Budaya, Sejarah, Literasi
Rajapatni.com: SURABAYA – Bangsa Indonesia memiliki warisan budaya yang sangat banyak. Bahkan terlalu banyak baik yang bersifat tangible maupun intangible. Secara praktis kenali apa yang ada di daerahmu secara lokal agar realistik.
Mengenal warisan budaya daerah secara lokal sangat penting karena budaya tersebut merupakan jati diri dan identitas unik yang membedakan satu komunitas atau daerah dengan lainnya di tengah arus globalisasi.
Budaya lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi karakter bangsa yang mengandung nilai-nilai luhur dan kearifan hidup (wisdom).
Penguatan Identitas Diri (Jati Diri). Ini adalah upaya mengenal budaya daerah yang dapat membantu masyarakat, khususnya generasi muda, memahami akar budaya sendiri, sehingga tidak kehilangan jati diri di era modern.
Benteng terhadap pengaruh asing. Pelestarian budaya lokal bertindak sebagai penyaring arus budaya asing, yang tidak sesuai dengan nilai dan norma setempat.
Mengenal warisan budaya lokal adalah proses penanaman karakter dan budi pekerti. Budaya lokal mengandung nilai-nilai luhur, etika, dan kebiasaan baik dari nenek moyang yang membentuk karakter masyarakat yang beradab.
Selain itu, perlu disadari bahwa warisan budaya lokal adalah aset ekonomi dan pariwisata. Warisan budaya, baik fisik (tangible) maupun non-fisik (intangible) memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata dan industri kreatif.
Pada gilirannya, menjaga, melestarikan dan memajukan warisan budaya lokal adalah proses menumbuhkan rasa bangga (pride) dan menghargai (appreciation). Dengan mengenal warisan budaya lokal maka akan muncul rasa memiliki dan kebanggaan, yang memicu keinginan untuk merawat dan melestarikan tradisi tersebut agar tidak punah.
Caranya macam macam. Salah satunya yang sedang dilakukan oleh komunitas aksara Jawa Surabaya, Puri Aksara Rajapatni, adalah mengapresiasi Kota Lama Surabaya dengan penulisan buku dan sarasehan. Ini semata mata untuk membuka pintu kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya (heritage) lokal.



Sudah ada sejumlah buku yang diterbitkan. Mulai dari “Surabaya beraksara Nusantara” (2023), “Titi Tikus Ambeg Welas Asih” (2023), “Meneropong Sejarah Surabaya dari Sungai Kalimas” (2024), “Bung Bebek en Dewi Melati” (2025), “Serial Sketsa Kota Lama Surabaya” (2026 sedang on proses), “Soerabaja: Footprints of Heroic Heritage” (2026 – on progress) serta ” Titi Tikus Ambeg Welas Asih Seri 2“. Selain itu akan ada lagi rencana penerbitan Kota Lama Surabaya serial Pecinan dan Ampel serta ainnya tentang Surabaya.



Dengan demikian, mengenal budaya lokal berarti menjaga keberlangsungan jati diri bangsa dan merawat kekayaan intelektual komunal yang tak ternilai harganya. (PAR/nng)
