Pasar Panganan Giri Biyen Minggu Kliwon

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Semakin ada wadah, yang bisa menampung dan menyajikan warisan budaya, akan semakin bagus. Keberadaanya sangat krusial untuk melestarikan dan menyajikan warisan budaya agar tetap relevan. Kita tidak akan terputus dari peradaban leluhur. Peradaban leluhur adalah kekayaan dan sekaligus kebanggaan. Peradaban ini bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang memperkuat jati diri bangsa di mata dunia.

Peradaban leluhur itu ada yang berbentuk benda (tangible) maupun tak benda (intangible). Keduanya merupakan cerminan sejarah, nilai, dan jati diri bangsa, yang diwariskan turun-temurun.

Sebuah acara budaya yang bernama “Pasar Panganan Giri Biyen” baru saja digelar di Dusun atau Kampung Kajen, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Wadah ini menampung dan memamerkan khazanah warisan budaya, khususnya di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik.

Ada sekitar 100 item jenis jajanan dan makanan serta minuman tradisional khas Giri, yang berhasil dikumpulkan dan disuguhkan dalam acara budaya kuliner ini. Kebanyakan sudah terdengar asing atau sudah semakin hilang di era modern ini atau kalah oleh makanan yang dari mancanegara.

Menurut jajanan Giri Biyen. Foto: nng

Diantaranya ada awuk awuk sagu, emput, gemblong tape, gembos, gulung gulung, horok horok, Iwel Iwel, Jongkong, ketan lamaran, kowi, kupat Keteg, kuro kuro, masin, dan Pleret.

Sementara minuman tradisional ada Es bubur Gempol, es luwo dan es trancam serta wedang pokak.

Belum lagi aneka makanan tradisional nya. Karenanya, melalui acara seperti “Pasar Panganan Giri Biyen”, macam macam jajanan bisa diperkenalkan kembali. Bagi warga Gresik, khususnya desa Giri, makanan makanan itu mungkin tidaklah asing. Tapi keberadaannya di pasaran cenderung kalah oleh makanan dan jajan modern.

 

Benteng Budaya

Sebuah ide bagus bisa menghadirkan aneka jajanan, makanan dan minuman tradisional. Acara ini melengkapi khazanah sejarah Sunan Giri karena aneka jajanan dan kulineran itu adalah bagian dari peradaban di era Sunan Giri, misalnya Kupat Keteg.

Makanan langka banyak diserbu pengunjung. Foto: nng

Kupat Keteg rasanya gurih unik, tekstur kenyal, warna agak kecoklatan, dan disajikan dengan parutan kelapa serta siraman gula merah, menjadikannya makanan populer saat Ramadan dan Lebaran di kawasan Makam Sunan Giri.

“Kupat Keteg ini khususnya ada di Desa Giri, pas Ramadhan dan Lebaran”, kata Muhammad Ma’arif, Ketua Panitia Pasar Panganan Giri Biyen.

Pengunjung berjubel.. Foto: ist

Kelangkaan makanan ini menarik perhatian pengunjung. Mereka tidak hanya datang dari daerah sekitar dan Gresik saja, tapi juga berdatangan dari luar kota. Diantaranya Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Semarang hingga Jakarta.

Bahkan acara budaya ini menarik perhatian pegiat dan pemerhati warisan budaya, Nova Farida Lestari, Eksekutif Direktur Musee ID, yang sekaligus memberikan dukungan atas penyelenggaraan acara.

Pilih dan transaksi. Foto: nng

Kegiatan semacam ini selain dalam rangka melestarikan budaya, juga sekaligus memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat. Menurut Ketua Panitia, Muhammad Ma’arif, yang akrab dipanggil Arif, kegiatan ini dijadwalkan sebulan sekali pada Minggu Kliwon.

Acara Minggu Kliwonan itu juga dihadiri budayawan asal Gresik Kris Aji, sang pemerhati Damar Kurung.

Jika agenda penyelenggaraan telah diketahui masa, maka bisa menjadi agenda baik bagi penjual maupun pengunjung. Apalagi agenda ini bisa dikaitkan dengan kunjungan ke Makam Sunan Giri. (PAR/nng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *