Prasasti Canggu Tentang Syurabhaya Terdata no. KERN E.54c-vz. di Leiden University Library.

Aksara Prasasti

Rajapatni.com: SURABAYA – Mengapa Prasasti Canggu (1358 M) ini penting? Ini adalah data sejarah primer tentang Surabaya dimana nama Surabaya (Syurabhaya) dituliskan. Syurabhaya dikisahkan sebagai Naditira Pradesa (desa di tepian sungai), yang salah seorang warganya bernama Panji Margabhaya, berhati baik menyediakan jasa penambangan (penyeberangan).

Naditira Pradesa di tepian sungai Brantas (Surabaya) ini tidak hanya Syurabhaya saja, di wilayah administrasi kota Surabaya juga ada i Bkul (Bungkul) dan i Gsang (Pagesangan). Ini sejarah faktual dan otentik yang perlu dijaga. Minimal prasasti aslinya perlu diduplikatkan.

Dalam sebuah rapat online dengan pihak Museum Nasional Indonesia pada bulan Maret 2023, duplikat bisa diminta dengan pengajuan dari pihak terkait dari pemerintah kota Surabaya.

 

Menjaga Ingatan Kolektif

Kata Syurabhaya dalam kotak. Foto: nng

Demi menjaga ingatan kolektif Surabaya ini, gagasan menduplikasi prasasti Canggu untuk menambah khazanah sumber informasi sejarah Surabaya sudah disampaikan kepada pihak pihak terkait sejak tahun 2023.

Namun sampai tahun berganti tahun, kini sudah masuk tahun 2026, realisasi duplikasi prasasti Canggu masih belum terbukti. Malah yang diduplikasi adalah prasasti Kamalagyan, yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sejarah Surabaya. Duplikat prasasti Kamalagyan pernah dipajang di Museum Surabaya di Siola sebelum museum direnovasi.

Sementara Prasasti Kamalagyan bercerita tentang Raja Airlangga yang membangun bendungan di Waringin Sapta (sekarang Wringinpitu, Sidoarjo) untuk mengatasi banjir Sungai Brantas di Kamalagyan, sekarang di Dusun Klagen, Krian. Disanalah prasasti Kamalagyan masih insitu.

Prasasti Canggu (1358 M) dan Prasasti Kamalagyan (1037M adalah prasasti yang berbeda dengan masa yang berbeda pula. Canggu di era Majapahit dengan Raja Hayam Wuruk. Sedangkan prasasti Kamalagyan di era Kahuripan dengan Raja Airlangga.

 

Dari 5 Lempeng Jadi 1

Ketika prasasti Canggu ditemukan di Dukuh Pelem, Desa Temon, Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, jumlahnya ada 5 lempeng tembaga dengan ukuran 36,5 cm x 10,5 cm (berdasarkan sumber dari Epigraf Gunawan Sambodo, yang mengutip tulisan  Boechari dan AS Wibowo).

Namun sayang prasasti yang berjumlah 5 lempeng itu kini hanya tersisa satu lempeng dan tersimpan di Museum Nasional Indonesia (MNI) di Jakarta. Ada jejak registrasi peninggalan Belanda E.54.

Sebelum menjadi Museum Nasional Indonesia, cikal bakalnya adalah sebuah himpunan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG), yang didirikan pemerintah kolonial Belanda pada 24 April 1778, yang kemudian berkembang menjadi lembaga ilmiah dan koleksi museum, lalu diubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia, sebelum akhirnya menjadi Museum Nasional Indonesia seperti sekarang.

Satu satunya lempeng yang tersimpan di sana adalah yang teridentifikasi dengan nomor E.54 dengan side A dan side B. Sedangkan nama Syurabhaya ditemukan pada side B.

 

Duplikasi

Fifia Wardhani, staf museum yang ahli epigraf mengatakan, bahwa kata Syurabhaya terdapat pada side B atau E54c-vz baris keempat dari atas. Nomor ini teregistrasi di Leiden University KERN E54c-vz.

Prasasti Canggu dalam catatan Leiden university Library. Foto: ist

Entah, secara digital nomor registrasi itu ada di Leiden University dan bahkan tercatat ada delapan sisi dengan nomor masing masing, yang berarti ada 4 lempeng termasuk nomor KERN E54c-vz, yang memuat tentang Syurabhaya. Apakah lempeng lainnya masih ada di sana?

Nama Syurabhaya dalam data perpustakaan Universitas Leiden. Foto: ist

Bila ketika ditemukan dikabarkan ada lima lempeng dan sekarang yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia (MNI) Jakarta ada cuma satu, dimanakah lainnya? (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *