Budaya .
Rajapatni.com: SURABAYA – Bangsa Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan mimpikan Indonesia sebagai ibukota Kebudayaan Dunia (World Cultural Capital). Sementara menjadi Ibukota Kebudayaan Dunia (seperti UNESCO World Cultural Capital atau inisiatif serupa) bukanlah gelar otomatis, melainkan proses seleksi ketat yang menonjolkan keunggulan budaya bangsa (sebuah kota atau wilayah).
Lantas apa yang bisa diunggulkan dari budaya sendiri?
Budaya yang bisa diunggulkan, haruslah memiliki nilai universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value – OUV). Ini adalah syarat mutlak. Situs atau kebudayaan di kota tersebut harus memiliki nilai yang sangat penting bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bagi komunitas lokal saja.
Aksara daerah atau aksara Nusantara sungguh memiliki potensi besar dan beberapa di antaranya sedang dalam proses pengakuan memiliki Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value – OUV) oleh UNESCO. Aksara Nusantara dinilai sebagai mahakarya kreativitas manusia yang mencerminkan keberagaman budaya dan sejarah peradaban Indonesia yang unik, melampaui batas nasional.
Apakah selama ini kita membanggakannya?
Ita Surojoyo, pendiri komunitas budaya aksara, Puri Aksara Rajapatni, membuat komparasi faktual dan kontekstual, dengan Hongkong. Yakni Hngkong bisa bangga dengan aksara tradisionalnya. Implementasi kebanggaan itu adalah dengan digunakannya aksara itu dalam kehidupan sehari hari yang tidak hanya bersifat dekoratif tapi juga aplikatif.
Saat ini Ita Surojoyo sedang di Hongkong, sambil menyelam minum air. Sambil berlibur juga membuat komparasi bagaimana masyarakat Hongkong masih menggunakan aksara tradisionalnya (Hanzi) di tengah kemajuan teknologi negaranya.
Ita membandingkan dengan negaranya sendiri Indonesia, bagaimana sikap masyarakat Indonesia terhadap aksara tradisionalnya sendiri (aksara daerah), dimana aksara Latin/Romawi yang dipakai sesungguhnya adalah aksara asing yang dibawa bangsa Barat ketika masuk ke Nusantara pada abad 17.

Di Hongkong Ita memperhatikan kesibukan jalanan. Ita tidak pertama kalinya ke negeri ini. Namun dalam perkembangan negara yang terus maju itu, tradisi setempat tidak pernah luntur oleh kemajuan zaman.

Penggunaan aksara Hanzi sebagai signage dan nama nama jalan mempertegas keberadaan negara. Masyarakat nya juga masih menggunakan aksara tradisionalnya dalam keseharian di antara kegiatan kegiatan yang tak lepas dari teknologi modern.

Ita menunjukkan penggunaan aksara Hanzi yang tetap di atas dari penulisan aksara Latin/Romawi.
“Aksara lokal tetap di atas😅”, katanya singkat sambil memotret signage GEM ( Grand Egyptian Museum) yang ada di Hongkong.
GEM di Hongkong ini adalah pameran “Ancient Egypt Unveiled” di Hong Kong Palace Museum yang dibuka mulai 20 Nov 2025 – 31 Agu 2026. Pameran ini menampilkan 250 lebih artefak penting dari Mesir, termasuk koleksi Tutankhamun, menjadikannya salah satu pameran Mesir kuno terbesar yang pernah ada di Hongkong. Ini kolaborasi dengan Supreme Council of Antiquities of Egypt dan menawarkan pengalaman budaya unik di West Kowloon.

Dalam ajang pameran ini pun aksara tradisional Hanzi ditempatkan di bagian atas dari aksara Latin sebagai transliterasinya.

Suatu hari dalam mengiringi road to ibukota kebudayaan dunia, Indonesia harus ber upaya besar dan terus membuat budaya sebagai kebanggaan. Yang simple saja yaitu promosi penggunaan aksara daerah (Nusantara) secara massal nasional. (PAR/nng)
