Menghampirimu Sang Margabhaya

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Anak kecil centil itu melesat cepat menerobos gulita di antara hamparan sawah dan segara utara. Bayu malam pun menerpa kencang membasuh wajah sayunya, yang bersamaan dihempas butiran embun malam. Di balik kaca kereta malam cepat kulihat wajahnya dalam gelap, yang berpadu dengan pantulan lentera dari kaca kereta. Rambutnya terbang seolah mengejar laju kereta.

Melesat. Foto: nng

Ya, aku memang di dalam kereta menuju ibu kota. Di sana kucari jejak masa dalam cerita. Si centil jelita itu tak kuasa merasa kuberlari sendiri. Ku dituntunnya sambil menyibak angin dan menembus gulita. Di kejauhan terlihat lentera lentera kecil tergantung pada gubug gubug padesan. Sunyi sepi.

Museum Nasional Indonesia. Foto: nng

Mereka jadi saksi betapa asa ini kan datang menghampiri rumah loji, yang jadi kumpulan prasasti. Di antara ratusan catatan peradaban, yang tertera pada batu dan lempeng lempeng tembaga di sana, ada satu yang ingin kuhampiri, yang selama ini telah lama menanti.

Prasasti Canggu. Sumber: museum nasional Indonesia

Di sana ada cerita sang Panji Margabhaya. Sosok penghuni Naditira Pradesa Śūrabhaya. Catatan prabu Maharaja Wilwatikta itu akan menjadi lebih bermakna bila tepat di tangan si empunya. Sudah ratusan tahun keberadaannya berkelana. Selama ini hanya cukup dikenang di luar kepala, yang kini adanya malah di ibu kota negara.

Tulisan Śūrabhaya pada prasasti Canggu. Sumber: museumnasionalindinesia

Tidaklah mudah membawamu bertempat lagi di naditira pradesa. Kau telah menjadi milik negara, bukanlah lagi sekedar desa meski kau mengabadikan nama nama Naditira Pradesa.

Biarlah si cantik jelita nan lincah itu itu turut berkelana menjengukmu di sana bersama lainnya, para perekam masa. Ia rela melihatmu disana bersama duniamu. Maklum Naditira Pradesa itu telah menjelma menjadi kota, rumah bagi belantara pencakar udara. Bukan lagi flora fauna di masa mu berada.

Biarlah kami datang menghampirimu untuk menangkap dua rupamu, yang bercerita tentang Naditira Pradesa. Biarlah kami puas dengan rupamu sebagai ganti sosokmu untuk Naditira Pradesa Śūrabhaya, yang telah menjelma menjadi kota Surabaya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *