Renovasi Demolitif (Rumah Radio Bung Tomo) Versus Renovasi Preservatif (Makam Sunan Ampel)

Sejarah Cagarbudaya

Ada sebuah komparasi di Surabaya. Khususnya dalam urusan pengelolaan cagar budaya dalam i upaya pelestarian cagar budaya itu sendiri. Dua hal yang patut dikomparasikan yaitu makam (nisan) Sunan Ampel Vs bangunan Rumah Radio Bung Tomo.

Menter Kebudayaan Fadli Zon kunjungi Makam Sunan Ampel. Foto: ist

Sebelum kunjungan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon ke makam Sunan Ampel pada Sabtu (22/2/26), kebanyakan orang berfikir bahwa makam asli Sunan Ampel telah terpendam (terkubur) oleh bangunan makam baru sebagai hasil Pemugaran 2021.

Menteri Fadli Zon menengok Pusara Sunan Ampel. Foto: ist

Ternyata tidak. Secara fisik terkesan “terpendam”, tetapi makam aslinya Adalah berada dalam sebuah rongga (ruang) dari struktur bangunan (kijing) makam baru yang terbuat dari marmer.

Nisan asli Sunan Ampel. Foto: ist

Di atas rongga itu ada bejana datar yang terbuat dari plat sebagai tempat bunga. Bejana ini adalah penutup rongga (ruang) yang bisa digeser untuk membuka ruang atau rongga. Di dalam rongga itulah makam asli Sunan Ampel dengan batu nisannya.

Makam Sunan Ampel di masa kolonial. Foto: oudsoerabaia

Renovasi makam Ini menjadi contoh renovasi yang ramah nilai yang tidak menghilangkan keaslian struktur makam yang sudah ada sejak abad 15 M.

Berbeda dengan renovasi bangunan rumah, yang beralamat di jalan Mawar 10 – 12 Surabaya, yang selanjutnya dikenal sebagai Rumah Radio Bung Tomo.

Bangunan rumah bersejarah. Foto: ist

Rumah bersejarah ini juga direnovasi pada tahun 2016. Tetapi renovasinya bersifat demolisi. Bangunan aslinya dirobohkan habis. Tidak tersisa. Lalu didirikan bangunan baru.

Bangunan cagar budaya bersejarah rata dengan tanah. Foto: ist

Pada tahun 1975, juga pernah ada renovasi atas bangunan, yang didirikan pada 1935 dan dimanfaatkan sebagai tempat penyiaran radio perjuangan Bung Tomo pada 1945. Tetapi renovasi itu (1975) tidak menghabiskan bangunan. Hanya bersifat penambahan pada tampak fasad dan samping serta sebagian tata ruang interior.

Rumah baru berdiri di atas situs cagar budaya di jalan Mawar yang kini tanpa nomor 10. Foto: ist

Namun Renovasi tahun 2016, yang bersifat demolisi itu menghabiskan bangunan. Lahan di Mawar 10 itu sempat bersih dari jejak bangunan asli sampai tahun 2017 ketika bangunan baru didirikan. Ini renovasi yang menghabisi bangunan asli.

Berbeda antara renovasi bangunan makam Sunan Ampel dan bangunan Rumah Radio Bung Tomo.

Pada bangunan makam Sunan Ampel, meskipun sudah terlihat struktur baru tapi masih memiliki bangunan (nisan) aslinya.

Bayangkan dengan bangunan baru di atas situs Mawar 10 Surabaya. Bangunan asli tidak berbekas. Ini renovasi yang demolisi, bukan preservasi.

Tindakan ini (renovasi Demolisi) adalah masalah serius dalam perlindungan warisan budaya. Dalam dunia konservasi, tindakan ini sering disebut sebagai “destruksi terselubung” atau salah urus restorasi, di mana niat memperbaiki justru menghilangkan nilai sejarah, keaslian (otentisitas),

Renovasi demolitif, atau demolition & rebuild, adalah proses renovasi berat di mana sebagian besar atau seluruh struktur bangunan lama dibongkar, lalu dibangun kembali menjadi rumah baru atau rumah yang jauh lebih modern.

Renovasi preservatif (preservative renovation/preservation) adalah serangkaian tindakan terencana untuk melindungi, memelihara, dan mempertahankan kondisi fisik asli suatu bangunan atau objek bersejarah agar tidak rusak atau hancur. Fokus utama pendekatan ini bukanlah mengubah atau memodernisasi, melainkan menjaga keaslian material dan struktur bangunan (authenticity). (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *