Sejarah
Rajapatni.com: SURABAYA – Terus mencari dan menelusuri dimanakah letak Syurabhaya sebagai desa di tepian sungai (Naditira Pradesa) sebagaimana tersebut dalam prasasti Canggu (1358 M) yang dikeluarkan Raja Majapahit Hayam Wuruk. Menurut Prasasti tersebut letak Syurabhaya ꦯꦸꦫꦨꦪ berdasarkan prasasti Canggu berada di hilir sungai, anak sungai Brantas. Anak sungai Brantas itu adalah sungai Syurabhaya karena mengalir melalui wilayah Surabaya. Kali Surabaya itu pada zaman berikutnya dikenal dengan sungai Kalimas.
Ya, sungai Kalimas (d/h. Kali Surabaya) mengular ke muara dari Selatan ke Utara dan bercabang dua di Genteng. Anak cabang ini bernama Kali Pegirian. Sementara alur utama Kalimas dari Genteng, melewati Peneleh, Cantian, Krembangan, dan bermuara di Teluk Lamong.
Letak Syurabhaya
Lantas dimanakah Syurabhaya, yang menurut prasasti Canggu berada di bagian sungai paling hilir, di Utara Bungkul (Bkul) dan Pagesangan (Gsang). Dari pelacakan berdasarkan temuan arkeologi dan logika alami bahwa Syurabhaya ini diduga di kawasan Peneleh. Yakni suatu kawasan, yang berupa delta sungai. Yakni diantara sungai Kalimas dan sungai Pegirian.
Disanalah di Kampung Pandean IV ditemukan benda arkeologi berupa Sumur Jobong, sumur yang umum di era Majapahit. Penemuan itu ketika dilakukan penggalian untuk proyek gorong gorong pada 2018. Tidak cuma Sumur Jobong, juga ada batu bata kuno, tulang manusia dan tulang binatang. Menurut hasil penelitian di Australia, bahwa sumur Jobong itu sudah ada pada tahun 1430 M. Bisa jadi sumur dan tulang manusia sudah ada sebelum tahun 1430.
Sumur dan tulang adalah bukti otentik akan keberadaan kehidupan. Tulang bukti adanya manusia. Sedangkan sumur adalah bukti kebutuhan domestik manusia. Sumur Jobong ini letaknya lebih dekat ke aliran sungai Kalimas. Bisa diduga bahwa tempat diketemukannya sumur Jobong dan belulang manusia adalah kawasan permukiman di tepian sungai (Naditira Pradesa). Kawasan inilah yang diduga Syurabhaya.

Sejauh ini belum ada kawasan lain di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) di sisi Utara Bungkul yang ditemukan peninggalan arkeologi kehidupan manusia. Selain sumur Jobong dan belulang kehidupan, kawasan ini adalah kawasan padat penduduk dan perkampungan kuno.
Sulung Perkampungan Kuno
Tidak jauh dari Peneleh, yaitu di kawasan Sulung, dikenal sebagai tempat dan pusat pemerintahan klasik Surabaya. Titik pusat ini dikuatkan dengan pernah adanya bangunan kuno sebelum era Mataram (Islam) pada 1585 M atau akhir abad 16. Ketika masuk abad 17, tepatnya tahun 1612, VOC mulai masuk dan mendirikan Pos Dagang (Trading Post) di barat sungai Kalimas di kawasan, yang sekarang bernama Jembatan Merah (Asia Maior: Surabaja 1900 – 1950). Bangsa Eropa ini membuka lahan baru di Barat sungai Kalimas, yang tidak sekawasan dengan penduduk Pribumi, Pecinan, Melayu dan Arab.
Kampung Bangsawan

Karenanya kawasan diantara sungai Kalimas dan Pegirian (Peneleh, Pengampon, Semut, dan Ampel) adalah kawasan padat penduduk sejak dulu dan terhitung kawasan tua di Surabaya. Khususnya di kampung Peneleh adalah rumah bagi para keluarga bangsawan, para Raden Mas dan Raden Ayu). Keberadaannya terbukti dengan makam makam dengan nisan tertulis Raden. Pun demikian dengan rumah rumah penduduk yang berlabel Raden.

Kehidupan kuno ini juga didukung dengan keberadaan kampung Pecinan, yang awalnya dikenal dengan istilah Sishui atau daerah yang dikalangi empat air atau sungai. Pecinan Surabaya secara alamiah adalah kawasan, yang dikalangi oleh empat air atau sungai. Di Timur dan Barat ada Kali Pegirian dan Kalimas. Di Utara dan Selatan ada Kali Mati dan jalan Waspada, yang dulunya kanal penghubung Kalimas dan Pegirian.
Dari kepadatan penduduk dan penemuan arkeologi serta jejak jejak kehidupan manusia, maka diduga kuat Peneleh adalah Syurabhaya. (PAR/nng)
