Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Surabaya menjadi sebuah kota besar, yang berskala internasional bukan tanpa proses. Surabaya memang telah bertransformasi menjadi kota metropolitan berskala internasional melalui proses panjang yang melibatkan pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial budaya secara berkelanjutan.
Kota ini tidak hanya berkembang dari segi fisik, tetapi juga sebagai pusat kegiatan perdagangan, industri, dan pendidikan serta budaya di Indonesia Timur.

Berangkat dari fakta artefak prasasti Canggu (1358 M) dan Kitab Negarakertagama (1356 M) disebutkan bahwa Syurabhaya (Surabaya) adalah sebuah Naditira Pradesa atau desa di tepian sungai (Brantas/Kalimas).

Penulisan Syurabhaya pada Prasasti Canggu karena Syurabhaya dicatat berfungsi sebagai tempat penyeberangan (penambangan) sungai yang penting dalam melayani mobilisasi masyarakat serta pos-pos perdagangan di masa Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1334–1389) atau abad 14.
Dari abad 14 hingga masuknya kolonial Belanda pada abad 17, yang dilanjut pada pasca kemerdekaan pada abad 20 adalah proses panjang. Akhirnya Sekarang, Surabaya menjadi salah satu kota besar di Nusantara.

Tonggak Pasak Sejarah Surabaya

Dalam perjalanan panjang itu Surabaya memiliki Tonggak dan Pasak sejarah. Tonggak tonggak dan pasak pasak sejarah itu harus jelas dan kuat. Secara harfiah Tonggak adalah penanda. Sedangkan pasak adalah benda padat yang digunakan untuk menyatukan atau menahan benda lain.
Karenanya Tonggak Sejarah harus ditancapkan sebagai Pasak Sejarah, yang berfungsi sebagai pengingat fisik dan simbolis bagi masyarakat saat ini dan generasi mendatang akan peristiwa, tokoh, atau periode penting yang telah terjadi, dan untuk memastikan agar ingatan kolektif tidak pudar.
Selain itu Tonggak dan Pasak Sejarah Surabaya itu menjadi bukti konkret atau pengakuan resmi suatu peristiwa sejarah yang diyakini kebenarannya dan memberikan legitimasi pada narasi sejarah tersebut.
Dari sisi pendidikan Tonggak dan Pasak Sejarah itu bisa berperan sebagai media edukasi untuk mengajarkan sejarah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat sekarang dan mendatang.
Salah satu Tonggak-Pasak Sejarah penting Surabaya adalah prasasti Canggu (1358 M). Museum Surabaya harus memilikinya, meski berupa Replika Prasasti Canggu.

Untuk sementara Museum Surabaya hanya memiliki serial gambar/sketsa yang salah satu sketsanya menceritakan Syurabhaya sebuah Naditira Pradesa.
Petunjuk Penduplikatan

Dari komunikasi dan petunjuk dari pihak Museum Nasional, disarankan bahwa pihak Pemerintah Kota Surabaya diharapkan mengajukan surat permohonan duplikat atau replika untuk dibuatkan replikanya. Ketika dihubungi oleh Puri Aksara Rajapatni, pihak Museum Nasional (2023) menginformasikan bahwa setiap replika, yang keluar akan diregistrasi dan didata sebagai jumlah populasi replika yang keluar.
Pesan dari Museum Nasional ini telah disampaikan ke pihak Museum Surabaya ketika sedang dalam persiapan pembukaan hasil renovasi Museum Surabaya di gedung Siola pada 2024. (PAR/nng).
