Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Menyaksikan proses ekskavasi situs Kumitir dan Klinerejo di Trowulan, Kabupaten Mojokerto dengan talud talud (pagar tembok) yang terkubur tanah memberi gambaran bagaimana situs itu bisa terkubur. Alasannya adalah akibat erupsi gunung, yang terjadi pada masa lalu.
Proses terkuburnya kawasan itu masih sebatas bayangan atas narasi dari beberapa sumber. Baik itu dari keterangan ahli maupun buku buku literasi sejarah.

Atas petunjuk itu, bayangan pun masih melayang layang karena tidak melihat peristiwanya secara empiris.
Berbeda dengan peristiwa terkini ketika peristiwa letusan gunung Semeru di bulan November 2025 menghantam wilayah Lumajang. BNPB melaporkan bahwa akibat erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, sekitar 204 hektare lahan pertanian rusak terdampak erupsi. Rumah dan halaman penduduk pun terbenam (terkubur) oleh material vulkanik.

Rumah dan lahan akibat erupsi Gunung Semeru pada November 2025 ini dilaporkan terkubur material vulkanik, dengan kedalaman bervariasi antara satu hingga tiga meter di beberapa wilayah terdampak, seperti pemukiman di Supiturang, Lumajang.
Sementara kebanyakan bagian dari bangunan luluh lantak. Struktur tembok dan lainnya ada yang hanyut diterjang banjir lahar. Ada rumah, ada sekolah dan bahkan tempat ibadah.
Seiring dengan teknologi alat komunikasi seperti Handphone yang dilengkapi kamera, banyak warga yang mengunggah peristiwa itu. Bagaimana rumah dan bangunan tenggelam dan terseret arus lahar. Pohon tumbang, ternak hilang.

Andai pada zaman dulu ada teknologi yang bisa mengabadikan bagaimana erupsi gunung memporak porandakan Kumitir dan Klinterejo, tentu kita semua akan punya bayangan riil bagaimana situs Kumitir dan Klinterejo terkubur.
Sekarang sudah ada gambaran bagaimana erupsi gunung menenggelamkan peradaban.
Atas musibah itu, diharapkan akan ada upaya dalam mengembalikan rumah dan bangunan yang terdampak.
Mengembalikan rumah dan bangunan, yang rusak akibat erupsi Gunung Semeru, sebagaimana pengalaman erupsi Semeru pada 2021 dapat dilakukan melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dikoordinasikan melalui pemerintah pusat dan daerah, seperti Kementerian Sosial (Kemensos) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dari unsur unsur itu terlihat bahwa ada intervensi pemerintah terkait. Akhirnya bangunan dan rumah terdampak bisa berdiri kembali.
Hal yang sama sesungguhnya serupa dengan bangunan kuno pada situs Kumitir dan Klinterejo, di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Kedua situs ini terkubur akibat letusan gunung.
Situs Kumitir dan Klinterejo ini diperkirakan terkubur akibat bencana alam letusan gunung, Gunung Kelud. Namun, ada juga dugaan bahwa situs-situs tersebut terkubur oleh material dari letusan Gunung Arjuno dan Welirang, atau bahkan akibat banjir bandang yang disebabkan oleh erupsi.
Dari kacamata orang awam, ribuan rumah dan bangunan dapat didirikan kembali sesuai gaya dan arsitektur di zamannya.
Pun demikian dengan dua situs Klinterejo dan Kumitir. Sebagai sebuah komparasi dengan situs bangunan kuno di India dimana masih terdapat unsur unsur seperti istana, puri, dan pagar tembok yang merupakan benteng pertahanan (forts) megah yang tersebar di seluruh negeri, terutama di Rajasthan.

Situs-situs ini mencerminkan teknik arsitektur canggih dan perpaduan gaya (seperti Indo-Saracenic) yang berfungsi sebagai pusat kekuasaan dan perlindungan.
Bagaimanakah dengan situs Klinterejo dan Kumitir? Apakah unsur unsurnya serupa? Ada istana, puri, dan pagar tembok? Tentunya sudah ada kajian dan dugaan dari ahlinya masing masing seperti apakah situs Kumitir dan Klinterejo.
Orang awam dan umum tentu berharap ingin bisa melihat seperti apa kemegahan Majapahit melalui satu situsnya yang bisa di restorasi dan direkonstruksi secara utuh.
Selama ini, sudah dari satu generasi ke generasi berikutnya, kemegahan Majapahit hanya berupa rekonstruksi imajinasi dari serpihan serpihan. Sampai kapan generasi penerus hanya melihat serpihan untuk wujud kemegahan kerajaan besar Majapahit.
Di awal abad 19, Wardenaar, utusan Gubernur Jenderal Raffles, sudah mengawali penelitian arkeologi Trowulan.
Penelitian ini merupakan salah satu upaya sistematis paling awal untuk mendokumentasikan peninggalan arkeologis di wilayah tersebut, dan hasilnya kemudian dimuat dalam publikasi terkenal Raffles, yaitu The History of Java.
Sejak itu sudah lebih dari 200 tahun hanya terdeskripsikan secara naratif akan kebesaran dan kemegahan Majapahit. Semegah apakah? Apakah seperti Benteng Merah (Red Fort) di Agra yang dulunya kediaman kaisar Mughal?
Sungguh penasaran akan kelanjutan hasil ekskavasi Kumitir dan Klinterejo. (PAR/nng)
