Hakekat Orang Jawa Indonesia Tulen.

Budaya, Filosofi, aksara jawa

Rajapatni.com: SURABAYA – Mata hati melihat semua. Dengan kata lain mata hati adalah kemampuan batiniah untuk melihat kebenaran hakiki, melampaui apa yang tampak oleh mata kepala. Ia tembus pandang, melihat dari berbagai sudut, dan menangkap hikmah mendalam, seringkali dianggap memiliki kemampuan lebih besar dalam mengenali kebenaran.

Mata hati itu halus. Mata hati hakikatnya adalah kemampuan batiniah yang halus untuk memahami hakikat, menyelami makna terdalam, dan merasakan emosi yang tidak terlihat oleh mata fisik. Ia berfungsi sebagai cermin internal untuk introspeksi diri, membedakan kebenaran, dan merasakan ketulusan.

Namun tidak semua orang memiliki mata hati. Bahwa mata hati seringkali tertutup oleh kelalaian atau dosa, sehingga meskipun secara fisik memiliki hati, tidak semua orang mampu menggunakannya untuk melihat kebenaran. Mata hati sejatinya adalah kemampuan spiritual untuk menyelami makna terdalam, bukan sekadar melihat penampilan luar.

Penampilan luar bisa mengecoh. Pesan ini mengingatkan kita bahwa apa yang terlihat di permukaan sering kali tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya. Apalagi sekarang ada teknologi AI.

Aksara Jawa dilihat mahasiswa Xian University di Tiongkok. Foto: IS

Kemajuan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) memang telah membawa ungkapan “penampilan luar bisa mengecoh” ke tingkat yang sama sekali baru, di mana realitas fisik dan digital semakin sulit dibedakan.

Aksara Jawa (Hanacaraka) memang jauh lebih dalam daripada sekadar rangkaian huruf, simbol estetika, atau karya seni visual. Ia merupakan sistem kodifikasi filosofis, spiritual, dan etika kehidupan yang diwariskan oleh leluhur Jawa untuk memaknai eksistensi manusia.

Karenanya aksara Jawa jangan dilihat secara fisik tapi pesan dibalik itu. Aksara Jawa adalah sebuah pasemon (sandi/kiasan) mendalam mengenai kehidupan, ketuhanan, dan moralitas manusia Jawa.

Filolog asal Yogyakarta Setya Amrih Prasaja dalam sebuah cerita informal pernah mengatakan bahwa secara filosofis, aksara Jawa memuat ajaran /ꦱꦁꦏꦤ꧀ꦥꦫꦤꦶꦁꦣꦸꦩꦣꦶ/ “Sangkan Paraning Dumadi” (asal dan tujuan hidup) dan keseimbangan antara jasmani dan rohani.

Aksara Jawa dalam penulisan buku. Foto: dok par.

Mengenal aksara Jawa adalah mengenal budaya Jawa, langkah fundamental untuk memahami filosofi, sejarah, dan identitas budaya Jawa. Mengenal aksara Jawa (Hanacaraka) secara fisik, baik bentuk, struktur, maupun guratan-guratannya, adalah pintu gerbang pertama yang baik untuk menyelami kedalaman budaya dan filosofi Jawa.

Seberapa banyak orang masa kini bisa mengenal aksara Jawa dengan mendalam sebagai identitas bangsa. Meskipun ada lebih dari 70-80 juta penutur bahasa Jawa, pengetahuan mendalam mengenai aksara Jawa, yang mencakup kemampuan membaca, menulis, dan memahami filosofi, masih terbatas pada persentase kecil populasi, kurang dari 1% menurut estimasi VOA Indonesia.

Namun, kesadaran akan aksara Jawa sebagai identitas bangsa tetap tinggi, dengan upaya pelestarian yang pesat melalui digitalisasi. Dalam kehidupan modern, hakekat orang Jawa bertransformasi menjadi identitas yang fleksibel, di mana mereka tetap memegang teguh akar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa, sembari beradaptasi dengan perkembangan zaman dan keyakinan agama.(PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *