Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Surabaya menyatukan adalah nilai. Surabaya memang memiliki nilai-nilai kuat yang menyatukan warganya, yang berakar dari sejarah perjuangan dan diaplikasikan dalam kehidupan sosial saat ini. Nilai kesatuan Surabaya adalah gotong royong.
Wali Kota Eri Cahyadi selalu menekankan gotong royong. Bahwa adalah fakta nyata bahwa warga Surabaya dikenal penuh welas asih, guyub rukun, dan saling membantu. Nilai ini terus didorong melalui program “Surabaya Bergerak” untuk menggerakkan perekonomian kampung, kepedulian lingkungan, dan kemanusiaan.

Bercermin dari nilai nilai kejuangan dan kepahlawanan yang mana seluruh elemen rakyat: pemuda, santri, dan pejuang dalam pertempuran heroik 10 November 1945 melawan Sekutu, menegaskan kedaulatan Indonesia. Semangat persatuan ini, yang dikobarkan oleh Bung Tomo, menjadikan Surabaya sebagai simbol perlawanan tertinggi, melahirkan Hari Pahlawan, dan menyatukan jiwa nasionalisme Indonesia hingga hari ini.
Memahami nilai Surabaya Menyatukan berarti melestarikan sifat sifat Surabaya dan sekaligus melestarikan sifat-sifat luhur yang menjadi identitas kota Surabaya, khususnya semangat Sura ing Baya (berani menghadapi bahaya) dan persatuan total rakyatnya.
Dalam kekinian di era globalisasi, Surabaya bisa melangkah sebagai dirigen. Berbekal jejak sejarah yang bernuansa global, Surabaya harus berani menjadi dirigen. Tentu berbekal dari kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya.

Jangan menjadi dirigen para astronot jika anda bukan astronot. Jadilah dirigen sesuai bidang. Menggandeng komunitas dunia yang berbasis sejarah dan budaya adalah kemampuan komunitas budaya, Puri Aksara Rajapatni. Karenanya melalui bidang literasi sejarah budaya, komunitas ini merajut kebersamaan berdasarkan passion dengan menyelenggarakan peringatan Hari Warisan Budaya Internasional (International Heritage Day) 2026 dengan rencana penerbitan buku Sketsa Kota Lama Surabaya.
Wilayah ini bukanlah hal yang mustahil. Segenap tim adalah orang orang yang memiliki kapasitas terkait. Ada artis yang piawai di bidang seni sketsa. Ada penulis sejarah. Ada ahli Aksara Jawa yang bahkan berani mengajukan aksara Jawa ke UNESCO. Ada pula pihak yang berjejaring dengan lembaga bahasa Belanda Dunia serta pihak yang berkait dengan Dewan Museum Internasional. Semua akan dalam satu wadah di Kota Lama Surabaya dalam peringatan International Heritage Day 2026 mendatang.

Surabaya, sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia dan “Kota Pahlawan,” merupakan contoh nyata dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity). Kota ini menyatukan berbagai keberagaman: suku, ras, agama, dan budaya, dalam harmoni sosial budaya yang kokoh melalui karya karya nyata untuk semua. (PAR/nng).
