Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Ingat Prasasti Canggu, jadi ingat kelompok mahasiswa Universitas Marburg Jerman. Rombongan mahasiswa Jerman ini dalam satu tahun, ada dua kali kedatangan ke Surabaya. Mereka belajar tentang Indonesia. Salah satunya adalah Surabaya sebagai salah satu kota besar di negeri ini.
Seperti tahun 2024 dan 2025, mereka datang di bulan Maret dan Agustus. Rencananya mereka akan datang lagi pada bulan Maret 2026.
“I am currently planning our next trip to Indonesia. I am planning to be in Surabaya with the group on March 5th and March 6th. Are you still available on these two days?
I don’t know yet on which day exactly we will be doing our city tour. But I will let you know as soon as possible.
I would like to do the same tour as last time (including Kali Mas Harbour and the mangroves). I hope that is ok for you.
Best wishes Markus”, itulah pesan Markus, dosen pembimbing rombongan mahasiswa Jerman, yang intinya memberitahukan rencana kedatangan rombongan pada Maret 2026.

Markus Hassler tertarik dengan spot Kalimas berikut cerita dibalik hiruk pikuk pelabuhan Rakyat (Pelra) nya dan yang tidak ketinggalan cerita Surabaya sebagai Desa di tepian sungai (Naditira Pradesa) yang sekarang telah menjelma menjadi Kota Pelabuhan Dunia.

Nilai edukasi ini tidak lepas dari kelas, yang diambil oleh mahasiswa Universitas Marburg. Yakni kelas Geografi yang meliputi budaya, sejarah, alam dan manusia.
Geografi budaya, sejarah, alam dan dan manusia adalah bidang studi interkoneksi yang mengeksplorasi bagaimana lingkungan fisik, warisan masa lalu, dan interaksi manusia bisa membentuk lanskap dan masyarakat di suatu wilayah. Keempat elemen tersebut saling mempengaruhi secara mendalam.

Ketika ada pertanyaan tentang asal dan sumber nama Surabaya, saya hanya bisa menyebutkan nama sumber sejarahnya. Yaitu dari Prasasti Canggu, yang artefaknya ada di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.
Padahal mereka juga ingin melihat bagaimana nama Surabaya dituliskan dalam Prasasti itu.

Secara naratif hanya penjelasan saja, terutama mengenai aksara yang digunakan. Yaitu aksara Jawa Kuno atau Kawi yang umum digunakan di era Majapahit. Padahal artefak atau replikanya menjadi object yang bisa dipelajari oleh mereka.
Dengan kabar bahwa rombongan mahasiswa Universitas Marburg Jerman akan datang lagi tahun 2026, maka muncul pertanyaan apakah Kota Surabaya bisa melengkapi koleksi museumnya dengan replika Prasasti Canggu.
Prasasti Canggu ini tidak lepas dari sungai (Kalimas sebagai anak Kali Brantas) karena prasasti ini menceritakan tentang aturan dan tata kelola aktivitas penyeberangan dan pelabuhan sungai (Bengawan Solo dan Kali Brantas) di masa Kerajaan Majapahit. Syurabhaya adalah salah satunya dan menjadi Naditira Pradesa penting karena dekat laut, yang menjadi pelabuhan antar pulau (dwipantara) dan antar negara.
Dalam kunjungan studi wisata itu, Surabaya adalah bagian dari kota kota penting lainnya seperti Jakarta, Yogjakarta dan Surakarta. (PAR/nng).
