Slang Surabaya Masuk Belanda.

Aksara

Rajapatni.com: SURABAYA – Ada saja cara dalam mengenalkan Aksara Jawa ke Mancanegara (Belanda). Setelah melalui jalur penulisan pada buku, kini melalui penulisan pada kaos yang secara sosiolinguistik mengusung slang khas Surabaya. Jangan dipandang dari makna negatifnya, tapi pandanglah dari nilai Sosio kulturnya yang positif. Yaitu kata “Jancuk”.

Jancuk adalah salah satu slang yang umum digunakan. Sepintas dan sekilas, kedengarannya kasar dan tidak sopan. “Jancuk” (atau dancok/jancok) adalah umpatan khas Jawa Timur, terutama Surabaya, yang secara harfiah bermakna kasar, namun telah mengalami pergeseran makna menjadi ekspresi keakraban, keheranan, atau kekecewaan antar teman.

Kesurabayaan (nilai Surabaya) ternyata dapat dinilai dari slangnya. Slang adalah ragam bahasa informal, musiman, dan tidak baku yang digunakan oleh kelompok sosial atau komunitas tertentu (seperti remaja atau pengguna internet) untuk berkomunikasi lebih santai, membangun identitas, atau menciptakan keakraban.

Ungkapan slang itu adalah Jancuk, yang umumnya diungkapkan dalam sebuah ekspresi verbal.

Memang, kata “jancuk” (atau sering ditulis jancok, dancok, cok, cuk) adalah kata yang sangat identik dengan budaya Arek Suroboyoan di Surabaya dan Jawa Timur.

Slang ini sering digunakan sebagai alat komunikasi internal (inner) untuk memperkuat identitas diri di dalam kelompok tersebut.

Meskipun secara leksikal/denotatif bermakna kasar (sialan, keparat, brengsek), dalam konteks sosial budaya sehari-hari di Surabaya, kata ini memiliki fungsi ganda. Yaitu ungkapan persahabatan dan keakraban. Di antara teman sebaya atau sahabat karib, “jancuk” justru sering digunakan untuk menunjukkan kedekatan, rasa akrab, dan solidaritas yang kuat.

Selain itu, “Jancuk”, juga digunakan untuk mengungkapkan kekaguman, terkejut, atau kegembiraan.

 

Kenalkan Aksara Jawa

Alain Marlisa dengan kaos beraksara Jawa dan literasi khas Surabaya. Foto: alain

Seorang warga Belanda, Alain Marlisa, menggunakan kata “Jancuk” untuk tulisan kaus. Kata “Jancuk” ini ditransliterasi dalam Aksara Jawa. Akhirnya huruf Latin “Jancuk” bersanding setara dengan aksara Jawa.

Alain Marlisa memposisikan Aksara Jawa setara dengan huruf Latin pada satu ruang kaos. Baginya, Ia merasa ingin memposisikan Aksara Jawa bisa setara dengan Aksara Latin. Alain termasuk orang Belanda berdarah indo Jawa. Mengikuti perkembangan promosi Aksara Jawa melalui media rajapatni.com, Ia pun berinisiatif secara kreatif membuat kaus yang bertuliskan “Jancuk” dengan aksara Jawa.

 

Makna Positif Jancuk

Menurut Alain kata “Jancuk” tidak selamanya negatif karena kata ini juga memiliki makna positif, yang menunjukkan rasa keakraban, kedekatan, dan solidaritas. Kata serupa dengan “Jancuk” juga ada di negerinya.

Bangga dengan kekhasan Surabaya. Foto: alain

Di Amsterdam sama, orang yang sudah akrab di sini bilang “Pik”.kata Alain melalui pesan WhatsApp.

Tidak dipungkiri bahwa kata “Jancuk” di Surabaya (Jawa) serupa dengan kata “Pik” dalam bahasa Belanda di Belanda. Dari berbagai sumber didapati bahwa kata “Pik” memiliki beberapa arti tergantung konteksnya. Tetapi yang paling umum digunakan dalam bahasa gaul, yang mengandung makna makian/umpatan dan secara sosiolinguistik juga digunakan untuk menunjukkan keakraban dan kedekatan.

 

Pik bersifat Maskulin

Dalam bahasa Belanda, kata “pik” adalah kata benda maskulin informal yang merujuk pada alat kelamin pria. Kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari yang sangat kasar atau sebagai makian (umpatan) secara harfiah.

Namun secara konotatif kata “pik” sering digunakan untuk menunjukkan keakraban dan kedekatan. Kata “pik” tergolong Slang. Dalam percakapan santai di kalangan tertentu (seringkali antar teman pria), kata “pik” juga bisa digunakan sebagai kata sapaan seperti “bung”.

Itu serupa dengan kata “Cuk” dalam slang Surabaya yang digunakan untuk menyapa teman (akrab).

Hei, yok opo kabare Cuk?”

Bagi Alain ada nilai sosial dan kultural dari kata “Jancuk”, yang mendasarinya menuliskan kata “Jancuk” yang dibarengi dengan transliterasinya dalam Aksara Jawa.

Alain yang seorang dokter itu mengaku arek Suroboyo karena Bapaknya tinggal di Surabaya. Dia bangga Surabaya dengan identitas pada kaosnya yang bertulis “Jancuk” (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *