Sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Sejak lama diketahui bahwa Tretes dikenal sebagai tempat beristirahatnya (berlibur) warga Eropa (Belanda) yang tinggal di Surabaya. Hingga sekarang pun masih banyak ditemui villa villa lama bergaya kolonial khas dataran tinggi (pegunungan).
Kayu berkualitas tinggi digunakan secara luas untuk rangka atap, kusen pintu, jendela, dan terkadang lantai. Kayu yang digunakan biasanya jenis kayu jati atau kayu hutan lokal yang awet.
Selain itu adanya penggunaan batu alam sebagai pondasi dan bagian dasar bangunan. Batu alam kali atau batu alam yang disusun dengan kokoh, yang sekaligus memberikan kesan kokoh dan menyatu dengan alam sekitarnya.
Arsitektur bangunan seperti ini memang ada di Tretes, yang umumnya adalah villa villa lama dari era kolonial. Konstruksi kayu memang memberikan kehangatan. Ini karena sifat termal alaminya, yang unggul sebagai isolator, serta kemampuannya mengatur kelembaban ruangan.
Villa villa yang ada di Tretes terkesan dibangun oleh individu individu kala itu pada kisaran awal abad 20. Tetapi begitu mendapatkan informasi dari sumber dari keluarga (warga) Belanda yang tinggal di Leiden, barulah terungkap bahwa villa villa lama itu adalah milik sebuah korporasi keluarga Belanda yang kaya raya. Nama keluarga itu adalah Van Vloten.

Nama Van Vloten tidaklah asing di Surabaya. Usaha Dagangnya berkantor di Surabaya. Tepatnya di gedung yang berdiri di Simpang Lonceng, jadi satu dengan bangunan apotek Simpang. Nama kantor itu adalah “Woningbureau Van Vloten” (Badan/Biro Perumahan Van Vloten). Yaitu sebuah biro yang mengelola perumahan rekreatif di kawasan lereng pegunungan di Tretes. Rumah rumah (villa) itu disewakan untuk publik. Banyak warga Surabaya yang menggunakan jasa Van Vloten untuk berlibur dan rekreasi di kawasan lereng pegunungan di Tretes, Pasuruan.


Inilah mengapa kala itu banyak orang orang (Belanda) Surabaya berlibur dan rekreasi keluarga ke Tretes.
Keluarga Van Vloten
Sebelum keluarga Van Vloten bergerak di bidang perumahan, utamanya di kawasan dataran tinggi Tretes, Pasuruan, keluarga ini mengelola perkebunan kopi. Salah satunya di kawasan Tretes.
Informasi ini didapat langsung dari keturunan Van Vloten, Michiel Eduard Donkersloot, yang kini tinggal di Leiden, Belanda. Perkebunan kopinya sangat luas. Di Belanda keluarga ini Van Vloten terbilang keluarga aristokrat. Aristokrat adalah anggota kelas sosial tertinggi atau kaum bangsawan yang memegang kekuasaan politik, ekonomi, atau sosial, yang seringkali didasarkan pada keturunan.
Seperti nama kantor biro perumahan Van Vloten di Surabaya, perumahannya ada di lokasi Tretes, yang kala itu terkenal dengan nama Villa Park Tretes.

Seperti terbaca pada iklan koran tahun 1933 ini manajemen Villa Park Tretes menyewakan Bungalow dengan harga f 1750. Bungalow Bungalow atau villa villa itu adalah karya arsitektur nya sendiri. Architecture: C.F. Van Vloten Augustijn. Nama ini sesuai arsip keluarga yang masih tersimpan.


Menurut keturunan keluarga Michiel Eduard, bahwa Carel Frederik Van Vloten menikah dengan seorang wanita indo kelahiran Madiun, yang bernama Van vloten augustijn – Gallois.


Data Louise Van Vloten – Gallois. Foto: michiel
Dikutip dari beberapa sumber bahwa nama “Van Vloten Gallois” merupakan gabungan nama yang merujuk pada sosok penting dalam administrasi dan bisnis di Surabaya pada masa kolonial, khususnya terkait dengan Woning-en Administratie Bureau Van Vloten.
Identitas: Nama “Gallois” sering muncul sebagai bagian dari dewan direksi atau pejabat tinggi di lingkungan pemerintahan dan bisnis Hindia Belanda. Dalam konteks perusahaan Van Vloten di Surabaya, keluarga ini memiliki peran dalam biro administrasi yang mengelola aset properti besar.
Di Surabaya, nama Van Vloten bekerja sama dengan tokoh-tokoh dari keluarga Gallois untuk menjalankan Woning-en Administratie Bureau Van Vloten yang berkantor di Simpang Plein (Jalan Pemuda). Biro inilah yang kemudian mengelola pengembangan real estat di Surabaya dan kawasan peristirahatan seperti Villa Park Tretes.
Selain properti, keluarga Gallois juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan ekonomi di Surabaya. Nama Gallois sendiri tercatat pernah menjabat sebagai anggota Raad van Nederlandsch-Indië (Dewan Hindia Belanda), yang menunjukkan pengaruh politik dan sosial yang kuat dari keluarga tersebut di samping aktivitas bisnis mereka.
Bisnis Keluarga
Berdasarkan sumber dari Nederlandsche Staatscourant tanggal 1 April 1920, menunjukkan adanya perubahan struktur pada perusahaan Van Vloten Augustijn di Surabaya sekitar periode tersebut.
Bisnis dari firma Van Vloten Augustijn kala itu dimasukkan ke dalam perseroan terbatas (NV) baru yang bernama Generale Import & Export Compagnie.
Berdasarkan akta pendirian Generale Import & Export Compagnie tersebut, Van Vloten Augustijn diberikan hak eksklusif untuk melanjutkan bisnis dari persekutuan yang telah dibubarkan dengan tetap menggunakan nama firma yang sudah ada.
Pendirian Generale Import & Export Compagnie ini memerlukan izin resmi dari Kerajaan (Belanda).
Sementara berdasarkan Delpher (arsip surat kabar historis) ditemukan akta pendirian lengkap mulai dari tahun 1919 sampai 1920 dalam Staatscourant serta lampirannya.
Kantoor Van Vloten

Berdasarkan data historis, bahwa firma Van Vloten Augustijn (V.V.A.) mulai menempati kantor di kawasan Simpang (sekarang Jalan Pemuda), Surabaya sekitar tahun 1919-1920.
Firma ini memindahkan pusat operasionalnya ke kawasan Simpang, yang saat itu merupakan area prestisius di Surabaya, berdekatan dengan gedung-gedung ikonik seperti Simpangsche Societeit (kini Balai Pemuda).
Pada tahun 1919, bisnis Van Vloten Augustijn di Surabaya memang mengalami perubahan struktur hukum yang signifikan saat mulai bergabung menjadi bagian dari Generale Import & Export Compagnie melalui akta pendirian resmi.
Kantor mereka terletak di deretan gedung perdagangan di Simpang, yang dikenal sebagai salah satu pusat bisnis utama di Hindia Belanda pada masa itu.
Van Vloten dan Tretes

Van Vloten (melalui biro administrasinya) memiliki peran besar dalam pengelolaan dan pengembangan Villa Park Tretes di Prigen, Pasuruan.

Kawasan Villa Park Tretes dan villa-villa di lereng gunung tersebut dikelola oleh NV Woning-en Administratie Bureau Van Vloten.
Biro administrasi ini berkantor pusat di Simpang Plein 6, Surabaya (sekarang kawasan Jalan Pemuda), berbagi gedung dengan Apotik Simpang.
Kemudian Villa Park dikembangkan sebagai kawasan peristirahatan elit bagi warga Eropa dan pengusaha kaya di Surabaya (seperti keluarga Van Leeuwen Boomkamp) yang ingin menikmati udara sejuk pegunungan.
Nama “Van Vloten” sering melekat pada sejarah awal pengembangan Tretes sebagai destinasi wisata pegunungan modern di Jawa Timur pada masa kolonial.
Gedung kantor pusat mereka di Simpang, Surabaya, juga menjadi saksi bisu kejayaan bisnis properti dan administrasi yang mereka jalankan hingga awal abad ke-20.
Bekas Kantor Van Vloten sekarang

Gedung cantik di jalan Simpang Lonceng ini (depan gedung Tunjungan Plaza) semakin berburuk rupa di tengah kawasan penting Surabaya. Sayang ketika gedung ini semakin rusak tanpa ada perawatan dan pemeliharaan. Gedung ini pada pengamatan terakhir masih digunakan sebagai apotik, toko alat alat olahraga dan toko barang antik.
Harapan Keturunan Van Vloten

Michiel Eduard Donkersloot berharap bisa melacak jejak buyut buyutnya yang punya peran dalam membuka kawasan peristirahatan terkenal di Tretes.

“Ini ibunda kakekku”, kata Michiel Eduard Donkersloot sambil berkirim gambar foto dan link website. https://www.oorlogsbronnen.nl/tijdlijn/dba0d511-3707-4112-ae58-b39d467a3955
Kini keadaan telah berubah tapi kenangan keluarga masa lalu menjadi jembatan
bagi Michiel Eduard untuk lebih dekat dengan Indonesia sekarang dan masa depan. (PAR/nng)
