Budaya, Sejarah
Rakapatni.com: SURABAYA – Mengenali akar sejarah surabaya ini penting. Mengapa?
Mengenali akar sejarah Surabaya sangat krusial karena membentuk identitas “Kota Pahlawan”. Sejarah menanamkan nilai keberanian dan gotong royong, menjadi fondasi pusat perdagangan maritim sejak era Kerajaan Majapahit, serta menjadi kunci memahami bagaimana kota ini berkembang menjadi metropol terbesar kedua di Indonesia.
Kota Pahlawan, Kota Pemberani adalah kunci. Dari mana makna pahlawan dan berani itu didapat?
Secara otentik dan historis, jawabannya ada pada prasasti Canggu (1358 M).

Berikut adalah kutipan dari literasi Jayapangus Press, Volume 7 Nomor 3 (2024).
Isi Prasasti Canggu Prasasti Canggu merupakan prasasti yang berasal dari masa Kerajaan Majapahit yang mempunyai sebutan lain yaitu Prasasti Trowulan I.
Prasasti Canggu merupakan prasasti yang berwujud sebuah lempengan tembaga yang mempunyai ukuran 36,5 cm x 10,5 cm, yang berangka tahun ± abad ke-14 Masehi (1350 Masehi), serta pada setiap sisinya, sisi 54a dan sisi 54b, bertuliskan bahasa dan aksara Jawa Kuna.
Prasasti Canggu ditemukan di Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (Museum Nasional, 1985). Lokasi dari Canggu adalah berada di timur laut Kota Mojokerto (sekarang), tepi Sungai Brantas (Inajati, 2014). Saat ini, Prasasti Canggu berada di Museum Nasional dengan nomor inventaris E. 54. Prasasti Canggu ini dicetuskan oleh Raja Hayam Wuruk.
Prasasti Canggu berisikan mengenai tata aturan yang mengatur tentang segala aktivitas penyeberangan dan pelabuhan (Inajati, 2014). Hal ini menggambarkan bahwasannya sungai menjadi jalur segala aktivitas baik pada bidang ekonomi, sosial, hingga pada bidang keagamaan. Dalam prasasti, disebutkan sejumlah 33 desa penyeberangan di sisi Sungai Bengawan Solo dan sejumlah 44 desa di sisi Sungai Brantas, dan disertakan pula nama pelabuhan yang berkembang pesat yaitu Canggu, Bubat, dan Terung (Hutama dalam (Rangkuti, 2005).
Berikut alih aksara dari lempeng sisi 54a sesuai urutan baris:

1. nuṣa. i tĕmon. i parajēṅan. I pakaṭekan. i wuŋlu. i rabut ri. I bañu mṛdu. i gocor. i tambak i pujut.
2. i mireŋ. Iŋ dmak. i kluŋ. i pagḍaṅan. i mabuwur. i bowoŋ. i rumasan. i caṅgu. i raṇḍu gowok. i wahas. i nagara.
3. i sarba. i wariṅin pitu. i lagada. i pamotan. i tulaṅan. i panumbaṅan. i jruk. i truŋ. i kambaŋ Śrī. i tḍa. i gsaŋ.
4. i bukul. i śūrabaya. muwaḥ prakāraniŋ naditīera pradeśa sthānaniṅ anāmbaṅi.
5. i sambo. i jerebeŋ. i pabulaṅan. i balawi. i lumayu, i katapaŋ, i pagaran, i kamuḍi. i parijik. i paruŋ, i pasiwuran, ikēḍal. i bhaŋkal. i wiḍaŋ. i pakbohan. i lowara. i ḍuri. i rāśi. i rewun. i tgalan. i ḍalaṅara. I “
Terjemahannya:
[1.Nusa, di desa Temon, di desa Parajengan, di desa Paka?ekan, di desa Wunglu, di desa Rabut Ri, di desa Bañu M?du, di desa Gocor, di desa Tambak, di desa Pujut,
2. di desa Mireng, di desa Dmak, di desa Kling, di desa Pag?angan, di desa Mabuwur, di desa Bowong, di desa Rumasan, di desa Ca?gu, di desa Ra??u Gowok, di desa Wahas, di desa Nagara,
3. di desa Sarba, di desa Waringin pitu, di desa Lagada, di desa Pamotan, di desa Tulangan, di desa Panumbangan, di desa Jruk, di desa Trung, di desa Kambang Sri, di desa T?a, di desa Gsang,
4. di desa Bukul, di desa Surabhaya, dan semua desa-desa ditepi sungai tempat perahu penyeberangan tambangan,
5. di desa Samba, di desa Jerebe?, di desa Pabulangan, di desa Balawi, di desa Lumayu, di desa Katapang, di desa Pagaran, di desa Kamu?i, di desa Parijik, di desa Parung, di desa Pasiwuran, di desa Ke?al, di desa Bangkal, di desa Wi?ang, di desa Pakbohan, di desa Lowara, di desa ?uri, di desa Rasi, di desa Rewun, di desa Tgalan, di desa ?alangara]]
Disebutkan dalam Prasasti Canggu bahwa terdapat beberapa nama-nama tempat penyeberangan atau pelabuhan yang tercatat dalam Prasasti Canggu yaitu salah satunya “.i sarba. i wariṅin pitu. i lagada. i pamotan. i tulaṅan. …” yang dapat dialih bahasakan atau diartikan menjadi “Desa Serbo, Desa Wiringinpitu, Desa Lagada, Desa Pamotan, Desa Tulanan, …”, yang mana hal ini juga tertulis dalam Prasasti Kamalagyan (angka tahun 1037) yang menjelaskan terkait lancarnya jalur mobilitas transportasi antar pelabuhan.
Sebaran dari desa penyeberangan atau pelabuhan ini membuktikan bahwa posisi vital sungai sebagai sarana transportasi serta jalur perdagangan yang saling menghubungkan baik dari hulu ke hilir (Inajati, 2014).
Dari sanalah makna berani dari kata Surabaya didapat, yang selanjutnya bertransformasi menjadi kota Pahlawan yang didasari oleh adanya nilai kejuangan (berani).
Karenanya sejarah Nilai Berani dan Kejuangan menjadi dasar diusulkannya Raperda Inisiatif Dewan yang berjudul Raperda Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kejuangan serta kepahlawanan Surabaya.
Śūrabhaya adalah berani sebagaimana tertulis dalam aksara Jawa Kuno pada prasasti Canggu. Berdasarkan pertimbangan itu, maka aksara sebagai alat Komunikasi tradisional menjadi dasar usulan Raperda tersebut. (PAR/nng)
