Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Kota Surabaya kaya akan museum. Museum museumnya bersifat tematik. Diantaranya ada museum khusus Olahraga, museum pendidikan, museum Angkatan Laut, Museum Hidup Polrestabes dan museum kesehatan serta masih banyak lagi yang tersebar di kota Pahlawan ini.
Pendek kata, di manapun di kota ini menyimpan untaian cerita. Berdasarkan PP No 66 tahun 2015, pengertian museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat.
Secara konvensional museum adalah wadah yang berfungsi untuk mengumpulkan, memelihara, mempelajari, dan memamerkan artefak yang bernilai sejarah, seni, atau ilmiah kepada publik.
Ada juga artefak yang insitu (masih berada di tempatnya) dengan jumlah banyak dan tidak mungkin diboyong ke dalam ruangan tertutup seperti misalnya komplek perumahan Darmo Surabaya dengan koleksi bermacam macam rumah dan arsitektur kolonial. Ada juga kuburan Eropa Peneleh, yang menyimpan keanekaragaman model model kuburan. Tak ketinggalan Kota Tua zona Eropa. Selain itu masih ada lainnya yang berpotensi sebagai museum hidup dengan artefak yang insitu.
Museum Hidup
Potensi itu seperti gagasan Museum Sungai atau Air karena Surabaya ini tercatat sebagai daerah di pinggiran sungai (Naditira Pradesa). Dalam perkembangan zaman, Naditira Pradesa ini terus berkembang sesuai dengan masanya. Peneleh, Pengampon dan bahkan Pecinan jalan Karet adalah kawasan yang riwayatnya tidak lepas dari sungai. Semua ini perlu dinarasikan yang tidak mungkin diboyong ke dalam ruangan.

Dengan kekuatan narasi, apapun yang bernilai sejarah dapat diceritakan. Museum dapat mengubah benda mati menjadi cerita bermakna untuk mengedukasi, menghubungkan, dan membangkitkan emosi, menjadikannya alat kuat untuk membentuk pemahaman sejarah, budaya, dan identitas bangsa dengan menyampaikan informasi melalui penceritaan yang terstruktur dan relevan.
Namun ini membutuhkan sistem dan tata kelola yang baik sehingga dapat disajikan kepada publik sambil menikmati pengalaman nyata di lokasi dimana struktur, benda dan bangunan masih berada di tempatnya (insitu).
Untuk itu, tentu dibutuhkan alat yang bisa menghubungkan antara artefak (benda benda bersejarah) itu dengan masyarakat. Alatnya bisa seperti museum konvensional. Tetapi bila ada terobosan terobosan digital yang bisa dinikmati kapan saja dan dimana saja, ini tentu akan lebih bagus. Medianya seperti online museum.
Saat ini bukannya belum ada. Model museum online ini sudah ada dan bahkan melalui teknologi digital, pengunjung bisa melihat artefaknya secara visual dengan angle 360 derajat.
Museum online dengan visual 360 derajat ini adalah museum virtual di mana pengunjung dapat menjelajahi pameran dan ruang museum seolah-olah mereka berada di sana secara fisik, menggunakan navigasi imersif.
Pengunjung dapat melihat sekeliling (atas, bawah, kiri, kanan) dari satu lokasi, menciptakan sensasi “berada di sana” yang realistis.
Musee ID
Untuk menyajikan varietas museum digital, akan segera hadir museum digital serupa yang bernama Musee ID. Di Musee ID, pengelolanya percaya bahwa museum dan heritage bukan sekadar arsip sejarah, melainkan ruang hidup yang mampu menginspirasi inovasi, membangun identitas, dan memberdayakan komunitas.
Mereka menghadirkan ekosistem digital yang menghubungkan museum, generasi muda, profesional, peneliti, dan keluarga untuk merawat warisan Indonesia secara relevan dan inklusif
Musee ID tidak hanya mempertontonkan benda benda yang bernilai sejarah dan budaya, tetapi turut juga mengajak publik menggali sejarah secara inklusif untuk bersama merawat warisan budaya untuk kemudian berbagi kepada sesama. Musee ID adalah ruang interaksi dalam proses pembelajaran bersama yang bersumber pada sejarah dan warisan budaya bangsa.
Seiring dengan akan segera hadirnya Musee ID yang berpusat di Jakarta, ada perhatian terhadap object penting yang berangkat dari Jawa Timur. Yakni Leran, Gresik. (PAR/nng).
