Penulisan Aksara Jawa di lobby kantor Bappeda Litbang Kota Surabaya. Foto: nng
Budaya, Literasi
Rajapatni.com: SURABAYA – Dari Surabaya Aksara Jawa bakal melanglang buana lagi. Sebelumnya melalui kemasan buku “Bung Bebek en De Princess” yang ditulis oleh artis asal Surabaya, Wieteke van Dort) dan dicetak dalam dua aksara: Jawa (berbahasa Indonesia) dan Latin (berbahasa Belanda).
Kali ini dalam rangka peringatan Hari Warisan Budaya Internasional (International Heritage Day) 2026, akan diterbitkan buku Sketsa Kota Lama Surabaya dengan dua aksara (Jawa dan Latin) serta tiga bahasa (Indonesia, inggris dan Belanda).
Upaya promosi Identitas bangsa ke manca negara. Foto: nng
Penulisan buku ini dalam rangka memperingati Hari Warisan Budaya Internasional karena ini relevan dengan kawasan Kota Lama Surabaya, yang dulu merupakan kawasan Eropa. Ada warga Belanda, Perancis, Inggris, Jerman, Armenia dan lainnya. Jika diera kolonial diwarnai dengan konflik, maka di era kemerdekaan ini adalah harmonisasi dalam kolaborasi.
Pesan tersebut menggambarkan adanya transformasi fundamental dalam sejarah Indonesia, di mana pergeseran fokus perjuangan terjadi dari melawan penjajah (kolonial) menjadi membangun bangsa bersama (kemerdekaan).
Produk barang beraksara Jawa. Foto: tepe
Era kolonial ditandai dengan konflik fisik dan perlawanan kedaerahan. Sementara di era kemerdekaan menekankan harmonisasi dalam kolaborasi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan sebagaimana tersebut dalam SDGs (Sustainable Development Goals), yang dilaunching oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada 25 September 2015.
Yang menarik dari buku ini adalah digunakannya Aksara Jawa dengan maksud agar aksara Jawa bisa sejajar dengan aksara Latin untuk memvisualkan bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda.
Ini adalah upaya modernisasi dan revitalisasi penggunaan aksara Jawa agar relevan dengan zaman, yang tidak hanya terbatas pada teks bahasa Jawa klasik, tetapi juga mampu memvisualisasikan dalam bahasa modern.
Sebuah gagasan konstruktif demi Surabaya. Foto: nng
Melalui penulisan buku dalam rangka peringatan Hari Warisan Budaya Internasional, buku dengan penggunaan aksara Jawa ini bisa melanglang buana untuk menunjukkan identitas bangsa Indonesia. Untuk itu dalam proses penulisan, penggagas, Puri Aksara Jawa, sebuah komunitas aksara Jawa di Surabaya, berkolaborasi dengan institusi pendidikan asing seperti Netwerk Internationale Neerlandistiek Asie yang berkantor pusat di Belgia dan beranggotakan negara Belanda, Suriname, China, Jepang, India dan Indonesia.
Lainnya ada ICOM CECA (International Council of Museum, Committee for Education and Cultural Action) yang berkantor pusat di Perancis.
Melalui jaringan inilah Aksara Jawa, yang dikemas dalam produk Buku Sketsa Kota Lama Surabaya, dapat dikenal kembali seperti dulu di abad 18 hingga pertengahan abad 19 ketika Nusantara di bawah kolonialisme. (PAR/nng)