Arab di Nusantara 

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Terdapat aksara Arab, yang ditulis untuk bahasa Melayu (Jawi) dan bahasa lokal Jawa, Sunda dan Madura (Pegon). Diperkirakan Aksara Arab yang kemudian dipengaruhi budaya lokal dan menjadi sebutan Jawi dan Pegon ini tidak lepas dari masuknya saudagar asal Arab ke Nusantara melalui Sumatra.

Karena dalam catatan sejarah menyebutkan adanya perkampungan Arab di pesisir pantai Sumatra (Barus) pada masa awal Islam. Bangsa Arab diperkirakan mulai masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi (abad ke-1 Hijriyah). Berdasarkan teori Arab (teori Makkah), para pedagang Muslim dari Arab berlayar melalui jalur perdagangan laut internasional dan singgah di Sumatra sekitar tahun 625 M atau 651 M, yang menandai awal penyebaran Islam.

 

Barus, Pemukiman Islam Tertua di Nusantara

Koin beraksara Arab di Samudra Pasai. Foto: ist

Dalam catatan sejarah itu menyebutkan adanya perkampungan Arab di pesisir pantai Sumatra (Barus) pada masa awal Islam. Awalnya adalah para pedagang Arab, yang datang menggunakan jalur laut, lalu singgah di Sumatra, dan menyebarkan Islam melalui perdagangan, pernikahan, dan dakwah.

Perkampungan Arab di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, diyakini sebagai pemukiman Islam tertua di Nusantara, yang sudah ada sejak abad ke-7 Masehi. Kota bandar kuno ini menjadi pusat kedatangan pedagang dan ulama Arab untuk menyebarkan Islam dan ini diperkuat dengan bukti situs sejarah makam tua seperti Makam Mahligai dan Makam Papan Tinggi.

Pemakaman Mahligai di Barus diperkirakan ditemukan pada abad ke-6 Masehi. Di komplek pemakaman ini terdapat tokoh-tokoh yang dimakamkan seperti Syekh Rukunuddin. Tuanku Mahligai, Syech Siddik, Imam Syekh Khatib, Syekh Zainal Abidin alias Syeh Samsuddin. dll. Salah satu makam pada nisannya bertuliskan tanggal 48 hijriyah atau 661 Masehi atau sekitar abad ke-6 masehi.

Barus merupakan pelabuhan internasional tertua, yang menjadi pusat perdagangan kapur barus dan rempah-rempah. Para pedagang Arab dari Hadramaut berlayar ke Nusantara menggunakan kapal besar, memanfaatkan angin musim, dan berlabuh di Barus.

 

Rute ke Palembang

Setelah dari Barus, para pedagang Arab berlayar menyusuri pesisir timur Sumatera atau melalui Selat Malaka menuju selatan, menuju bandar-bandar perdagangan di Sumatera bagian selatan, salah satunya Palembang.

Koin di Palembang. Foto: ist

Di Palembang, para pedagang Arab tidak hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan agama Islam. Mereka berinteraksi dengan masyarakat lokal dan Sultan Palembang.

Sebagai pusat komunitas, para pedagang Arab ini menetap di daerah yang kini dikenal sebagai Kampung Arab Al-Munawar di 13 Ulu, Palembang, yang terletak di tepi Sungai Musi.

Pelabuhan di Palembang sungguh memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan yang ramai sejak zaman kuno, terutama pada masa Kerajaan Sriwijaya. Lokasinya yang strategis di tepian Sungai Musi menjadikannya bagian vital dari jalur sutra laut.

 

Koin Beraksara Arab

Koin Sriwijaya beraksara Arab. Foto: ist

Sebagai sentra perdagangan, maka beredarkah mata uang Arab.Koin Arab yang beredar ini meliputi dirham perak (dikenal sebagai koin Arab-Sasaniyah atau dirham Abbasid) yang diproduksi di wilayah Fars, Kerman, dan Sistan, serta koin Arab-Bizantium (tembaga/emas).

Koin-koin ini tidak hanya beredar di kalangan pedagang Arab, tetapi juga menjadi alat tukar resmi di kerajaan Islam Nusantara seperti Samudra Pasai yang mengeluarkan mata uang dirham sendiri.

Evolusi mata uang terjadi, koin koin lokal pun diproduksi dengan identitas penggunaan aksara Arab karena penyesuaian masyarakat dan agama. Akhirnya koin koin ini bercap aksara Arab tapi berbahasa Melayu, yang juga dikenal dengan Aksara Jawi.

Koin kuno Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 hingga ke-11 M) umumnya berbahan perak, perunggu, atau emas. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *