Surabaya Berjuang Menjaga Identitas Bangsa di Tengah Identitas Global.

Sejarah, Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Menginjak angka tiga tahun (belum genap), sudah ada beberapa buku dihasilkan. Diawali dengan “Titi Tikus Ambeg Asih” (2023), disusul “Surabaya Berani Beraksara Nusantara” (2024), “Bung Bebek en De Dewi Melati” (2025), dan insya allah, mendatang adalah “Sketsa Kota Lama Surabaya” dan “Antologi Puisi: Jejak dan Bayang” serta “Soerabaja: Footprints of Heroic Heritage” (2026) adalah semangat dalam ekspresi kebebasan bersuara demi upaya pelestarian nilai budaya Surabaya.

Buku Surabaya beraksara Jawa. Foto: par

Tidak tertutup hingga tiga judul saja untuk tahun 2026 ini. Masih ada sederetan gagasan yang perlu didokumentasikan. Surabaya kaya cerita dan sayang bila tidak dijaga. Ya, ini bentuk pendokumentasian lewat karya literasi.

 

Pendokumentasian

Pendokumentasian melalui karya literasi adalah proses merekam, mengabadikan, dan menyebarkan gagasan, pengetahuan, pengalaman, atau nilai budaya dalam bentuk tulisan (buku, jurnal, artikel, sastra) agar dapat dipelajari dan diwariskan ke generasi berikutnya. Hal ini tidak hanya sekedar mengumpulkan karya, tetapi juga merekam konteks budaya dan menyebarluaskan informasi penting.

Ini adalah upaya yang selaras dengan misi komunitas aksara Jawa Surabaya, Puri Aksara Rajapatni, yang hadir sejak 22 Desember 2023.

Pendokumentasian ini selaras dengan upaya pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanatkan pada UU 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Pendokumentasian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) merupakan langkah strategis dalam perlindungan dan pengembangan budaya sesuai UU No. 5 Tahun 2017. Langkah ini memastikan keberlanjutan warisan budaya, mempertegas jati diri bangsa, serta mencakup inventarisasi objek objek budaya termasuk tradisi lisan, aksara, bahasa, adat istiadat, dan pengetahuan tradisional melalui pencatatan dan dokumentasi, guna mewujudkan masyarakat berdaulat secara budaya.

 

Lokal di Tengah Global

Salah satu lembar pendokumentasian. Foto: ist

Dari Surabaya, upaya pendokumentasian demi pemajuan terus dibina. Puri Aksara Rajapatni telah berkomitmen untuk itu. Yakni sebagaimana tertulis pada butir “Mendekatkan Aksara Jawa dengan generasi sekarang sehingga melek Aksara Jawa”.

Buku Titi Tikus Ambeg Welas Asih (2023). Foto: dok par

Dalam setiap penerbitan selama ini, aksara Jawa adalah muatan. Konten aksara Jawa tidak hanya menjadi konsumsi generasi dalam negeri, tetapi juga masyarakat mancanegara. Itu telah ditunjukkan melalui karya “Titi Tikus Ambeg Welas Asih”, “Bung Bebek en De Dewi Melati” dan sedang dalam proses adalah “Sketsa Kota Lama Surabaya” dan “Soerabaja: Footprints of Heroic Heritage”.

Rencana penerbitan Sketsa Kota Lama Surabaya. Foto: par

Pengenalan Aksara Jawa hingga ke manca negara juga merupakan salah satu poin dari hasil Kongres Aksara Jawa di Surakarta pada 2023. Apalagi kita juga mengenal adanya peringatan Hari Warisan Budaya Dunia (World Heritage Day), maka upaya ini selaras dengan semangat global yang diinisiasi oleh PBB dan UNESCO. Ini semua semata mata untuk menjaga dan memelihara identitas bangsa yang sekarang penuh dengan identitas global.

Petra Timmer, pegiat dari TiMe Amsterdam, Belanda dengan piring bercap aksara Jawa. Foto: dok par
Aksara Jawa bersanding dengan aksara Latin di Belanda. Foto: dok par

Upaya ini penting karena berperan sebagai benteng budaya, alat pemersatu, dan jati diri di tengah arus globalisasi yang dapat mengikis nilai-nilai lokal. Identitas nasional yang kuat memastikan bangsa tetap berdaulat dan bermartabat, meskipun berinteraksi dengan budaya asing yang masif. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *