Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Di bulan Juli ada momen penting bagi Surabaya. Momen itu menandai diketahuinya nama Śūrabhaya, yang kemudian menjadi nama kota Surabaya. Nama Śūrabhaya itu diketahui tertulis pada prasasti Canggu, yang dikeluarkan oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk pada 7 Juli 1358 M.
Lantas, penghormatan apa untuk menandai tanggal bersejarah itu? Kita warga kota tidak bakal memiliki nama Surabaya jika nama itu tidak diabadikan pada prasasti tersebut.
Apa segenap masyarakat kota, yang berjuluk kota Pahlawan ini, lupa, melupakan atau memang tidak tahu tentang sejarah itu?

Tanggal 7 Juli 1358 adalah satu dari empat penanggalan penting (alternatif), yang diajukan untuk mencari Hari Jadi Kota Surabaya yang bersifat local genius pada kurun waktu 1973-1975. Sebelumnya Hari Jadi Surabaya pada 1 April 1906 berdasarkan desentralisasi dari pusat Batavia. Lalu dari pencarian Hari Jadi yang baru, ditentukanlah 31 Mei 1293.
Namun yang dipilih kala itu adalah 31 Mei karena lebih ke pertimbangan teknis perayaan. Bulan Mei dianggap tidak berhimpitan dengan bulan bulan perayaan yang menyedot anggaran.
Bulan Mei berjarak empat bulan dari Januari sebagai Tahun Baru. Mei juga berjarak 3 bulan dari bulan Agustus sebagai perayaan Hari Kemerdekaan. Agustus juga berjarak 3 bulan dari bulan November sebagai perayaan Hari Pahlawan.
Jadi perayaan hari penting dan besar di Surabaya itu akhirnya jatuh pada Januari – Mei – Agustus – November.
Jika bulan Juli dipilih, bulan ini dianggap berdekatan dengan Agustus. Sehingga bulan Mei dihindari. Padahal bulan Mei memiliki kedekatan dan keotentikan sejarah dengan Surabaya.
Sejarah Surabaya berdasarkan prasasti Canggu yang diresmikan pada 7 Juli 1358 sesungguhnya memiliki sejarah:
1) asal nama Surabaya
2) sejarah peradaban (teknologi transportasi tradisional air)
3) sejarah sosial, budaya, keagamaan dan kemanusiaan.
4) sejarah pertahanan (adanya komunitas jawara dalam mempertahankan wilayah dari ancaman perompak: GH von Faber). Ini simbol kepahlawanan dari aksi kejuangan rakyatnya.
5). sejarah sifat berani yang secara faktual tercermin sebagai orang orang jawara dan secara tekstual berangkat dari makna Śūrabhaya (berani menghadapi bahaya).
Dari paparan di atas, sesungguhnya Prasasti Canggu memiliki nilai yang dalam dalam sejarah Surabaya. Sayang peristiwa yang terwakili dengan narasi di prasasti Canggu itu terlalu terlupakan. Padahal nama kota ini berasal dari data prasasti itu, Śūrabhaya.

Dalam upaya mengenang peristiwa ditulisnya nama Śūrabhaya oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk, komunitas Puri Aksara Rajapatni secara mandiri akan menerbitkan memorabilia berupa buku, yang berjudul Śūrabhaya. Buku ini untuk menandai sejarah otentik Surabaya, sebagaimana tertulis di era kerajaan Majapahit di abad 14. Bahkan prasastinya masih tersimpan baik di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. (PAR/nng)
