Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Makam Siti Fatimah binti Maimun di Desa Leran, Kabupaten Gresik menjadi petunjuk dan gerbang penelitian. Ada makam berarti pernah ada kehidupan di daerah sekitar makam. Apalagi makam itu berangka tahun 1082 M atau abad 11.

Disanalah Makam Siti Fatimah binti Maimun berada. Ini bukan satu satunya makam di Leran. Ada makam makam kuno lainnya di sekitarnya, termasuk makam makam panjang. Biasanya dikaitkan dengan makam tokoh spiritual penyebar agama atau peninggalan sejarah penting, serta bisa memiliki makna simbolis tentang perjalanan spiritual atau penghormatan terhadap jasa tokoh yang dimakamkan. Semua makam makam itu adalah object yang kasat mata, yang ada di atas permukaan tanah.

Ketika ada kehidupan, diduga pasti ada jejak peninggalan di sekitarnya, yang terpendam di dalam tanah. Tidak salah ketika ada sejumlah kegiatan ekskavasi di kawasan itu, yang dilakukan oleh berbagai pihak seperti Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), dan lembaga kebudayaan lainnya.

Seorang pemerhati budaya Gresik, Ali Topan, mengikuti sejumlah kegiatan ekskavasi di kawasan Leran. Dari kegiatan itu, Ali, turut mengabadikan kegiatan dan temuan temuan dari kegiatan. Hasilnya adalah sejumlah fragmen gerabah, guci dan keramik yang menjadi wujud dinamika domestik kala itu.

“Ada banyak hal yang bisa dijadikan pembelajaran dalam melakukan sebuah kajian untuk merencanakan sebuah pekerjaan ekskavasi, baik tahapan ataupun prosedur yang harus ditempuh, yang kemudian berlanjut menjadi sebuah keputusan untuk menentukan langkah kerja. hal ini yang menjadi menarik, dan saya pribadi sangat beruntung dapat menemani Team BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional)”, terang Ali Topan, yang dikutip dari unggahan akun FBnya.

Bentuk fisik dari temuan temuan itu memang tidak utuh, tapi keberadaannya mampu menyusun dan merekonstruksi kepingan sejarah, yang bernarasi. Inilah yang menarik perhatian Indonesian Hidden Heritage (IHH) Jakarta untuk melirik kawasan Leran sebagai upaya menyusun narasi peradaban maritim di Utara Jawa.

Apalagi makam Siti Fatimah binti Maimun berbentuk bangunan yang berbentuk cungkup terbuat dari struktur batu putih lengkap dengan gapura. Siti Fatimah binti Maimun bukan orang biasa pada masanya.
Siti Fatimah binti Maimun dikenal sebagai mubalighah perempuan pertama di Jawa, yang membawa ajaran Islam dari Persia ke Gresik pada abad ke-11. Ini dapat dibuktikan dengan makamnya di Desa Leran, Gresik, yang memiliki prasasti nisan tertua di Nusantara (1082 Masehi).
Ia diyakini berasal dari Persia (atau Baghdad), yang datang bersama rombongan untuk berdakwah. Ia wafat pada Jumat, 7 Rajab 475 Hijriah atau 2 Desember 1082 Masehi, pada usia sekitar 18 tahun. Makamnya menjadi jujugan wisata religi di Leran, Gresik. (PAR/nng).
