Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Surabaya adalah kota air. Kalimat ini seperti nama Sishui (penyebutan Surabaya dalam istilah Mandarin). Sishui artinya kawasan yang dikelilingi empat air atau sungai. Sishui atau Surabaya ini secara fisik pernah dikelilingi empat Sungai. Yakni Kalimas, Pegirian, Kalimati dan jalan Waspada, yang dulunya adalah kanal, yang menghubungkan Kalimas dan Pegirian. Sishui ini sekarang adalah kawasan Pecinan, yang di dalamnya termasuk jalan Karet dan Kembang Jepun.
Sebetulnya Pecinan ini hanya sebagian kecil dari wilayah Surabaya, yang luasnya sekitar 333 km persegi. Sedangkan Pecinan juga hanya bagian dari Kawasan Kota Lama Surabaya.
Secara umum kota Surabaya dialiri oleh banyak sungai. Sungai utamanya adalah Sungai Pegirian dan Kalimas, yang menjadi urat nadi perekonomian, perdagangan dan perhubungan pada zaman dulu. Sekarang fungsinya sudah menurun, lebih menjadi saluran pembuangan.
Di bantaran sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) dari dua sungai ini sudah lama menjadi jujugan pemukiman dan peradaban. Di era Majapahit dikenal dengan nama Naditira Pradesa (desa desa di tepian sungai), sebagaimana tertulis pada prasasti Canggu (1358).
Daerah Air

Sungai dan daerah aliran sungai (DAS) adalah jujugan kehidupan. Tidak hanya manusia, tetapi juga binatang dan makhluk hidup lainnya. Diantaranya adalah binatang kuat buaya, binatang yang bisa hidup di dua alam (darat dan air) dengan air tawar. Yaitu binatang Buaya.
Sementar binatang kuat, yang hanya bisa hidup di air, air laut, adalah ikan Hiu. Wilayah Surabaya memang menyangkut wilayah lautan dan daratan.
Dua binatang kuat di masing masing alamnya itu adalah binatang Hiu dan Buaya, yang selanjutnya menjadi lambang kota Surabaya. Hiu dan Buaya adalah lambang kekuatan.
Pembuatan Lambang Kota
Bangsa Belanda melalui pemerintahan Hindia Belanda, membuat lambang itu, untuk menggambarkan wilayah geografis Surabaya, yang terdiri dari daratan (termasuk sungai) dan lautan.

Penggambaran hiu dan buaya pertama kali muncul pada souvenir grup musik St. Caecilia (1848-1858). Lalu pemerintah kolonial meresmikan logo ini sebagai identitas kota Surabaya sekitar tahun 1920, dan kemudian diperkuat dengan motto “Sura ing Baia” (berani melawan bahaya) pada logo resmi pertama. Logo asli Surabaya itu masih ada di bekas museum kota Stadelijl Museum yang sekarang menjadi sekolahan Trimurti Surabaya.

Hiu dan Buaya ini menggambarkan makna berani menghadapi bahaya, yang muncul dari arti “śūra-ing-bhaya”. “śūra” berarti orang pemberani dan “bhaya” berarti bahaya atau tantangan.

Jika “śūra-ing-bhaya” ini dikaitkan dengan tiga Naditira Pradesa Gsang-Bukul-śūrabhaya, maka kedua frasa śūra-ing-bhaya dan Gsang-Bukul-śūrabhaya bermakna tunggal, yaitu ‘Wani”.
“Ikan Hiu” dan “Buaya” bermakna “śūra-ing-bhaya”, yang berarti sama sama “berani”. Keduanya juga memiliki kaitan erat dengan “air”.
Surabaya sudah memiliki visual Hiu dan Buaya dalam bentuk patung dan logo logo. Tapi belum memiliki visual Prasasti Canggu. (PAR/nng).
