Terus Melacak Dasar Sejarah Surabaya, Prasasti Canggu.

Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Daerah daerah penting di tepian Kali Surabaya (Kalimas) yang masuk wilayah administrasi Kota Surabaya dan sudah dicatat oleh Raja Majapahit, Hayam Wuruk, pada 7 Juli 1358 M, adalah Pagesangan (i Gsang), Bungkul (i Bkul) dan Surabaya (i Syurabhaya). Naditira Pradesa Syurabhaya berada di sisi paling hilir, dekat muara.

Ada tiga daerah (Pagesangan, Bungkul dan Syurabhaya) yang keberadaannya sudah dikenal pada 1358 M. Di tempat tempat itu telah pula ditemukan bukti bukti kekunoan. Di Pagesangan misalnya, menurut pegiat budaya Tepe Wijoyo, bahwa ditemukan lima buah batu bata kuno dan struktur batu bata di area pemakaman umum Pagesangan. Temuan kekunoan itu kini disimpan di kantor Kelurahan Pagesangan.

“Selain itu juga ditemukan dua keping koin Kuno dari era VOC dengan angka tahun 1790”, tambah Tepe Wijoyo.

Pesarean kuno Bungkul. Foto: ist

Bukti bukti kekunoan itu ternyata juga ada di Bungkul, yang tidak lain adalah komplek makam Bungkul. Yaitu makam Ki Ageng Bungkul dan juga makam Tumenggung Jangrono (Jayengrono), menurut penulis GH Von Faber dalam bukunya Oud Soerabaia.

Sementara tempat, yang diduga Syurabhaya, yaitu Peneleh, juga terdapat kekunoan yang berupa sumur Jobong di Pandean Gang IV. Bahkan disana adalah area pemakaman kuno, yang sisa sisa makam itu tersebar di perkampungan seperti di Peneleh IX Dalam, dimana ada makam Rokaya Cempo.

Dari temuan temuan faktual itu, lebih didukung kuat lagi oleh Prasasti Canggu (1358 M), yang dengan jelas dan tegas menyebut tiga daerah Naditira Pradesa: Pagesangan, Bungkul dan Surabaya.

Andai masyarakat umum atau komunitas boleh membuat duplikat Prasasti Canggu, pasti sudah diajukan dan dibuat secara mandiri. Tetapi karena pihak museum menyarankan bahwa pengajuan adalah resmi dari pihak pemerintah kota, maka pesan ini pun telah disampaikan secara lisan kepada pihak terkait.

Pengajuan pembuatan duplikat Prasasti Canggu semata mata hanya untuk menambah khazanah sumber sejarah Surabaya, bukan untuk dimiliki secara pribadi komunitas. Tapi akan diajukan untuk disimpan di Museum Surabaya, yang tampilannya sudah lebih menarik.

Tepe Wijoyo berharap agar sumber sejarah Prasasti Canggu itu bisa segera diduplikasi.

“Sangat setuju sekali agar kota Surabaya punya bukti sejarah yang bisa dijadikan patokan dan tetenger bahwa keberadaan Surabaya sudah ada setidaknya sejak zaman majapahit. (PAR/nng).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *