Budaya, aksara Jawa
Rajapatni.com: SURABAYA – Sederhana saja dalam kiat menjaga warisan budaya, yaitu menulis. “Isa dilakoni, gak isa ditinggal ngopi” (bisa ya dijalani, gak bisa ya ditinggal ngopi). Begitu kata penulis buku “Titi Tikus Ambeg Welas Asih” (2023), Ita Surojoyo.

Buku itu menggunakan aksara Jawa, yang ditransliterasi ke dalam bahasa Jawa. Selain itu, ada juga terbitan berikutnya, dimana aksara Jawa ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia. Yaitu buku “Bung Bebek en Dewi Melati” (2025). Buku ini selain ditransliterasi ke dalam bahasa Indonesia, juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda.

Tidak cuma itu saja, buku yang sedang dalam proses penyelesaian sekarang adalah buku yang berjudul “Soerabaja: Footprints of Heroic Heritage”, yang ditransliterasi ke dalam bahasa Indonesia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

“Biar sesuai, wong aku guru bahasa Inggris. Ini supaya relevan dengan kerjaanku untuk murid muridku”, kata Ita dalam kesempatan ngobrol santai, yang pernyataannya terekam untuk rencana penulisan artikel ini.
Itulah kiatnya dalam menulis buku yang beraksara Jawa dengan terjemahan ke dalam berbagai bahasa: Indonesia, Inggris dan Belanda. Tujuannya agar buku buku itu bisa dibaca oleh siapapun dalam lintas negara. Di saat yang bersamaan, aksara Jawa turut menyertai sebagai cara memperkenalkan Aksara Jawa secara global.
Ini adalah upaya, yang tidak jauh dari hasil rekomendasi Kongress Aksara Jawa I di Yogyakarta pada 2021. Isinya fokus pada standarisasi penulisan, digitalisasi (font dan papan tombol), serta kebijakan penggunaannya di ruang publik. Hasilnya adalah mencakup penguatan payung hukum (Pergub DIY), pengembangan Optical Character Recognition (OCR), dan komitmen menjadikan aksara Jawa hidup di era digital.

Melalui praktik praktik nyata, Ita Surojoyo turut memperkenalkan penggunaan Aksara Jawa melalui dunianya, yaitu literasi melalui penulisan buku. Karenanya setelah kongres Aksara Jawa I di Yogyakarta pada 2021, Ia pun sudah merencanakan penulisan sebuah buku, yang akhirnya terbit buku pertamanya “Titi Tikus Ambeg Welas Asih” (2023).
Tidak cukup di situ, ia melanjutkan dengan versi kedua “Titi Tikus Ambeg Welas Asih Seri 2” dan buku sejarah tentang Surabaya “Soerabaja: Footprints of Heroic Heritage” (proses penyelesaian). Dalam buku ini, Aksara Jawa digunakan untuk bahasa Indonesia, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Tidak cukup hanya menulis, hubungan kekerabatan lintas negara juga menjadi cara dalam memperkenalkan aksara Jawa melalui karya buku. Melalui kekerabatan lintas negara ini, buku buku itu kelak bisa sampai ke negara manca. Minimal melalui pintu negara Belanda, dimana sudah terjalin hubungan antar komunitas. Yaitu “Puri Aksara Rajapatni” dan “Stichting Anak Mas”.

Ita Surojoyo melakukan upaya upaya penulisan ini di sela sela kegiatan rutinnya sebagai pengajar bahasa Inggris di lembaga pelatihan bahasa Inggris untuk siswa-siswi, yang merencanakan melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi di luar negeri.
Selain itu, secara sukarela, Ita memberikan bimbingan belajar (Sinau aksara Jawa) untuk publik. Tidak dibayar alias Gratis dan bahkan Ita sanggup mengeluarkan kocek sendiri (membayari) untuk HTM di tempat, dimana kegiatan Sinau Aksara Jawa dilakukan.
Ita Surojoyo dan komunitasnya Puri Aksara Rajapatni berupaya untuk itu demi tersampaikannya aksara Jawa kepada generasi sekarang, yang sejalan dengan misi komunitas, yaitu menjadikan generasi sekarang melek Aksara Jawa.
Upaya ini tidak mudah dan penuh tantangan karena ekosistem, yang belum benar benar terbangun. Bahkan ada orang orang yang berlabel budaya Jawa namun dalam aksi praktisnya malah kontradiksi dengan upaya pemajuan aksara Jawa. Ironis.
Namun demikian Ita Surojoyo terus berjalan dan maju tak gentar bersama komunitasnya, termasuk melalui cara penulisan buku beraksara Jawa. Maju terus, tetap semangat. (PAR/nng)
