Sura ing Bhaya, Arek Surabaya Wani.

Budaya Berani

Rajapatni.com: SURABAYA – Arek Surabaya harus berani sebagaimana sudah tersurat dalam arti “Surabaya”, yang diksi asalnya adalah “Sura ing Bhaya”. “Sura” artinya prajurit / orang pemberani dan “Bahaya” adalah bahaya atau tantangan. Jadi “Surabaya” adalah orang yang berani menghadapi bahaya atau tantangan.

Secara alami hidup senantiasa berdampingan dengan bahaya atau resiko. Itulah resiko hidup. Meskipun demikian, manusia harus menghadapinya dan bahkan ada yang telah mengembangkan cara untuk mengelola dan meminimalisir risiko-risiko tersebut.

Apalagi Arek Surabaya atau siapapun di negeri ini dan dimanapun juga di dunia. Secara historis dan kultural arek Surabaya sudah ditempa dengan berbagai bahaya dan tantangan atau resiko. Bahaya perang telah dihadapi mulai dari era Raden Wijaya (abad 13), Trunojoyo (abad 17), Jayapuspita (abad 18), perang kemerdekaan (abad 20) dan “perang” mengisi kemerdekaan (abad 21) sekarang.

Perang Trunojoyo menghadapi pasukan VOC. Foto: ist

Dengan menyandang predikat kota sebagai “Kota Pahlawan”, maka arek Surabaya secara aktif harus berani berjuang, melakukan tindakan semaksimal mungkin untuk meraih tujuan. Pahlawan adalah predikat bagi mereka yang telah berjuang. Tidak ada pahlawan tanpa perjuangan.

Predikat “pahlawan” secara universal diberikan kepada individu-individu, yang telah melalui perjuangan, pengorbanan, dan dedikasi luar biasa, yang sering kali melebihi panggilan tugas mereka, demi kebaikan orang lain, komunitas, dan bangsa.

 

Arek Surabaya

 

Aku Surabaya. Foto: ist

Itulah nilai Arek Surabaya sebagai penghuni kota, yang berpredikat sebagai “Kota Pahlawan”. Karenanya mereka harus bisa mencerminkan semangat kepahlawanan dan partisipasi aktif dalam pembangunan kota.

Wujudnya adalah meneruskan warisan perjuangan para pahlawan dengan semangat pantang menyerah, rela berkorban untuk kepentingan bersama, dan kecintaan yang mendalam terhadap tanah air dan kota.

Diantaranya dengan menghargai dan melestarikan sejarah serta budaya lokal Surabaya dengan mempelajari tradisi, dan berpartisipasi dalam acara-acara budaya untuk memperkuat identitas sebagai warga kota pahlawan.

Selain itu, mereka juga harus bisa inovatif dan adaptif. Yaitu bersikap terbuka terhadap perubahan, memiliki semangat untuk terus belajar, dan berkontribusi dalam menciptakan solusi inovatif untuk kemajuan kota di era modern demi meraih cita cita para pahlawan.

Cita-cita para pahlawan Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.Arek Suroboyo mulai dulu selalu berpedoman pada kepentingan umum. Tentunya dalam menatap masa depan, mereka juga masih akan tetap berpegang teguh pada pedoman itu.

Arek Surabaya berani menghadapi resiko, tantangan dan bahaya, apapun itu. Sura ing Bhaya. (PAN/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *