦠꦶ꧈

ꦱꦶꦪꦥ꧀ꦩꦼꦭꦪꦤꦶꦠꦤ꧀ꦥꦥꦩꦿꦶꦃ꧉

꧋ꦲꦶꦁꦒꦣꦶꦏꦼꦤꦁꦎꦭꦺꦃꦱꦁꦥꦿꦨꦸꦩꦼꦭꦭꦸꦮꦶꦥꦿꦱꦱ꧀ꦠꦶ꧉

 

ꦥꦣꦭꦺꦩ꧀ꦥꦺꦁꦥꦿꦱꦱ꧀ꦠꦶꦆꦠꦸꦭꦃ꧈

ꦗꦠꦶꦣꦶꦫꦶꦯꦹꦫꦨꦲꦪꦠꦼꦭꦃꦠꦼꦂꦥꦠꦿꦶ꧉

ꦄꦣꦫꦱꦏꦸꦮꦠ꧀ꦱꦼꦧꦒꦻꦗꦠꦶꦣꦶꦫꦶ

꧋ꦣꦼꦔꦤ꧀ꦱꦼꦩꦔꦠ꧀ꦧꦼꦫꦤꦶꦲꦣꦥꦶꦧꦲꦪꦲꦶꦁꦒꦫꦺꦭꦩꦠꦶ꧉

Powered by salin saja.

Transliterasi:

Śūrabhaya 

Kekar berotot kawat, bertulang besi, Menjulang tinggi menggapai langit. Berotak mesin, berhiaskan Artificial Intelligence. Itulah Surabaya di era modernisasi.

Dulu, bermula dari desa di pinggiran kali, Dengan warganya, yang baik hati, Siap melayani tanpa pamrih. Hingga dikenang oleh Sang Prabu melalui prasasti.

Pada lempeng prasasti itulah, Jati diri Śūrabhaya telah terpatri. Ada rasa kuat sebagai jati diri. Dengan semangat berani hadapi bahaya hingga rela mati

Buku Śūrabhaya. Foto: par

Buku ŚŪRABHAYA, Berani Menghadapi Bahaya adalah karya Diplomasi budaya untuk kedua negara: Indonesia – India, dari Surabaya. (PAR)nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *