Fitri & Suci Diri

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Hari Besar umat Islam Idul Fitri berhimpitan datangnya dengan Hari Besar umat Hindu, Nyepi pada 2026. Ada makna serupa dari dua perayaan ini. Yaitu kembali Fitri dan suci. Bagi umat Islam hari besar ini adalah kemenangan atas hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa Ramadhan, yang dimaknai sebagai keberhasilan menundukkan hawa nafsu, amarah, dan kebiasaan buruk. Ini adalah perayaan kembali ke fitrah yang suci.

Sementara bagi umat Hindu, Hari Raya Nyepi adalah hari suci pergantian Tahun Baru Saka, yang dirayakan dalam keheningan total untuk refleksi diri, penyucian jiwa (bhuana alit), dan penyucian alam semesta (bhuana agung). Selama 24 jam, umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian (Amati Geni, Karya, Lelungan, Lelanguan) untuk menahan diri dari aktivitas duniawi.

 

Melukat

Bagi sebagian umat Hindu ada yang melakukan tradisi melukat, yaitu ritual penyucian jiwa dan pikiran yang bertujuan membersihkan diri dari hal-hal negatif, baik secara jasmani maupun rohani.

Melukat di Pura Kahyangan Kedatuan. Foto: ist

Melukat kini bahkan menjadi tren wisata spiritual populer di Bali, yang diminati turis mancanegara untuk membersihkan jiwa, pikiran, dan diri dari energi negatif dengan menggunakan air suci. Ritual suci ini sering dilakukan di situs sakral seperti Pura Tirta Empul dan Pura Dalem Pingit Sebatu, serta Pura Kahyangan Kedatuan Raksa Sidhi.

Ada Pura khusus. Bukan sembarang Pura, yang ada sumber air nya. Ini Pura Kahyangan Kedatuan Raksa Sidhi di Banjar Soka Kawan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan”, jelas salah seorang pemedek (peserta Melukat).

Ada yang menarik dalam prosesi melukat ini. Yaitu memeluk patung lembu di area pengelukatan itu.

Jadi, di atas ada Pura sembahyangan Hindu, trus ada klenteng dimana pengunjung dapat bakar uang China, trus ada patung Nandi”, tambah sang pemedek.

Dalam tradisi melukat ini, yang mana pemedek membasuh tubuh menggunakan air suci dari pancuran di tempat sakral itu.

 

Lokasi dalam rerimbunan .Foto: ist

Secara umum, area Pura ini dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu bagian Beji, yang digunakan untuk penglukatan dan bagian Pura, yang digunakan untuk kegiatan persembahyangan baik sebelum atau sesudah melukat.

 

Proses

Dikutip dari detikbali bahwa proses Melukat di Pura Kedatuan Raksa Sidhi ini adalah sebagai berikut:

Sebelum melaksanakan persembahyangan dan penglukatan di pura ini, pemedek harus melakukan matur piuning terlebih dahulu di Dukuh, yakni tempat berstananya Ida Dukuh Sakti. Tujuannya untuk memohon izin karena hendak melakukan aktivitas di sekitar area tersebut.

Setelahnya, pemedek dapat turun ke beji untuk menjalani penglukatan. Setelah melaksanakan upacara penglukatan, pemedek kembali bersembahyang untuk matur suksma atau mengungkapkan terima kasih karena telah diberikan izin untuk melukat dan menerima berkah di pura ini.

Selama prosesi melukat, pemedek juga dapat memohon maaf atas kesalahan yang pernah dibuat, terutama kesalahan kepada orang tua yang telah melahirkan. Setelahnya, dilanjutkan dengan memeluk patung lembu sebagai simbol dari Ibu Pertiwi.

Memeluk lembu putih (Nandi) dalam proses Melukat. Foto: ist

Memeluk lembu (khususnya lembu putih/Nandi) dalam prosesi melukat, seperti di Pura Kahyangan Kedatuan Raksa Sidhi ini, disimbolkan sebagai cara melepaskan beban emosional, menyeimbangkan energi, dan penyucian jiwa. Lembu dipercaya sebagai wahana Dewa Siwa, yang melambangkan kekuatan suci, sehingga memeluknya diyakini membantu menghilangkan hawa negatif.

Biaya melukat di Pura Kahyangan Kedatuan Raksa Sidhi, Tabanan, umumnya terjangkau dengan tiket masuk sekitar Rp10.000 per orang. Pengunjung diwajibkan membawa sarana persembahyangan (banten) sendiri, seperti 2-3 pejati, canang sari, dan dupa, dengan total biaya sarana bervariasi tergantung tempat membelinya. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *