Aksara Budaya
Rajapatni com: SURABAYA – Menjelang tutup tahun 2025 dan buka tahun 2026, Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya menggelar Forum Komunikasi Pemerhati RRI Surabaya di ruang Majapahit, RRI Surabaya di jalan Pemuda Surabaya pada Jumat ( 5/12/25).
Dalam forum, yang langsung dipimpin oleh Kepala RRI Surabaya, Unggul Supriyadi, S.Sos., M.Si., terlebih dahulu diawali dengan survey

Program Unggulan LPP RRI Surabaya dan Survei Indeks Kualitas Paket Produksi Konten Siaran LPP RRI Surabaya.
Selanjutnya para mitra pemerhati RRI Surabaya, yang sekaligus para Narasumber RRI dalam program RRI mulai dari Pro 1, Pro 2, Pro 3 dan Pro 4 diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan pendapat demi peningkatan kualitas siaran dan layanan RRI Surabaya.
“Sampaikan dengan sejujurnya ya agar kami bisa berbenah dan meningkatkan kualitas siaran. Kami sebagai LPP RRI ini menampung dan menjadi wadah berbagai komunitas, termasuk komunitas disabilitas”, jelas Unggul Supriyadi, Kepala LPP RRI Surabaya dalam sambutannya.
Salah satu dari komunitas di bidang siaran budaya Pro 4 adalah Puri Aksara Rajapatni, yang bergerak di bidang budaya aksara Jawa.
“Ketika kami diajak pak Afnani mengisi siaran radio, saya merasa kesulitan dalam menyampaikan dan menampilkan Aksara Jawa secara tertulis. Karena Aksara Jawa ini bentuknya harus bisa dilihat seperti konsep pengenalan kami. Yaitu Kemata, Kewaca, Ketata dan Kerasa. Sementara Radio basicnya adalah suara. Maka dalam diskusi radio dalam studio, kami membahas perihal kegiatan dan pentingnya menggunakan dan melestarikan aksara Jawa”, demikian penjelasan Nanang Purwono sebagai Ketua Puri Aksara Rajapatni.
Menurut Nanang untuk mewakili dan mempresentasikan penulisan aksara Jawa bisa diganti melalui flyer dimana nama acara dan tema tema diskusi dapat ditulis dalam aksara Jawa.
“Termasuk sebagai dukungan pelestarian aksara Jawa, RRI Surabaya bisa menuliskan nama RRI Surabaya dengan Aksara Jawa” tambah Nanang.

Dalam menanggapi usulan dan pandangan Puri Aksara Rajapatni, Kepala RRI Surabaya Unggul Supriyadi mengakui mendapati kesulitan karena tidak ada karyawan RRI yang paham penulisan aksara Jawa.
Unggul pun bertanya kepada Puri Aksara Rajapatni apakah bisa membantu memberikan contoh penulisan aksara Jawanya jika dibutuhkan. Tentu Puri Aksara Rajapatni siap demi pelestarian dan pemajuan aksara Jawa.

Mengingat keterbatasan waktu dan acara harus selesai sebelum Sholat Jumat, maka tidak semua undangan bisa menyampaikan pendapatnya.
“Saya mohon maaf jika tidak semua undangan bisa menyampaikan pendapatnya karena keterbatasan waktu, tapi kami sangat berterima kasih atas kedatangannya”, pungkas Unggul. (PAR/nng).
