Pertemuan Aksara Jawa dan Lontara di Surabaya. 

Aksara

Rajapatni.com: SURABAYA – Masih permulaan. Aksara Lontara, yang juga dikenal sebagai aksara Bugis, Makassar, ada di Surabaya. Lontara adalah salah satu aksara tradisional Indonesia, yang berkembang di Sulawesi Selatan. Aksara ini datang bersama warga asal Makassar, yang kini tinggal di Sidoarjo. Namanya Anna.

Pada Kamis siang (23/7/25) Anna ada urusan bisnis di Surabaya dan bertemu dengan tim Puri Aksara Rajapatni, pegiat aksara Jawa Surabaya. Kedua aksara daerah, yang mereka miliki ini tidak ada hubungannya, tapi masing masing adalah bagian dari aksara Nusantara.

Dua aksara satu bangsa, Indonesia. Foto: nng

Secara anatomi, aksara daerah Jawa memiliki tarikan garis dengan lengkung yang khas seperti “ha” (ꦲ), “na” (ꦤ), “ca” (ꦕ), dan seterusnya. Sementara anatomi aksara Lontara memiliki tarikan garis garis lurus dan menyudut (siku).

Anna masih ingat ingat lupa mengenai aksara Lontara. Ia pernah belajar Lontara ketika masih di bangku SD. Selanjutnya tidak mendapat mata pelajaran Aksara Lontara. Kasusnya sama dengan Aksara Jawa.

Pada Kamis siang Anna pada pertemuan sosial di Surabaya, Anna sempat melihat kaos yang digunakan oleh salah satu anggota Puri Aksara Rajapatni dengan tulisan aksara Jawa. Termasuk tulisan aksara Jawa yang ditampilkan pada HP. Mulailah mereka saling berbagi wawasan aksara tradisional masing masing.

Anna pun mencontohkan menulis aksara Lontara pada secarik kertas. Anna juga memperlihatkan aksara Lontara yang ditampilkan pada layar HP. Mereka saling memberi informasi mengenai perkembangan aksara masing masing dan upaya Pemajuannya.

Beda tarikan garis. Sama sama identitas bangsa. Foto: ist

DisampaIkan oleh Novita, sekretaris Puri Aksara Rajapatni bahwa komunitasnya sejak dua tahun terakhir telah berupaya memperkenalkan aksara Jawa di Surabaya baik melalui pendekatan formal ke pemerintah kota Surabaya maupun secara mandiri ke masyarakat kota Surabaya, termasuk melalui sosial media.

Sementara menurut Anna di daerah asalnya belum ada upaya serupa terhadap aksara Lontara. Menurutnya upaya seperti yang dilakukan di Surabaya ini perlu dilakukan di Makassar untuk menjaga aksara tradisional agar jangan sampai punah.

Disadari bahwa salah satu suku di Sulawesi, seperti suku Cia Cia di Bau Bau, sudah kehilangan aksara tradisional dan malahan menggunakan aksara asing Hangeul Korea. Aksara ini bahkan digunakan secara resmi di lingkungan sekolah dan pemerintahan.

Harus ada upaya menjaga dan melindungi demi pelestarian aksara daerah karena ancaman akan degradasi nilai semakin nyata. Aksara tradisional terdesak oleh aksara asing dan yang menjadi ironis adalah aksara daerah semakin menjadi asing yang lebih asing daripada aksara asing seperti Jepang, China dan Korea.

Dibandingkan dengan penggunaan bahasa daerah, yang masih ada penggunanya (penuturnya) dan apalagi semakin disadari pentingnya penggunaan bahasa daerah, maka di beberapa daerah di Jawa Timur seperti di Surabaya sudah ada program kewajiban berbahasa Jawa di sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang disebut Kamis Mlipis.

Belum lama Balai Bahasa Jawa Timur juga mengadakan Bimtek Guru Mengajar (GM) Bahasa Jawi. Setelah kewajiban berbahasa Jawa di SD dan SMP di Surabaya, bisa jadi menyusul kabupaten Sidoarjo yang akan melakukan kegiatan Revitalisasi Bahasa Jawa.

Revitalisasi bahasa Jawa penting untuk melestarikan warisan budaya, memperkuat identitas, dan mencegah kepunahan bahasa daerah tersebut. Dengan revitalisasi bahasa Jawa, penutur muda dapat aktif menggunakan bahasa tersebut, dan bahasa Jawa juga dapat menemukan fungsi dan ranah baru dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi bagian dari kreativitas dan inovasi.

Sementara juga penting revitalisasi aksara jawa yang juga sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya, memperkuat identitas, dan mendorong pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah dan budaya Jawa. Dengan memahami dan menggunakan aksara Jawa, generasi muda dapat lebih menghargai kekayaan budaya mereka, serta berpartisipasi dalam pelestarian dan pengembangannya di era digital.

Untuk itu antar pemilik aksara daerah harus bisa saling menguatkan demi menjaga aksara masing masing. Diharapkan bisa muncul supporting group untuk saling dukung dalam penguatan aksara daerah di lintas daerah.

Pertemuan sosial antara pegiat aksara Jawa Rajapatni dan Anna, warga Makassar yang kini tinggal di Jawa Timur dan bekerja di bawah bendera Grup Kalla (jaringan bisnis keluarga Jusuf Kalla, wakil presiden RI ke 10 dan 12), bisa saling memperkuat eksistensi aksara daerah masing masing.

Langkah kedua pegiat di kedua daerah ini masih awal tapi langkah kecil lebih bagus untuk memulai langkah besar. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *