Surabaya, Kota Bahari dan Maritim Penting

Sejarah Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Surabaya disebut sebagai kota Bahari dan kota Maritim. Penyebutan itu bukan tanpa alasan. Ada beberapa alasan utama yang berkaitan erat dengan sejarah, geografi, dan perannya di Indonesia.

Secara Geografis, Surabaya memiliki lokasi di tepian laut dan dialiri banyak sungai dengan dua sungai besar yang melintas kota. Yakni Kali Maas (Kali Surabaya) dan Kali Pegirian (anak Kali Maas).

Kali Surabaya dan Kali Maas adalah anak Kali Brantas, yang bercabang di Mlirip, Kabupaten Mojokerto, sekitar 50 km di Barat Daya Surabaya.

 

Sungai Bagian Dari Kemaritiman

Meskipun sungai, tetapi padatnya alur dan lalu lintas kapal dan perahu menjadikan sungai ini sebagai penghubung utama antara laut lepas dan Ibukota Kerajaan Majapahit di abad 13, 14, dan 15.

Perahu atau kapal sarana penghubung kota Raja Majapahit dan Nusantara. Foto: ist

Sungai sungguh bagian penting dari kemaritiman karena hilirnya bertemu laut (muara), dan menjadikan jalur transportasi dan perdagangan historis (seperti sungai Brantas).

Rombongan tentara Tartar dan Muhammad Cheng Ho pun melalui sungai ini. Bahkan di wilayah Surabaya sekarang pernah terbentuk satu komunitas Pecinan, yang selanjutnya disebut Sishui, yang berarti kawasan yang dikelilingi empat air (sungai). Kawasan itu kita kenal dengan Pecinan di kawasan Jalan Karet dan Kembang Jepun.

 

Sungai Sarana Perhubungan Penting

Kala itu, sungai adalah sarana transportasi utama, yang sekaligus dikatakan sebagai urat nadi perekonomian, perhubungan, peradaban dan pembangunan. Apalagi Surabaya pada akhirnya bertransformasi sebagai pangkalan Armada Dua di Indonesia. Sebelum ada Armada Dua, Majapahit pernah punya kekuatan armada laut, yang dipimpin oleh Laksamana Nala, yang salah satu gugus armadanya bertugas menjaga perairan sungai dan Laut Jawa hingga ke perairan Timur Indonesia.

Dalam perkembangannya sebagai kota pelabuhan utama di tepi Selat Madura dan Laut Jawa, menjadikan Surabaya sebagai pusat aktivitas kelautan yang penting, bahkan sejak zaman dahulu.

Sejak era kerajaan kuno itu (seperti Majapahit) hingga masa kolonial Belanda, pelabuhan di Surabaya, telah menjadi pintu gerbang utama untuk perdagangan rempah-rempah, barang-barang, dan interaksi budaya.

 

Markas Komando Armada RI

Setelah era kolonial, Kota Surabaya menjadi markas besar Komando Armada Republik Indonesia (Koarmada RI) II dan memiliki peran krusial dalam pertahanan maritim negara.

Koarmatim. Foto: ist

Tidak cuma itu, Surabaya juga menjadi pusat industri galangan kapal dan pemeliharaan armada niaga serta militer, dengan adanya fasilitas seperti PT PAL Indonesia, yang merupakan industri perkapalan terbesar di Indonesia.

Karena dinamika itulah, banyak interaksi manusia secara sosial dan budaya, sehingga membentuk Identitas. Identitas kota dan masyarakatnya ini sangat terkait dengan kehidupan di laut, yang tercermin dalam kuliner, tradisi, dan gaya hidup sehari-hari.

Mengingat peran air yang sangat besar, baik melalui sungai dan perairan laut, maka menjadi kewajiban warganya untuk menjaga sungai dan laut. Apalagi fungsi dan peran sungai telah dicatat oleh Raja Majapahit, Sri Hayam Wuruk, dalam prasasti Canggu (1358 M).

 

Naditira Pradesa

 

Anambangi sungai. Foto; radarmojokerto

Di sepanjang sungai Brantas dan Bengawan Solo menjadi untaian desa desa, yang berjasa memberi layanan penyeberangan (anambangi) dari satu sisi sungai ke sisi lainnya, juga jasa transportasi berperahu (maparahu) dari satu lokasi ke lokasi lainnya di sepanjang sungai dan Bengawan. Dalam kisah Babad Madura, Bengawan Solo menjadi sarana lalu lintas air, yang menghubungkan Kartasura dengan pulau Madura.

Ilustrasi sebuah desa di tepian sungai. Foto: ist

Kali Brantas tidak ketinggalan pentingnya, yang menjadi sarana transportasi Kerajaan Majapahit ke daerah daerah di Nusantara dan Mancanegara. Dalam jaringan pelayaran ini, Surabaya menjadi hubnya.

 

Peran Penting Sungai

Sungai Brantas memang memiliki peran yang sangat penting sebagai tulang punggung ekonomi dan transportasi maritim bagi Kerajaan Majapahit, yang berpusat di pedalaman Jawa Timur. Sungai ini berfungsi sebagai jalur vital yang menghubungkan ibu kota kerajaan di Trowulan (Mojokerto) dengan pesisir utara Jawa, baik melalui Surabaya maupun Pasuruan.

Suma Oriental karya Time Pires. Foto: ist

Sayang, kebanyakan sumber sumber literasi lebih banyak didapat dari penulis penulis asing, seperti Tome Pires dalam karyanya “Suma Oriental” dan Ma Huan dalam karyanya “Ying-yai Sheng-Ian” (Pemandangan-pemandangan Yang Menawan Hati Mengenai Pantai-pantai Samudera), sebuah catatan penting tentang ekspedisi Laksamana Cheng Ho di abad ke-15.

Ying yaitu Sheng lan, Karya Mahuan. Foto: ist

Namun berapa banyak sumber sumber penting tentang maritim Nusantara yang dibuat oleh leluhur asli Nusantara. Tidak sebanyak dari sumber asing. Relief kapal di Candi Borobudur menjadi salah satu bukti otentik kejayaan maritim Nusantara.

Juga ada naskah naskah kuno seperti Negarakertagama dan Pararaton (walaupun lebih fokus pada aspek kerajaan agraris-maritim seperti Majapahit) juga menyebutkan aktivitas perdagangan, ekspedisi laut, dan wilayah kekuasaan maritim.

Satu sumber, yang sangat jelas menyebutkan tentang desa desa di tepian sungai, Naditira Pradesa, adalah Prasasti Canggu (1358 M). Karena kelangkaan itu, harus menjadi upaya kota Surabaya bisa mereplikanya demi penyelamatan data. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *