Museum Pendidikan Surabaya Belum Punya Koleksi Beraksara Kawi.

Aksara Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Siapa yang sudah pernah berkunjung ke Museum Pendidikan Surabaya? Lokasinya ada di jalan Genteng Kali 10 Surabaya, tidak jauh dari kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur. Di museum ini ada ingatan kolektif bangsa terkait dengan bukti materiil pendidikan bangsa, terutama yang ada di Surabaya, mulai dari alat alat belajar, sepeda hingga alat cetak materiil belajar mengajar hingga aksara sebagai sarana penyampai pelajaran dan pendidikan.

Disana ada informasi tentang Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia karena perjuangannya mendirikan Taman Siswa pada 1922, menentang diskriminasi pendidikan kolonial, serta mencetuskan filosofi pendidikan yang berpusat pada karakter, kebudayaan, dan kemandirian murid, seperti “Tut Wuri Handayani,” yang kini menjadi dasar sistem pendidikan nasional kita, dan penetapan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei sebagai apresiasi jasa-jasanya.

 

Narasi Aksara

Di Museum Pendidikan Surabaya ada narasi dan koleksi yang mencakup masa pra-aksara hingga masa aksara (klasik, kolonial, kemerdekaan) yang menampilkan bukti materiil pendidikan, termasuk diorama manusia purba dan manequin pembelajaran tradisional di Pesantren, artefak aksara Jawa dan Pegon dalam bentuk kitab dan lontar hingga buku pelajaran zaman dulu seperti “Ini Budi”. Museum ini menyajikan sejarah pendidikan bangsa secara kronologis, terkhusus Surabaya sesuai nama museum pendidikan Surabaya mulai dari cara masyarakat Pra Aksara dalam mendidik hingga masa Aksara.

 

Aksara Jawa Kuno (Kawi) ada di Surabaya. Foto: nng

Narasi dari masa Pra Aksara ke masa Aksara ini penting sekali karena aksara menjadi sarana penting dalam proses pendidikan. Peralihan dari masa Pra Aksara menuju masa Aksara merupakan periode, yang sangat krusial dalam sejarah peradaban manusia, karena proses itu menandai dimulainya kemampuan manusia untuk merekam dan mentransmisikan informasi secara tertulis.

 

Aksara Landasan Fundamental

Penemuan dan penggunaan aksara menjadi landasan fundamental bagi proses pendidikan dan perkembangan budaya, dan memungkinkan pengetahuan untuk diwariskan lintas generasi dengan lebih akurat. Sebelum ditemukannya aksara, komunikasi dan pewarisan pengetahuan sangat bergantung pada tradisi lisan, yang rentan terhadap perubahan dan hilangnya informasi seiring berjalannya waktu. Dengan adanya aksara, manusia mulai mengembangkan sistem penulisan yang memungkinkan kodifikasi hukum, pencatatan sejarah, dan penyebaran ide-ide komplek.

Berbicara tentang aksara, di Surabaya ini ada ragam aksara yang patut dicatat dan dikoleksi serta disimpan di museum untuk menjaga ingatan kolektif. Selain aksara Jawa Hanacaraka dan Pegon, di Surabaya pernah ada juga aksara Kawi (Jawa Kuno) yang berkembang di kota ini. Bahkan nama Surabaya (Syurabhaya) saja ditulis dalam aksara Kawi sebagaimana tertulis dalam sumber otentik prasasti Canggu (1358 M) yang keberadaannya ada di Museum Nasional Indonesia (MNI) di Jakarta.

Nama Syurabhaya dalam Prasasti Canggu. Foto: nng

Selain itu pada arca Joko Dolog, yang umum dikenal sebagai perwujudan Raja Kertanegara dari kerajaan Singasari, juga tertulis dalam aksara Jawa Kuno atau Kawi. Termasuk di komplek Pesarean Agung Botoputih Pegirian Surabaya juga ditemukan Gentong Kuno, yang tertulis angka tahun dalam aksara Kawi. Aksara Jawa Kuno atau Kawi ini memiliki periode di Surabaya dan di Jawa Timur sebagai lokasi Kerajaan Majapahit dimana aksara Jawa Kuno digunakan.

Kata Syurabhaya dalam kotak warna biru. Foto: nng

 

Fakta Sejarah

Mengingat fakta itu, maka Museum Pendidikan Surabaya layak mengoleksi benda benda yang bertuliskan aksara Jawa Kuno atau Kawi, yang memang itu menjadi fakta sejarah khususnya terkait dengan Surabaya.

Misalnya Museum Pendidikan Surabaya seharusnya bisa membuat replika Prasasti Canggu, yang menjadi sumber sejarah nama Surabaya (Syurabhaya) dan menduplikat arca Joko Dolog, yang nyata nyata terdapat tulisan Aksara Jawa Kuno atau Kawi.

Aksara Kawi adalah fakta dan secara historis pernah digunakan di Surabaya pada eranya. Selama ini Museum Pendidikan Surabaya belum memiliki koleksi aksara Kawi sebagai aksara, yang pernah ada dan dipakai di Surabaya.

 

Menjaga Ingatan Kolektif

Arca Joko Dolog di Taman Apsari Surabaya. Foto: dok par

Demi menjaga ingatan kolektif, perlu segera diupayakan untuk menambah koleksi benda, yang beraksara Kawi di Museum Pendidikan Surabaya agar nama lembaga ini (Museum Pendidikan Surabaya) selaras dengan fungsi dan fakta historis lapangan.

Membaca aksara Kawi. Foto: dok par.

“Mudah sekali kok, tinggal menduplikat saja Prasasti Canggu dan arca Joko Dolog. Barangnya ada”, pungkas A. Hermas Thony, pengusul Aksara dalam Raperda Pemajuan Kebudayaan, Kejuangan dan Kepahlawanan Surabaya dan mengamati keberadaan aksara yang dikoleksi oleh museum. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *