Budaya Literasi
Rajapatni.com: SURABAYA – Di tengah kekhawatiran dan ancaman terhadap warisan Budaya di Surabaya, masih ada saja pihak pihak yang terus peduli akan kelestariannya. Mereka bukan membangun dan membentengi secara fisik. Karena tentu masalah biaya dan ranah kepemilikan warisan budaya itu bukan pada mereka.
Namun mereka ikut menjaga melalui cara cara lain seperti jalur budaya dan karya. Mereka menjaga ingatan publik melalui karya seni sketsa, yang diwujudkan dalam bentuk literasi buku. Mereka menjaga ingatan kolektif. Benda dan bangunan, yang mungkin saja sudah tidak ada, masih tetap bisa disentuh. Yaitu melalui karya seni sketsa.

Karya sketsa berbeda dari karya photography. Melalui sketsa gambar, sesuatu yang tiada ada bisa, bisa ditambahkan sebagai pelengkap dan pemanis dalam ruang bingkai. Sketsa bisa jadi sebuah karya, yang berbasis fakta yang tertangkap oleh kamera atau pengamatan langsung, yang bisa ditambahkan sesuatu sesuai dengan perspektif pembuat sketsanya (sketcher) agar tampak lebih bagus.
Berbeda dengan photografi yang hasilnya adalah tangkapan (capturing) sesuai dengan fakta aslinya.
Kota Lama Surabaya berisi sejuta inspirasi, yang terlalu sayang dibiarkan seiring dengan berjalannya waktu yang disertai dengan perubahan perubahan sebagai dampaknya. Entah kapan akan terjadi perubahan perubahan itu. Yang jelas sekarang sudah sedang bergulir upaya membingkai kota lama Surabaya dalam sebuah buku.

Buku ini tidak dikerjakan secara tunggal, tapi bersifat komunal alias gotong royong. Yaitu dikerjakan dengan dukungan pihak pihak lainnya yang sadar akan pentingnya pelestarian melalui cara cara lain, misalnya melalui karya seni sketsa yang lantas dikemas menjadi buku.
Pesan di atas tersebut menjelaskan bahwa sebuah buku dibuat secara kolaboratif (gotong royong) oleh banyak pihak, bukan hasil karya satu orang saja.
Pihak-pihak yang terlibat tersebut tentunya memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya upaya pelestarian (mungkin sejarah, budaya, atau lingkungan) melalui pendekatan kreatif, yaitu dengan membuat karya seni sketsa yang kemudian dibukukan.
Kolaborasi ini juga tampak dari pemakaian bahasa dan aksara sebagai deskripsi sketsa. Ada dua aksara. Yaitu aksara Jawa dan aksara Latin. Serta bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda.

Penggunaan bahasa asing tersebut menjadi jembatan dalam penyampaian pesan. Jembatan bahasa ini diwujudkan dengan kolaborasi dengan Netwerk Internationale Nederlandistiek Asie (NINA), yang berkantor pusat di Belgia. Sehingga pada gilirannya pesan buku ini dapat terdistribusikan ke Eropa dan Suriname dimana bahasa Belanda digunakan.
Secara lokal penerbitan buku ini juga tidak lepas dari peran pihak pihak lokal seperti Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya dan menyusul Wismilak sebagai entitas yang peduli warisan budaya. Masih akan ada lagi entitas lainnya.
Buku Sketsa Kota Lama Surabaya ini tidak hanya sekedar buku tetapi sarana diplomasi budaya bagi Surabaya yang berjuluk Kota Global, Inklusif dan Kooperatif. Buku ini menarasikan tempat bersejarah, khususnya di kawasan Kota Lama Surabaya melalui sketsa visual, yang menjadikannya sebagai media promosi warisan sejarah dan budaya yang unik kepada dunia internasional.

Melihat pentingnya kawasan ini sebagai wadah nilai sejarah dan budaya, maka kolaborasi ini sangat relevan karena karya ini menjadi jembatan kerjasama lokal, nasional dan global.
Dengan demikian, sinergi ini menjadikan kawasan Kota Lama Surabaya tidak hanya sebagai situs mati, tetapi sebagai warisan yang hidup, terawat, dan relevan di era globalisasi. Penerbitan Gotong Royong ini adalah upaya merawat ingatan kolektif bangsa. (PAR/nng)
