Universitas Trunojoyo Madura Dan Rajapatni Kolaborasi Dalam Pemajuan Carakan, Budaya Tak Benda Kerajaan Sumenep.

Aksara Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Jawa Timur pernah menjadi rumah bagi beberapa kerajaan Nusantara. Ada Kanjuruhan, Kahuripan, Daha/Panjalu, Singasari, Majapahit, Blambangan, Sumenep (Madura Timur) dan Bangkalan (Madura Barat).

Dari semua itu, hanya satu kerajaan yang masih terlihat utuh. Kerajaan itu adalah Keraton Sumenep, meski tidak berdaulat secara politik.

Gerbang Labeng Mesem keraton Sumenep. Foto: ist

Namun Sumenep tetap menjadi simbol budaya dan sejarah penting di Jawa Timur. Ia menjadi satu-satunya keraton utuh di wilayah Jatim dan berfungsi sebagai cagar budaya dan museum, yang menyimpan artefak artefak penting, termasuk arsitektur bangunan yang merupakan gaya campuran dari budaya Jawa, Madura, Tionghoa dan Eropa.

Tidak cuma Keraton Sumenep, ada juga Masjid dan Komplek Pemakaman para raja Asta Tinggi, yang masih memiliki ikatan dengan para ahli warisnya.

Carakan tampak jelas pada monumen. Foto: ist

Meski demikian ahli waris atau keturunan raja-raja Sumenep (Kadipaten Sumenep) saat ini sudah tidak lagi tinggal di Keraton Sumenep. Mereka menyebar dan tinggal di berbagai tempat. Sementara keraton berfungsi sebagai museum dan situs sejarah.

Ketiga object (Keraton Sumenep, Masjid Agung Jami Sumenep, dan Makam Asta tinggi), kini menjadi cagar budaya, objek wisata, dan simbol identitas budaya Sumenep.

Masjid Jami’ Sumenep. Foto: ist

Keraton menjadi museum, Masjid Jami tetap berfungsi sebagai tempat ibadah, dan Makam Asta Tinggi adalah bukti pernah adanya raja-raja Sumenep sebagai pendiri serta penguasa, yang membangun warisan tersebut.

Ketiga object itu menunjukkan kesinambungan dari sistem monarki zaman dulu ke pemerintahan modern kabupaten sekarang, namun dengan tetap menjaga nilai nilai historisnya.

 

Kaitan antara Keraton, Masjid Jami, dan Makam Para Raja Sumenep.

Keraton Sumenep pernah menjadi Pusat Pemerintahan. Bahkan dulunya pernah berfungsi sebagai kediaman resmi keluarga raja.

Sementara Masjid Agung Jami’ Sumenep adalah hasil pembangunan Raja Sumenep, Panembahan Somala. Ia merupakan penguasa Sumenep pada masanya dan sekaligus menunjukkan peran raja dalam pengembangan agama dan infrastruktur daerah.

Komplek Makam Asta Tinggi adalah komplek pekuburan para raja Sumenep. Komplek makam ini menjadi bukti nyata pernah adanya raja raja Sumenep, yang jejak nya bisa ditelusuri siapa saja mereka.

Dari ketiga object yang berbeda ini (Keraton, Masjid dan Kuburan), ada satu kesamaan yang merangkai mereka. Yaitu literasi tulis. Bahwa di masing masing object ini, ada penulisan dan penggunaan Aksara Jawa (Carakan).

Carakan Madura itu ada. Foto: ist

Bukan hal yang aneh ketika Carakan menjadi bagian dari kehidupan para keluarga bangsawan Madura kala itu. Kerajaan Madura secara historis memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan Mataram. Karena itu memang Aksara Jawa (Carakan) ini secara literasi digunakan untuk penulisan bahasa Madura di keluarga kerajaan dan bahasa lainnya karena Carakan ditulis berdasarkan bunyi (voice based).

Bisa juga Carakan digunakan untuk menulis bahasa Indonesia dan lainnya. Di beberapa tempat di Sumenep memang terdapat penulisan menggunakan Carakan. Misalnya Masjid Jami’, Makam Asta Tinggi dan Keraton Sumenep.

Adapun bahasa nya adalah Bahasa Madura. Yang saking karena halusnya bahasa Madura itu, sampai sampai terdengar seperti bahasa Jawa. Misalnya pada kosa kata “Ayah”. Dalam bahasa Madura berarti “Rama”. Dalam bahasa Jawa “Rama”. Tulisan dalam bahasa Madura serupa, tapi penekanan ucapan sedikit berbeda.

Misal dalam kalimat “Ayah bercelana”. Dalam bahasa Madura ditulis ꧋ꦫꦩꦄꦕꦭꦤ꧉ Rama acalana. Dalam bahasa Jawa ditulis ꧋ꦫꦩꦔꦒꦼꦩ꧀ꦕꦼꦭꦤ꧉ Rama ngagem celana.

 

Pemajuan Carakan Madura

Aksara Jawa tidak cuma di Surabaya, tapi juga ada di Madura. Foto: ist

Dalam upaya pelestarian nilai nilai budaya Keraton Sumenep, sesungguhnya tidak hanya pada yang bersifat bendawi (tangible) saja. Tetapi ada yang tak bendawi (intangible). Apa apa yang bersifat bendawi dapat dengan mudah dilihat seperti bangunan Masjid, Keraton dan Makam. Namun ada banyak juga budaya yang tak benda. Misalnya tradisi Keraton dan tulisan tradisional yang digunakan pada masa kerajaan Sumenep (Madura Timur).

Ayo Sinau Aksara Carakan. Foto: ist

Tulisan tradisional adalah sistem aksara kuno atau asli suatu daerah atau bangsa, yang digunakan sebelum adanya standarisasi modern (Latin), seperti Aksara Nusantara (Jawa, Sunda, Bali, Batak) di Indonesia, yang merupakan turunan dari Brahmi.

Ternyata Aksara Jawa (Carakan) juga dipakai di Madura, yang secara kultural memiliki bahasa Madura, yang berbeda dari bahasa Jawa, meskipun ada modifikasi khusus yang disebut Aksara Carakan Madura untuk mengakomodasi bunyi khas Madura yang tidak ada dalam bahasa Jawa, dan ini menjadikannya turunan dari aksara Jawa Kuno yang disesuaikan. Aksara ini di Madura disebut Gajang.

Aksara Gajang Madura. Foto: ist

Aksara Gajang adalah sebutan lain atau varian dari Aksara Jawa (atau Carakan Jawa), yang digunakan di wilayah Madura dan sekitarnya, khususnya merujuk pada carakan atau aksara dasar Jawa, yang sering disebut Hanacaraka atau Nglegena, yang juga menjadi cikal bakal aksara daerah lain seperti Aksara Bali dan Madura, dengan fokus pada huruf dasar tanpa sandhangan (tanda baca: taling, taling tarung, pepet, suku, layar dsb).

Jawa Timur butuh orang orang yang peduli secara praktis. Foto: ist

Bukti aksara Jawa (Carakan), yang digunakan di berbagai tempat bangunan kuno, adalah di Masjid Jami’, Keraton Sumenep dan Asta Tinggi. Dalam upaya pemajuan aksara Jawa (Carakan) Madura, sebagai Object tak benda, Diana Rahmawati., S. T., M. T., dosen Universitas Trunojoyo Madura, menggandeng komunitas aksara Jawa Puri Aksara Rajapatni. Kerjasama ini dalam rangka “Penguatan Literasi Budaya Aksara Jawa melalui Digitalisasi Pembelajaran Berbasis Aplikasi Web Interaktif H5P pada Mitra Rajapatni”.

Puri Aksara Rajapatni adalah komunitas aksara Jawa di Surabaya, yang selama ini memperkenalkan dan mengajarkan aksara Jawa ke masyarakat Surabaya melalui paket gratis dalam 5 kali pertemuan.

Kerjasama Universitas Trunojoyo Madura dan Puri Aksara Rajapatni ini semata mata dalam upaya bersama melestarikan budaya literasi Aksara Jawa (Carakan), yang secara langsung menjadi bagian dari budaya tak banda (intangible) Kerajaan Madura Timur (Sumenep). (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *