Untuk Kita Renungkan Bahwa Ia Mendengarkan.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Perjuangan belum selesai dan jalan masih sangat lah panjang. Namun langkah ke depan haruslah tetap tegap dan tegak. Meski jalan setapak itu penuh dengan aral melintang, kerikil tajam dan medan bergeronjal. Gunung pun pasti akan kau daki dan laut akan kau sebrangi.

Kenali kemana kamu harus melangkahkan kaki dengan pundak yang penuh dengan buntalan harapan.

Orang lain mungkin belum tahu atau tahu tapi membisu dan bahkan menertawakanmu. Sementara dalam buntalan tersimpan harapan untuk semua, termasuk menjadi bagiannya.

Perjuanganmu sangatlah minoritas tapi mulia atau tidak umum di tengah derasnya arus dan gelombang modernisasi. Ingat, dalam dirimu, hidup peri berlentera cahaya hati. Ia menuntunmu menuju harapan. Ia pun mendengar apa yang tidak akan kamu katakan. It listens to what you’re not going to say.

Mencari dan menemukan diri sendiri. Foto: nng

Kamu terasa bagai dibungkam dan tidak bisa berkata apa apa. Tapi akhirnya, itu terjadi di depan mata. Dan ternyata, ia mendengarkan apa yang tidak akan kau bisikkan meski sehalus angin mamiri. Ia terlalu halus dan nyata bagimu, tapi bagi lainnya bagai ilusi. Karenanya, mereka menertawakan langkahmu, ucapanmu, dan pikiranmu.

Ada mantra di antara kamu. Buktinya, perlahan tapi pasti, harapan itu bisa terjadi. Tidak untuk dirimu semata, tapi untuk semua. Karena ruang ini adalah milik bersama.

Ini artinya bahwa suatu area atau tempat dimana langit dijunjung dan bumi dipijak tidak dimiliki secara pribadi oleh satu individu, melainkan digunakan dan menjadi tanggung jawab bersama dari banyak orang atau kelompok. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *