Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Berkolaborasi dengan sebuah organisasi profesional di bidang budaya dan heritage, TiMe Amsterdam Belanda, pada 2024 berbuah hasil “Living Library” (Perpustakaan Hidup), dimana pengunjung tidak harus datang dan membaca di satu satunya Pemakaman Eropa, yang masih ada di Surabaya. Layaknya di sebuah perpustakaan, pengunjung datang umumnya untuk membaca guna mendapatkan informasi sesuai dengan isi buku yang dipinjam.

Datang ke Perpustakaan Hidup Makam Eropa Peneleh tidak untuk membaca, tetapi melakukan pengamatan lingkungan makam dan interview dengan warga atau orang setempat, yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang Makam masyarakat Eropa dimana warga Eropa pernah berdiam di Surabaya.
Living Library

Living Library adalah sebuah konsep inovatif di mana orang-orang nyata (disebut “buku”) berbagi kisah dan pengalaman mereka dengan “pembaca” (orang yang ingin belajar) dalam lingkungan yang santai, dengan tujuan utama untuk memperoleh informasi dan menantang stereotip dan prasangka melalui dialog personal.
Dalam konsep “Peneleh as a Living Library”, object “buku” tidak hanya orang, tetapi yang lebih penting adalah keberadaan Makam dan lingkungan itu sendiri.
Ada tiga variabel, yang menjadi object dalam konsep ini. Yaitu a) makam, b) lingkungan dan c) orang (warga). Makam adalah Makam Eropa Peneleh, lingkungan adalah kawasan Peneleh dan Orang adalah warga setempat. Tiga variabel itu adalah “buku”.
Agar “buku buku” itu menarik maka “buku buku” sebagai sumber ilmu dan pengetahuan harus ditata dan diatur pada tempat, yang menarik dan nyaman. Tempat adalah Makam Eropa Peneleh sebagai “buku utama”.
Maka hadirlah sebuah program “Peneleh as a Living Library”, yang projectnya didukung oleh Dutch Culture, organisasi jaringan dan pengetahuan untuk kerja sama budaya internasional di Belanda.
Makam Eropa Peneleh Surabaya
Di Surabaya, kerjasama ini tentu melibatkan pemerintah kota, yang memang mengampu kawasan dan makam Eropa Peneleh. Project ini memang berproses, yang setidaknya sebagai awalan sudah dapat dipandang akan diciptakan sebagai apa kawasan Peneleh dan Makam Eropa Peneleh nya.
Makam Eropa Peneleh adalah object yang menjadi penentu karena memiliki latar belakang historis dan kultural dengan pemerintah Kerajaan Belanda.

Meski demikian Living Library ini tidak hanya untuk kepentingan warga Belanda. Justru yang lebih penting adalah untuk warga Surabaya sendiri. Demikian pernah dikatakan oleh mitra kerja atas nama TiMe Amsterdam, Max Meijer.
Penting

Pengembangan Makam Eropa Peneleh sangat penting karena berfungsi sebagai dokumentasi sejarah sosial dan budaya Surabaya, pusat edukasi dan wisata sejarah, jembatan diplomasi antar bangsa (Indonesia-Belanda), dan ruang revitalisasi identitas kota, menjadikannya aset cagar budaya yang melestarikan warisan kolonial, kisah tokoh penting, serta memperkuat ikatan komunitas melalui kegiatan konservasi, riset, dan pariwisata berbasis sejarah.
Setidaknya project The Living Library ini telah membuka gerbang pemahaman berbagai pihak untuk memanfaatkan Makam Eropa Peneleh untuk berbagai tujuan mulai dari pendidikan, ilmu pengetahuan, penelitian, kebudayaan, pariwisata dan ekonomi.
Project bersama Dutch Culture memang memiliki waktu terbatas, yaitu tahun 2024, tetapi menjadi kewajiban pemerintah kota dan masyarakat Surabaya untuk menindak lanjuti untuk tujuan tujuan yang diinginkan.
Diplomasi
Setidaknya melalui project ini ada tujuan Diplomasi dan Kerjasama Internasional. Kerjasama ini menjadi Jembatan Dua Bangsa, yaitu menjadi simbol hubungan historis antara Surabaya dan Belanda, melalui kolaborasi konservasi antara komunitas di Indonesia dan Belanda.
Selain itu project bersama, yang berawal dari Living Library (Perpustakaan Hidup) ini, bisa dikembangkan menjadi Museum Hidup (Living Museum) yang selanjutnya bisa menjadi Taman Kenangan (Memorial Park) yang informatif dan interaktif.
Masih adakah potensi lainnya selain Peneleh? Ada ! (PAR/nng)
