Pegiat Budaya Muhammad Ma’arif (Arif): “Di masjid Sunan Giri ada tulisan aksara Jawa”.

Aksara Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Tidak dipungkiri bahwa di lingkungan Masjid Giri, Gresik, Jawa Timur, banyak ditemukan tulisan tulisan beraksara Pegon (Aksara Arab berbahasa Jawa). Ini karena masifnya penyebaran Agama Islam pada zamannya.

Apalagi Aksara Pegon ini dikenal sebagai ciptaan Sunan Ampel, yang menjadi tokoh sentral di Giri, dalam penyebaran ajaran Islam. Sunan Giri adalah murid dan menantu Sunan Ampel, yang juga merupakan guru spiritual dan mertua karena menikah dengan putri Sunan Ampel. Sementara Aksara Pegon ini beraksara Arab berbahasa Jawa sehingga mudah dipahami penduduk lokal tanpa harus menguasai bahasa Arab sepenuhnya.

Gapura masjid Sunan Giri Gresik. Foto: ist

Pegon adalah contoh akulturasi budaya, menggabungkan huruf Arab dengan fonetik bahasa Jawa, sehingga kitab-kitab agama, tafsir, dan materi keagamaan bisa ditulis dalam bahasa Jawa, yang akrab bagi masyarakat.

Pembiasaan penggunaan Aksara Pegon ini berjalan seiring dengan perubahan zaman. Tidak ada paksaan untuk menggunakan Aksara Pegon. Dua aksara Jawa dan Pegon awalnya menjadi tradisi tulis yang dipakai di Giri.

Meskipun banyak aksara Pegon di lingkungan Giri. Namun tidak berarti bahwa Aksara Jawa tidak ada. Menurut kolektor buku buku kuno, Muhammad Ma’arif, yang dalam akun Facebooknya menggunakan nama “Buku Raden Paku” bahwa di dalam masjid Sunan Giri masih ada tulisan beraksara Jawa.

Soko guru Masjid Sunan Giri Gresik. Foto: ist

“Di masjid Sunan Giri ada tulisan aksara Jawa, yang diukir di sabuk lempengan kuningan pada tiang kayu soko guru, yang mana selama ini gak ada orang yang tahu pak. Mohon bantuan kajian dari jenengan pak”, ujar Arif kepada Puri Aksara Rajapatni, komunitas pegiat aksara Jawa di Surabaya.

Aksara Pegon di Gresik terasa lebih “meriah” atau populer dibandingkan aksara Jawa karena fungsinya yang lebih melekat erat dengan tradisi pesantren, keagamaan, dan penyebaran Islam (dakwah) di wilayah tersebut. Aksara Jawa lebih sering digunakan dalam konteks budaya, pendidikan, atau sejarah, sedangkan Pegon hidup lebih umum dalam keseharian keagamaan.

Secara umum Aksara Jawa banyak ditemukan di Gresik baik dalam bentuk inskripsi di makam, di masjid dan termasuk pada manuskrip dan catatan catatan kuno yang masih ada di Gresik. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *