Prasasti Canggu Masih Ada, Replikalah untuk Acuan Sejarah Surabaya.

Sejarah Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Mumpung ada barangnya. Jelas tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Sekarang tinggal niat baik (good Will) untuk pengkayaan khasanah kesejarahan kota Surabaya. Khasanah artefak yang menjadi sumber sejarah kota Surabaya. Yaitu Prasasti Canggu.

Melacak Prasasti Canggu ke Museum Nasional pada 23 November 2022. Foto: doc

Kiranya sangat bijak mencari sumber, yang memang ada dan otentik adanya. Bukan mencari yang tidak ada dan tidak jelas keberadaannya. Kasihan anak cucu yang kelak mencari sumber sejarah kotanya.

 

Recording The Future

KITLV, sebuah lembaga kearsipan kerajaan Belanda saja sudah merekam dan mendokumentasikan Indonesia, termasuk Surabaya hingga 100 tahun ke depan!, yaitu hingga tahun 2100. Programnya bernama “Recording the Future”. Sementara kita, mungkin masih enggan mendokumentasikan masa lalu. Nanti kalau sudah hilang dan tiada mencarinya, semua bingung.

Jika begitu, sampai 100 tahun ke depan, anak cucu akan terus tergantung pada bangsa lain perihal dokumentasi. Bagaimana wajah Surabaya tahun 2000, 2002 dan seterusnya. KITLV sudah memprosesnya hingga tahun 2100. Tentu saja mereka akan punya dokumentasi Surabaya mulai tahun 1865 hingga 2100.

Kita saja, untuk mencari dokumentasi lama, masih membutuhkan data KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) atau Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda. Sebuah kelembagaan negara yang terancang dan terstruktur dengan baik dan jelas.

Dalam kurun waktu 100 tahun, mulai 2000 hingga 2100 pasti akan ada pergantian kepemimpinan, namun blue print sebuah program akan terus dipakai meski pemimpin akan terus berganti.

Yang dilakukan KITLV adalah kebijakan negara yang harus diemban oleh siapapun pejabat yang menduduki dan memimpin lembaga itu. Bisakah kita?

Karenanya, mari, terhadap yang sudah sudah dan mumpung masih ada buktinya, mari diselamatkan isinya. Meski harus menduplikatnya. Duplikat!

Mendung di atas Museum Nasional Indonesia. Foto: doc

Artefak yang menjadi sumber sejarah Surabaya sebagai sebuah Naditira Pradesa masih ada. Keberadaannya ada di Museum Nasional Jakarta. Dari data Naditira Pradesa menjadi kota Pelabuhan Dunia seharusnya menjadi kajian menarik. Bagaimana kok bisa seperti itu? Ini pertanyaan menarik.

Kita boleh bermimpi menjadi masa depan, tapi harus selalu berpijak pada bumi dari mana kita berangkat. Surabaya berangkat dari sebuah desa di tepian sungai (Naditira Pradesa), lalu menjadi sebuah kota pelabuhan dunia (world’s port city).

Prasasti Canggu dalam genggaman nyata. Foto: doc

Buktinya apa sebagai sebuah Naditira Pradesa? Ya itu. Prasasti Canggu.

 

Surabaya Wilayah Majapahit

Surabaya pada abad 14 dan 15 adalah wilayah kekuasaan Majapahit. Dengan muara sungainya, Surabaya memegang posisi yang strategis di pesisir utara Jawa dan menjadikannya pelabuhan utama dan pusat perdagangan yang ramai bagi kerajaan Majapahit.

Dalam dinamika wilayah itu, orang orang Surabaya saling berkomunikasi. Bahasanya adalah bahasa Jawa kuno atau Kawi. Penggunaan bahasa dan aksara Jawa kuno ini sebagaimana digunakan dalam prasasti Canggu. Dengan demikian, Prasasti Canggu juga sebagai dokumentasi literasi masyarakat kala itu.

I Bkul dan I Syurabhaya dalam prasasti Canggu. Foto: doc

Surabaya juga sebagai salah satu Pusat Kekuatan Maritim Majapahit. Melalui Surabaya yang berfungsi sebagai pelabuhan ini, Majapahit mengontrol rute perdagangan maritim di wilayah nusantara bagian timur. Salah satu gugus armada laut Majapahit di tempatkan di perairan laut Utara Surabaya yang menjadi penghubung Nusantara Timur hingga pedalaman Majapahit. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *