Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Selain bangsa India, ada juga bangsa Tiongkok (China), yang bermukim di Jawa. Dari catatan sejarah setelah masuknya Mongol bersama pasukan Tartar di akhir abad 13, berikutnya adalah bangsa Tiongkok melalui arus perdagangan termasuk keagamaan (Islam) oleh Laksamana Cheng Ho pada abad 15.
Masuknya bangsa Tiongkok di Nusantara memang menunjukkan evolusi yang dinamis, bergerak dari keterlibatan militer/politik pada abad ke-13 menuju perdagangan dan penyebaran agama (Islam) yang damai pada abad ke-15.

Seiring dengan gelombang masuknya bangsa Tiongkok itu pergerakan ekonomi ikut bertumbuh karena proses perdagangan. Dari dinamika perdagangan inilah uang uang Tiongkok ikut masuk ke wilayah Nusantara.
Sejarah mencatat masuknya koin tembaga Tiongkok ke Nusantara memang terjalin erat dengan peningkatan aktivitas perdagangan, khususnya antara abad ke-11 hingga ke-14.

Mata uang tembaga dari Tiongkok mulai digunakan secara terbatas bahkan sejak abad ke-10 dan semakin umum digunakan dalam transaksi perdagangan lokal.
Koin tembaga yang dikenal dengan sebutan uang kepeng atau “picis” (umumnya dengan lubang di tengah) beredar luas dan menggantikan sistem moneter asli yang sebelumnya berbasis logam mulia seperti era Syailendra dan Jenggala.
Pada masa kerajaan seperti Majapahit, uang kepeng Tiongkok diterima secara resmi dalam perdagangan. Ini menunjukkan pengaruh yang sangat kuat pada sistem ekonomi regional.
Dinamika perdagangan ini tidak hanya membawa barang-barang dagang, tetapi juga uang sebagai alat tukar yang mengakar dalam sistem ekonomi Nusantara, bahkan berlanjut hingga masa kolonial Belanda.
Uang kepeng Tiongkok, yang ditemukan di Jawa, umumnya memiliki karakteristik khas. Terdapat aksara Tiongkok (Hanzi), yang biasanya dibaca secara vertikal dan horizontal (atas-bawah-kanan-kiri). Tulisan ini biasanya merujuk pada dinasti atau kaisar yang memerintah.
Semakin maraknya uang kepeng Tiongkok, kerajaan Majapahit pun ikut mengeluarkan Koin yang bernama Koin Gobog, yakni uang Kepeng lokal Jawa, yang didesainmeniru kepeng Tiongkok. Pengaruh Perekonomian Tiongkok sangat kuat karena Tiongkok merupakan mitra dagang utama yang mendominasi komoditas ekspor-impor, penggunaan uang kepeng Tiongkok sebagai alat tukar resmi, serta terjalinnya hubungan diplomatik aktif yang mendukung kestabilan dagang.

Bahkan Majapahit mengimpor uang koin perunggu dari Tiongkok dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan uang pecahan dalam transaksi sehari-hari. Ini menjadikan alat tukar sah dan stabil di Nusantara.
Tiongkok, khususnya di era Dinasti Yuan dan Ming, merupakan mitra dagang terbesar. Perdagangan dua arah berjalan pesat, di mana Tiongkok membutuhkan rempah-rempah, sementara Majapahit mendapatkan barang seperti keramik dan sutra.
Perdagangan memang merupakan elemen sentral dan gambaran historis yang paling kuat mengenai keberadaan etnis Tionghoa (Cina) di Jawa. Hubungan dagang ini telah berlangsung selama berabad-abad. Hubungan ini membentuk akulturasi budaya, ekonomi, dan sosial yang mendalam antara Tionghoa dan Jawa.

Bahkan keberadaan Tiongkok di Jawa meninggalkan kampung kampung Pecinan di kawasan pesisir Utara Jawa, mulai dari Jakarta, Lasem, Semarang, Tuban, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo hingga Besuki.
Kota Surabaya dalam istilah Tionghoa disebut Si-Shui, yang posisinya di kawasan Pecinan jalan Karet dan Kembang Jepun. (PARl/nng).
