Budaya
Rajapatni.com : SURABAYA – Kota Surabaya (Soerabaia) di era pemerintahan Hindia Belanda sempat menggunakan sesanti “Soera ing Baja”, tetapi justru di era kemerdekaan sesanti itu hilang. Padahal “Soera ing Baja” yang berasal dari kata Çūrabhaya berarti berani menghadapi bahaya. Çūra berarti berani dan Bhaya artinya bahaya. Pemaknaan ini sesuai dengan citra Surabaya sebagai Kota Pahlawan.


Jika dibandingkan dengan daerah daerah lain, mereka memiliki nama kota dan bunyi sesanti yang berbeda. Misalnya Kota Kediri, sesantinya “Djojo ing Bojo”, Kota Malang, bunyi sesantinya “Malang Kucecwara”, Kota Blitar, sesantinya berbunyi *Kridha Hangudi Jaya*.
Tetapi Kota Surabaya pernah memiliki sesanti yang serupa. Yaitu Soera ing Baja. Sesanti ini secara faktual dan otentik ada pada lambang kota Surabaya Lama yang masih dilestarikan di lingkungan sekolah SMA Trimurti Surabaya, yang dulu merupakan museum kota Surabaya di era kolonial, yaitu Stadelijk Museum. Selain itu, sesanti Surabaya lama masih tertera pada logo logo Surabaya lama.

Diduga pergantian dari logo lama (era kolonial) ke logo baru (era kemerdekaan) karena ada kesamaan tulisan antara nama kota Surabaya dan bunyi sesanti Soera ing Baya. Karena dianggap sama, termasuk anggapan terhadap arti Surabaya, maka dibuanglah sesanti Soera ing Baya. Akhirnya dalam emblem kota Surabaya yang baru, tidak ada sesanti Soera ing Baya.
Padahal nama kota SURABAYA dan Bunyi sesanti Çūra ing Bhaya adalah dua hal yang berbeda. SURABAYA adalah nama kota / Daerah (kata benda). Sedangkan Çūra ing Bhaya adalah sesanti (kata sifat).
Sesanti adalah semboyan, pepatah, atau slogan dalam bahasa Jawa yang disusun secara menarik, ringkas, dan bermakna. Sesanti umumnya berisi nasihat, prinsip hidup, pedoman, atau harapan, serta mencerminkan nilai-nilai kebijaksanaan budaya Jawa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai motto lembaga.
Karenanya Sesanti luhur ini hendaknya disematkan kembali pada emblem kota Surabaya. Nilai berani Surabaya tidak hanya mengekspresikan pada peristiwa Kepahlawanan 10 November 1945. Nilai kepahlawanan 10 November 1945 ini adalah turunan (implementasi) dari nilai berani sebelumnya.

Misalnya perang Raden Wijaya melawan tentara Mongol (1293), perang Trunojoyo (1677) dan perang Jaya Puspita (1719) (PAR/nng
