Budaya Sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Dari lima lempeng Prasasti Canggu, empat dikabarkan hilang entah kemana. Hanya satu, yang tersisa dengan nomor registrasi E.54c-vz, yang isinya memuat keberadaan nama dan sekilas sejarah Syurabhaya (Surabaya), Bkul (Bungkul) dan Gsang (Pagesangan) sebagai Naditira Pradesa (desa di tepian sungai).
Jika yang hilang keping dengan identitas E.54c-vz, maka hilang sudah bukti otentik sejarah Surabaya. Sejauh ini, tidak diketahui kapan dan bagaimana hilangnya.
Menurut catatan Boechari dan AS Wibowo (1985/86) bahwa ketika ditemukan jumlah lempeng prasasti itu ada 5 dengan identifikasi nomor 1,3,5,9 (dengan nomor inventaris E.54 a-d) dan 10 (dengan nomor inventaris E.36). Masing masing lempeng berukuran 36,5 cm x 10,5 cm, yang masing masing sisinya tertulis dalam aksara Jawa Kuna (Kawi) dengan 6 baris ke bawah. Prasasti ini berangka tahun 1280 Saka atau 1358 Masehi atas perintah Raja Dyah Sri Hayam Wuruk.

Menurut Boechari dan AS Wibowo ketika mereka mencatat dari lima lempeng itu hanya satu lempeng, yang mereka ketahui. Yakni lempeng nomor 5. Tidak diketahui dimana lempeng lainnya.
Namun berdasarkan data digital Perpustakaan Universitas Leiden (Leiden university Library) di Belanda, masih ada 8 sisi atau 4 lempeng, yang diantaranya adalah identifikasi nomor E.54c-vz, yang memuat tentang Naditira Pradesa Pagesangan, Bungkul dan Surabaya. Data ini diambil tentu memiliki rujukan sumber, yaitu Bataviaasch Genootschap (BG) van Kunsten en Wetenschappen, yang akhirnya menjadi Museum Nasional Indonesia (MNI).
Lembaga ini memang tempat penyimpanan artefak setelah ditemukannya prasasti Canggu di Dukuh Pelem, Dusun Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Bisa jadi, logikanya, lembaga perpustakaan Universitas Leiden mengentry data itu ketika masih pada era pemerintahan Hindia Belanda. Dari lima lempeng prasasti itu, lempeng nomor 5 ada di dalamnya.
Diduga bahwa lempeng yang didigitalkan adalah lempeng nomor 1, 3, 5 dan 9 sebagaimana sudah termuat dalam digital library universitas Leiden.
Memang tidak mudah mencari lempeng lempeng, yang tidak ada atau hilang atau lempeng lempeng itu justru tersimpan di Leiden. Perlu dikomunikasikan. Atau lempeng lempeng itu termasuk 30.000 artefak yang direpatriasi. Kiranya perlu juga ditanyakan ke Museum Nasional Indonesia di Jakarta. (PAR/nng)
