Perempuan Perkasa Bagai Princess Warriors Sebelum R.A. Kartini.

Sejarah, Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Jauh sebelum era kolonial dan perjuangan emansipasi R.A. Kartini, Nusantara, khususnya pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga ke-15), memiliki tradisi kuat di mana perempuan menempati posisi strategis dalam politik, pemerintahan, dan kehidupan sosial. Perempuan Jawa kuno pra-kolonial dikenal lebih bebas berekspresi dan berkuasa, bahkan dalam beberapa catatan dianggap lebih “perkasa” dibandingkan masa kolonial di mana peran mereka dibatasi.

Pada masa itu (Majapahit) dikenal tokoh tokoh perempuan yang emansipatif, ekspresif, dan perkasa.

Ada tokoh tokoh perempuan yang digambarkan tangguh, strategis, dan perkasa dalam menopang kejayaan kerajaan. Mereka ini bagai princess warriors.

Gayatri Rajapatni, ratu tanpa mahkota dan memilih jadi bhiksuni. Foto: ist

Pertama adalah Gayatri Rajapatni (Pembangun Visi Majapahit) . Gayatri adalah putri bungsu Raja Kertanegara (Singasari) dan istri Raden Wijaya (pendiri Majapahit). Ia dikenal sebagai sosok intelektual yang cerdas dan visioner.

Setelah suaminya wafat, Gayatri menjadi penasihat utama dan “otak” di balik kejayaan Majapahit. Ia adalah tokoh yang berada di balik layar pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi.

Meskipun ia memilih untuk menjadi bhiksuni (pendeta Buddha) daripada bertahta langsung, pengaruhnya sangat besar dalam melahirkan visi penyatuan Nusantara dan menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih.

Tribhuwana Tunggadewi. Foto: ist

Kedua, Tribhuwana Wijayatunggadewi (Ratu Besi Pertama). Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah Putri dari Gayatri Rajapatni dan Raden Wijaya. Ia bertahta sebagai Raja Majapahit ketiga (1328–1350).

Ia adalah Ratu Penguasa Tertinggi, yang membawa Majapahit mencapai puncak kejayaan awal. Tribhuwana memimpin langsung pasukan untuk memadamkan pemberontakan di Sadeng dan Keta. Di bawah pemerintahannya, Sumpah Palapa Gajah Mada diikrarkan, menandai dimulainya ekspansi besar-besaran Majapahit.

Suhita. Foto: ist

Ketiga adalah Dyah Suhita (Ratu Kencana Wungu). Ia adalah ratu perempuan kedua yang memimpin Majapahit pada periode 1429–1447.

Ia naik tahta di tengah situasi politik yang tidak stabil, yaitu setelah Perang Paregreg (perang saudara).

Suhita berhasil mempertahankan legitimasi kerajaan, memulihkan ekonomi yang sempat goyah, dan menjaga stabilitas Majapahit di tengah tekanan kekuatan baru dari pesisir utara.

Buku tulisan Earl Drake tentang Rajapatni. Foto: ist

Dari ketiga tokoh perempuan itu, Peran Perempuan Majapahit sebelum Era Kolonialberdasarkan studi sejarah (seperti dalam buku Earl Drake, Rajapatni) menunjukkan bahwa perempuan pada masa itu memiliki hak yang setara dengan laki-laki dalam politik dan pemerintahan.

Perempuan bisa menjadi kepala negara (ratu) dan penguasa wilayah (Bhre), contohnya adalah Gayatri Rajapatni, perempuan Jawa kuno yang terlibat aktif dalam diskusi kebijakan tingkat tinggi.

Jajaran tokoh sentral kerajaan Majapahit. Foto: ist

Waktu itu perempuan sudah memiliki kebebasan bertindak dan mengambil inisiatif pribadi yang lebih luas dibandingkan periode setelahnya (abad ke-19), termasuk di era Raden Ajeng Kartini.

Gayatri Rajapatni. Foto: ist

Pergeseran peran perempuan dari pemimpin perkasa menjadi lebih domestik terjadi secara bertahap, yang dipengaruhi oleh konversi agama dan terutama kebijakan kolonial Belanda yang tidak menginginkan kekuasaan besar di tangan perempuan.

Raden Ajeng Kartini. Foto: ist

Karena itu Raden Ajeng Kartini bangkit dalam mengembalikan emansipasi perempuan melalui surat suratnya yang dikumpulkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *