Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Momen yang ditunggu-tunggu masyarakat Tionghoa di Kita sudah mencapai bulan Februari 2026, yang tidak lama lagi akan segera tiba, yaitu Imlek!. Tahun Baru Imlek tahun 2026 yang telah ditetapkan jatuh pada Selasa, 17 Februari. Tahun Baru Imlek kali ini adalah perayaan tahun ke-2577 dalam kalender lunar, kalender tradisional Tiongkok yang melambangkan siklus kehidupan dan perhitungan waktu berdasarkan bulan.
Di Jakarta persiapan Tahun Baru Imlek ini sudah terlihat di kawasan Pecinan Pancoran, yang merupakan kawasan tua di kota Jakarta. Pada Sabtu malam, (31/1/26), tim Puri Aksara Rajapatni, A. Hermas Thony (pembina) dan Nanang Purwono (ketua) yang ditemani Anastasia (warga Jakarta) mengunjungi kawasan ini dalam menjelang Perayaan Imlek 2026.

Kunjungan ke kawasan Pecinan ini adalah bagian dari kunjungan di Kota Tua Jakarta setelah sebelumnya mengunjungi Museum Bahari, Kota Tua di kawasan Taman Fatahillah, Museum Nasional, Kunstring Paleis dan dan Tugu Hotel di jalan Kali Besar. Bahwa dari kawasan Sunda Kelapa hingga kawasan Pecinan adalah kawasan pemukiman pada masa masa VOC ada di Batavia (sekarang Jakarta).
Pada kesempatan malam itulah keramaian kawasan Pecinan terlihat. Pancoran dan Tapak Enak menjadi wadah keramaian. Kawasan ini adalah pemukiman Pecinan Jakarta.

Pecinan Jakarta, khususnya di kawasan Glodok-Petak Enam dan Sembilan, masih tetap menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai dan padat penduduk. Dalam pengamatan Puri Aksara Rajapatni, kawasan bersejarah ini menggabungkan aktivitas komersial modern, seperti elektronik dan kuliner, dengan tradisi Tionghoa yang kental: toko obat tradisional, serta klenteng, menjadikannya salah satu kawasan cagar budaya dan destinasi wisata budaya tertua serta terbesar di Jakarta.

Nama “Petak Sembilan” dan “Petak Enam” di kawasan Glodok, Jakarta Barat, ini dinamakan berdasarkan sejarah lingkungan tersebut, yang dahulu dipenuhi rumah-rumah petak. Nama-nama ini merujuk pada blok atau urutan rumah petak tertentu (misalnya, petak keenam atau kesembilan) di kawasan Pecinan.
Petak Sembilan ini merujuk pada area spesifik di Glodok yang historis, yang terkenal dengan Kelenteng Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti) dan pasar tradisional yang menjual perlengkapan ibadah Tionghoa. Angka sembilan sering dikaitkan dengan penomoran blok rumah atau urutan area dalam sejarah pemukiman tersebut.
Sama halnya dengan Petak Enam. Nama ini diambil dari konsep historis rumah petak ke-enam, yang kini telah direvitalisasi menjadi pusat kuliner dan budaya. Ini merupakan area baru yang menonjolkan nuansa pecinan modern di kawasan Glodok.

Keduanya mencerminkan penataan hunian masa lampau di kawasan padat Glodok, Jakarta. Menyusuri jalan dan perkampungan tak ubahnya kawasan Pabean di Surabaya. Kawasan sejarah ini kontras dengan kawasan modern Jakarta yang penuh dengan gedung gedung pencakar langit.

Rumah rumah di kawasan Pecinan ini masih kaya dengan rumah rumah yang berarsitektur tradisional yang masih berpenghuni. Dalam kawasan itu bercampur antara permukiman dan pasar. Ada yang menjual makanan, buah buahan, pakaian termasuk barang barang kebutuhan ibadah dan perayaan Imlek. Warna merah menjadi ciri khas.
Tidak ketinggalan klenteng yang masih berdiri di jalan Kemenangan. Klenteng yang masih berdiri kokoh dan bersejarah di kawasan Jalan Kemenangan, Glodok, Jakarta Barat ini, adalah Vihara Dharma Bhakti (Klenteng Jin De Yuan/Kim Tek Ie), yang dibangun pada 1650, dan Vihara Dharma Jaya Toasebio (didirikan 1755) yang terletak di Jalan Kemenangan III. Keduanya merupakan tempat ibadah tertua dan ikonik di area Pecinan Glodok.

Untuk memenuhi dan mewadahi aktivitas ekonomi dan budaya, di tengah tengah pemukiman di dibangun gedung baru yang di dalamnya tersedia aneka kuliner dan hiburan. Pada malam malam menjelang Imlek, wadah ini sudah terlihat ramai pengunjung. Kawasan Pecinan Jakarta ini berbeda dari Pecinan Surabaya. Pecinan Jakarta masih berpenghuni dan beraktivitas seni budaya dan ekonomi (perdagangan). Aktivitas ini menjaga dinamika kawasan bersejarah Jakarta yang sudah ada sejak abad 17.
Sementara Pecinan Surabaya sudah banyak ditinggalkan warga etnis Tionghoa dan berpindah di kawasan baru. Sementara kawasan Pecinannya lebih berfungsi sebagai wadah perdagangan dan bisnis, seperti di jalan Kembang Jepun dan sekitarnya.
Kawasan Pecinan Jakarta, yang berpusat di kawasan Glodok, terletak di sebelah selatan atau selatan-barat daya dari kawasan Kota Tua Jakarta. Kawasan ini berjarak cukup dekat, hanya beberapa menit perjalanan dari pusat bersejarah Kota Tua (sekitar area Kali Besar/Stasiun Jakarta Kota) ke arah Taman Sari, Jakarta Barat.
Perjalanan malam itu di kawasan Pecinan Jakarta berakhir di Café Batavia di Kota Tua Jakarta. (PAR/nng)
