Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Mudik adalah tradisi tahunan masyarakat Indonesia, khususnya bagi para perantau, untuk pulang ke kampung halaman menjelang hari raya (terutama Idul Fitri) demi bersilaturahmi, berziarah, dan melepas rindu bersama keluarga besar.
Akhirnya, kota kota besar yang menjadi jujugannya berubah menjadi sepi. Jalan jalan menuju luar kota sangat sibuk. Kepadatan lalu lintas sangat tampak dan menjadi perhatian pengelola jalan. Misalnya jalan jalan tol.

Fenomena sosial ini telah ada sejak lama, semakin marak sejak 1970-an akibat urbanisasi, serta memiliki dampak ekonomi besar karena memicu perputaran uang yang signifikan ke daerah.
Fenomena sosial mudik lebaran ini menjadi fenomena budaya yang menjadi identitas bangsa. Fenomena mudik lebaran di Indonesia bukan sekadar mobilitas tahunan atau perpindahan penduduk biasa, melainkan telah berevolusi menjadi fenomena sosial-budaya yang mengakar kuat dan menjadi identitas bangsa yang unik.
Meski negara negara lain juga berhari raya pada 1 Syawal, tetapi mereka memiliki tradisi yang berbeda. Secara ritual, shalat Id dan zakat fitrah adalah persamaan, namun cara menyambut dan merayakannya sangat berbeda.
Secara garis besar, tradisi hari raya (Idul Fitri) di Mekah (Arab Saudi) memiliki persamaan dalam aspek ibadah inti, namun memiliki perbedaan signifikan dalam budaya perayaan dibandingkan di Indonesia

Hari raya di Mekkah, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, dirayakan dengan khusyuk, sederhana, dan berpusat di Masjidil Haram. Suasananya dipenuhi takbir, jemaah dari seluruh dunia, serta salat Id yang diikuti jutaan orang, berbeda dengan tradisi meriah seperti di Indonesia.
Tidak ada tradisi mudik besar-besaran. Warga biasanya menghabiskan waktu libur dengan mengunjungi kerabat atau berlibur ke kota terdekat. Tradisi saling kunjung (mudik/sowan) ke rumah tetangga kurang umum dilakukan. Warga lebih fokus pada keluarga inti dan kerabat dekat.

Suasana Idul Fitri di Mekkah ini ditandai dengan lautan manusia di Masjidil Haram yang khusyuk melantunkan takbir sejak malam hingga salat Id, menciptakan nuansa emosional dan penuh sukacita. Jutaan jamaah dari berbagai negara memenuhi pelataran hingga jalan-jalan sekitar masjid. Mereka dalam satu kebersamaan sesama umat muslim yang merayakan hari kemenangan setelah berpuasa selama satu bulan di bulan Ramadhan.
Kedua negara ini Indonesia dan Arab Saudi memiliki nilai norma sosial dan budaya yang berbeda namun dipersatukan oleh ikatan spiritual dan keagamaan yang sangat kuat. (PAR/nng)
