꧌ꦥꦼꦤꦸꦭꦶꦱꦤ꧀꧍ Penulisan Aksara Jawa Mengiringi Acara “Pasar Panganan Giri Biyen”

Aksara

Rajapatni.com: SURABAYA – Hadirnya Wali Sanga ꧌ꦝꦭꦩ꧀꧍ dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa dikenal sangat memperhatikan pendekatan ꧌ꦏꦸꦭ꧀ꦠꦸꦫꦭ꧀꧍  kultural, yang artinya menghormati dan mengadopsi kebiasaan setempat. ꧌ꦥꦿꦺꦴꦱꦺꦱ꧀꧍ Proses pengajaran ini dilakukan dengan lembut dan bijak, termasuk dalam hal ꧌ꦭꦶꦠꦼꦫꦱꦶ꧍ literasi.

Misalnya di era Sunan Giri, yang bertempat di ꧌ꦒꦽꦱꦶꦏ꧀꧍ Gresik, dimana masyarakat lokalnya ada yang sudah terbiasa menggunakan aksara Jawa. Bukti bukti penulisan ꧌ꦩꦼꦔ꧀ꦒꦸꦤꦏꦤ꧀꧍ menggunakan aksara Jawa ini banyak ditemukan di wilayah Gresik. Utamanya di komplek komplek pemakaman tua. Selain di beberapa masjid. Belum lagi manuskrip manuskrip ꧌ꦏꦸꦤ꧍kuno yang tersebar di ꧌ꦮꦶꦭꦪꦃ꧍ wilayah ini.

Di abad 15 ꧌ꦲꦶꦔ꧀ꦒ꧍ hingga ke 16 misalnya, peradaban tulis memang masih umum menggunakan ꧌ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧍ aksara Jawa. Namun seiring dengan pesatnya dakwah Islam, mulai lah ꧌ꦧꦼꦂꦑꦼꦩ꧀ꦧꦁ꧍ berkembang pesat penggunaan Aksara Arab Pegon (bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab).

Sunan Giri adalah ꧌ꦱꦭꦃꦱꦠꦸ꧍ salah satu Wali Songo, yang berperan besar menyebarkan Islam di Jawa, terutama melalui pendidikan dengan mendirikan pesantren di ꧌ꦒꦶꦫꦶꦏꦼꦝꦠꦺꦴꦤ꧀꧍ Giri Kedaton, Gresik, serta menggunakan pendekatan kultural seperti ꧌ꦩꦼꦚ꧀ꦕꦶꦥ꧀ꦠꦏꦤ꧀꧍ menciptakan lagu anak-anak (“dolanan”) dan permainan bernuansa Islami untuk menarik hati masyarakat, menjadikannya pusat dakwah yang ꧌ꦠꦺꦴꦭꦺꦫꦤ꧀꧍ toleran dan inovatif tanpa paksaan.

Dalam sebuah gelaran “Pasar Panganan Giri Biyen” di Dusun Kajen, Desa Giri, Kecamatan ꧌ꦏꦼꦧꦺꦴꦩꦱ꧀꧍ Kebomas, Kabupaten Gresik, pada Minggu Kliwon pagi (18/1/26) menarik perhatian banyak khalayak. Pastinya di sana ꧌ꦧꦚꦏ꧀꧍ banyak aneka jajanan dan kulineran. Tidak ketinggalan ꧌ꦠꦿꦝꦶꦱꦶ꧍ Tradisi tulis, yang memang pernah ada di zaman Sunan Giri.

Penulisan pada flyer. Foto: nng

Yakni penggunaan ꧌ꦠꦸꦭꦶꦱꦤ꧀꧍  tulisan aksara Jawa. Budaya tulis menggunakan aksara Jawa adalah tradisi lama masyarakat Gresik, yang masih ꧌ꦱꦔꦠ꧀꧍ sangat pantas disajikan mengiringi “Pasar Panganan Giri Biyen” atau Giri Tempo Dulu.

Penggunaan kembali ꧌ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧍ aksara Jawa melalui acara budaya ini adalah cocok, minimal dipakai untuk penamaan jajanan masa lalu yang khas di Gresik. ꧌ꦝꦶꦄꦏꦸꦮꦶ꧍ Diakui bahwa penulisan aksara Jawa ini belum umum pada masa sekarang. Namun panitia sudah menggunakannya pada flyer, kantor ꧌ꦥꦤꦶꦠꦶꦪ꧍ panitia acara dan tempat penukaran koin gobog.

Penulisan di salah satu stand peserta. Foto: nng

Misalnya “penampi arta” (ꦥꦼꦤꦩ꧀ꦥꦶꦄꦂꦠꦺꦴ), “Pawon kupat Keteg Delima Giri” (ꦥꦮꦺꦴꦤ꧀ꦏꦸꦥꦠ꧀ꦏꦼꦠꦼꦒ꧀ꦝꦼꦭꦶꦩꦒꦶꦫꦶ) dan “Pasar Panganan Giri Biyen” (ꦥꦱꦂꦥꦔꦤꦤ꧀ꦒꦶꦫꦶꦧꦶꦪꦺꦤ꧀).

Menurut panitia Arief bahwa di ꧌ꦮꦏ꧀ꦠꦸ꧍ waktu mendatang akan lebih diperkenalkan penggunaan penulisan aksara Jawa.

Layanan penukaran uang gobog. Foto: nng

“Sementara lewat panitia dilu, selanjutnya kita ajak ꧌ꦥꦼꦱꦼꦂꦡ꧍ peserta”, kata Arif di sela sela mendampingi tamu dari Jakarta dan Surabaya.

Diakui bahwa ꧌ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧍ aksara Jawa adalah aksara daerah, yang memang sudah menjadi tradisi lama di Gresik dan ꧌ꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶꦚ꧍ buktinya banyak aksara Jawa tertulis di tempat tempat bersejarah di Gresik.

Misalnya ada sebuah ꧌ꦥꦿꦯꦱ꧀ꦠꦶ꧍ prasasti, yang ditemukan di kawasan pegunungan kapur utara, dan tertulis di dinding goa Butulan Desa Gosari, Ujungpangkah, Gresik. Prasasti beraksara Jawa kuno ini ꧌ꦄꦱ꧀ꦭꦶ꧍ asli ditulis pada tahun 1298 saka. Terdapat nama ꧌ꦥꦼꦤꦸꦭꦶꦱ꧀꧍ penulis, yaitu San Rama Samadaya. Diperkirakan prasasti ini peninggalan zaman kejayaan ꧌ꦩꦙꦥꦲꦶꦠ꧀꧍ Majapahit abad 12 silam sebelum lahirnya Wali Sanga, termasuk Sunan Giri.

Dalam perkembangan zaman, perubahan pun terjadi, ꧌ꦠꦼꦂꦩꦱꦸꦏ꧀꧍ termasuk aksara Jawa Kuna yang berubah menjadi Aksara Jawa (baru) atau Hanacaraka. ꧌ꦱꦼꦩꦔꦠ꧀꧍ Semangat panitia penyelenggara “Pasar Panganan Giri Biyen” ini didukung Puri Aksara Rajapatni yang juga hadir dalam gelaran budaya pada ꧌ꦩꦶꦔ꧀ꦒꦸꦥꦒꦶ꧍ Minggu pagi  (18/1/26). (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *