Kolaborasi Pentahelix Asli Suroboyo 

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Surabaya terkenal dengan ciri gotong royong. Gotong royong adalah tradisi atau budaya asli Surabaya, yang melibatkan kegiatan bekerja sama secara sukarela antara individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Dunia usaha swasta. Foto: shalimar

Pembuatan buku “Sketsa Kota Lama Surabaya” adalah hasil dari wujud kegotong royongan, yang dalam istilah kekinian disebut kolaborasi pentahelix. Kolaborasi Pentahelix adalah model kerja sama inovatif, yang melibatkan lima unsur pemangku kepentingan utama: yaitu Pemerintah, Dunia Usaha, Akademisi, Komunitas/Masyarakat, dan Media.

Kolaborasi dalam pembuatan buku “Sketsa Kota Lama Surabaya” ini bukan awu awu (isapan jempol). Kegiatan ini nyata berdasar pada kesadaran kolektif akan pentingnya pendokumentasian fakta sosial, budaya dan sejarah, yang ada di kawasan Kota Lama Surabaya.

Kolaborasi Pentahelix itu melibatkan Pemerintah (Pemkot Surabaya, DPRD Kota Surabaya dan Bank Indonesia), Dunia Usaha (Hotel Arcadia Heritage Rajawali Surabaya, The Shalimar Boutique Hotel, PT. Menara Property Development dan Wismilak), Media (Nyata.com dan Rajapatni.com), Akademisi (Erasmus Training Centre, NINA, Untag Surabaya) dan Komunitas (Puri Aksara Rajapatni).

Stakeholder Media. Foto: nyata

Keberadaan stakeholders ini ada yang bertempat secara lokal di Surabaya, secara nasional di Jakarta dan secara global di Belgia. Melalui agenda peringatan Hari Warisan Budaya Dunia 2026 ini ternyata Surabaya bisa berkolaborasi yang inovatif dan edukatif.

Kota Lama Surabaya tidak hanya barang mati dan statis tapi masih menyimpan dinamika sosial budaya yang berkelanjutan. Terlalu sayang jika dinamika pada hari ini tidak ditangkap sebagai hasil dari geliat masa lalu dan cermin untuk geliat masa depan yang potensial.

Stakeholder Dunia usaha. Foto: wismilak

Kehadiran Kota Lama Surabaya sebagai ruang hidup harus pula bisa menghidupi masyarakat melalui ruang ruang kreatif dan ekonomis. Tentu tujuan akhir dari sebuah penataan adalah ekonomis dan kesejahteraan. Disana ada konsep, yaitu menggabungkan pelestarian sejarah (heritage) dengan pengembangan ruang kreatif dan pusat ekonomi baru.

Geliat ini sudah ada pada masa lalu di ruang Benedenstad van Soerabaia, lalu menjelma menjadi ruang kreatif yang berkemajuan sesuai zaman yang sekarang berkonsep Kota Lama Surabaya dan tentu akan berkelanjutan pada ruang kreatif masa depan. Kawasan ini dulu sudah menjadi ruang perkantoran, dan perbankan kolonial Belanda (terutama di sekitar Jembatan Merah dan Rajawali), kini bertransformasi menjadi ruang kreatif yang dinamis dan berorientasi masa depan.

Karenanya “Sketsa Kota Lama Surabaya” merekam dinamika sosial budaya kenikian sebagai ekspresi evolusi masa lalu dan menjadi cermin untuk masa depan.

Kegotong Royongan sendiri dalam kolaborasi ini adalah intangible heritage, yang sudah ada sejak lama di Surabaya dan masih ada di era sekarang serta diupayakan tetap akan ada sebagai kekuatan lokal Surabaya, yang menginspirasi lainnya secara lebih luas (nasional dan global). Surabaya sekarang adalah kota global, inklusif dan kolaboratif. Pembuatan buku Sketsa Kota Lama Surabaya adalah buktinya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *